RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan dukungannya atas pembangunan pabrik baru PT Robert Bosch Indonesia di kawasan Deltamas, Cikarang, Kabupaten Bekasi. Pabrik berteknologi tinggi itu dinilai menjadi tonggak penting dalam memperkuat kapasitas manufaktur nasional, khususnya di sektor otomotif dan pengembangan kendaraan rendah emisi karbon.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Setia Diarta yang mewakili Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan apresiasi atas komitmen investasi Bosch yang terus memperluas kegiatan industrinya di Indonesia.
“Hari ini merupakan tonggak penting dalam rencana jangka panjang Bosch untuk memperluas kapasitas manufaktur nasional melalui pengembangan industri berteknologi tinggi,” ujar Setia di Cikarang, Jawa Barat, Rabu (19/11/2025).
Ia menyampaikan bahwa sektor industri manufaktur Indonesia terus mencatat kinerja positif dan tetap menjadi motor penggerak perekonomian nasional. Berdasarkan data BPS Triwulan III-2025, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,58 persen (YoY), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04 persen. Sektor tersebut juga berkontribusi 17,39 persen terhadap PDB dan menyerap 20,31 juta tenaga kerja.
Baca juga : Bosch Bangun Pabrik Baru Berkonsep Modular Di Cikarang
Setia menambahkan bahwa kontribusi sektor manufaktur terhadap investasi nasional mencapai 37,73 persen, sementara ekspornya menyumbang 81 persen terhadap total ekspor nasional. Dengan tingkat utilisasi yang berada pada angka 59,28 persen, ia menilai peluang ekspansi industri masih sangat besar, sejalan dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) dan PMI yang tetap berada pada level ekspansif.
Dari perspektif global, kinerja manufaktur Indonesia juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan laporan World Bank dan United Nations Statistics, Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia pada 2024 mencapai 265,07 miliar dolar AS, menempatkan Indonesia di peringkat ke-13 dunia dan tertinggi di kawasan ASEAN.
Namun demikian, laporan UNIDO menunjukkan bahwa orientasi manufaktur Indonesia masih didominasi pasar domestik, dengan sekitar 80 persen produksi diserap pasar dalam negeri. “Struktur industri kita menunjukkan pangsa domestik masih dominan sehingga ruang hilirisasi dan orientasi ekspor masih sangat besar untuk dikejar,” kata Setia.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti peran strategis subsektor otomotif. Pada Triwulan III-2025, sektor kendaraan bermotor berkontribusi 1,28 persen terhadap PDB nasional, dengan kapasitas produksi roda empat mencapai 2,39 juta unit per tahun dan roda dua–tiga mencapai 11,2 juta unit per tahun.
Baca juga : Propan Komit Wujudkan Pembangunan yang Berkualitas dan Berkelanjutan
Ekspor kendaraan juga menunjukkan performa kuat. Produksi KBM roda empat mencapai 850 ribu unit pada Januari–September 2025, dengan ekspor completely built-up (CBU) 380 ribu unit atau hampir 45 persen dari total produksi. Untuk roda dua dan tiga, ekspor CBU mencapai 410 ribu unit dari total produksi 5,25 juta unit.
“Peningkatan aktivitas industri kendaraan bermotor dapat memberikan dampak pengganda yang besar. Koefisien backward linkage mencapai 2,07 dan forward linkage 2,40, menunjukkan tingginya keterkaitan industri ini terhadap sektor hulu maupun hilir,” ujar Setia.
Ia menegaskan bahwa pembangunan pabrik Bosch akan memberikan kontribusi penting pada program kendaraan rendah emisi atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) sebagaimana diatur dalam Permenperin Nomor 36 Tahun 2021. Program itu telah diikuti 15 perusahaan dengan nilai investasi Rp 22,37 triliun dan produksi kumulatif 878 ribu unit hingga September 2025.
“Kami berharap pabrik baru Bosch dapat memperkuat rantai pasok kendaraan rendah emisi, termasuk dalam pemenuhan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) untuk kategori Battery Electric Vehicle. Kehadiran Bosch sangat strategis karena perusahaan juga akan memproduksi Battery Management System (BMS), komponen berteknologi tinggi untuk kendaraan listrik,” ujarnya.
Baca juga : HKI Usulkan PPN Turun Bertahap Ke 8 Persen Untuk Pacu Industri Dan Ekonomi
Bosch telah beroperasi di Indonesia sejak 2008 dan kini aktif di empat sektor bisnis: otomotif, teknologi industri, consumer goods, serta energy and building technology. Di Cikarang, perusahaan telah memproduksi ECU, electric cooling fan, dan wiper untuk pasar domestik maupun ekspor.
“Sebagai penutup, kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada PT Robert Bosch Indonesia atas komitmennya dalam memperluas investasi. Pabrik baru ini akan menjadi milestone penguatan ekosistem industri otomotif nasional dan mendukung percepatan transformasi menuju industri hijau dan berdaya saing global,” kata Setia.
Ia berharap, pembangunan pabrik dapat berjalan lancar, tepat waktu, serta memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kapasitas industri dalam negeri dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.