RM.id Rakyat Merdeka - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) berharap, kebijakan Pemerintah yang menempatkan dana Rp 200 triliun di bank-bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bisa menjadi dorongan kuat bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Jika dana jumbo itu tersalurkan dengan baik, pergerakan ekonomi diyakini bakal lebih kencang.
“Dari sisi kredit dan likuiditas, stimulus Rp 200 triliun seharusnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lewat lonjakan kredit. Pertumbuhan kredit mesti naik signifikan untuk mengakselerasi perekonomian,” kata Direktur Program INDEF, Eisha M. Rachbini, dalam Seminar Nasional Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026: Menata Ulang Arah Ekonomi Berkeadilan, di Jakarta, Kamis (20/11/2025).
INDEF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di level 5,0 persen. Proyeksi ini dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global, pemulihan konsumsi domestik yang belum optimal, serta pasar kerja yang masih didominasi sektor informal.
Baca juga : Electricity Connect 2025 Dukung Kemandirian Energi & Pertumbuhan Ekonomi Nasional
“Dinamika ekonomi global masih diwarnai ketidakpastian. Perang dagang kemungkinan berlanjut. Kami menilai pertumbuhan ekonomi ada di angka lima persen,” ujar Eisha.
Di kesempatan yang sama, Ekonom INDEF, Didin S. Damanhuri, menegaskan penyaluran kredit dari dana Rp 200 triliun perlu memprioritaskan penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi bisa lebih inklusif dan dampaknya terasa hingga lapisan masyarakat terbawah.
“Dana Rp 200 triliun yang disalurkan dari Bank Indonesia ke lima bank BUMN itu bagaimana agar mendorong pemerataan? Cita-cita Presiden Prabowo ingin pertumbuhan lewat pemerataan, maka orientasi pembangunan inklusif harus diperinci,” tuturnya.
Baca juga : BI-Rate Tetap 4,75 Persen, Pertumbuhan Ekonomi Terus Digenjot
Ekonom INDEF lainnya, Aviliani, menilai stimulus Rp 200 triliun memberikan efek positif ke dunia usaha. Ia menyebut suku bunga perbankan mulai turun sejak pemerintah menggulirkan dana tersebut.
“Sejak ada dana Rp 200 triliun dari pemerintah di bank-bank BUMN, suku bunga langsung turun. Ketika diguyurkan, suku bunga turun, permintaan mulai bertambah,” kata Aviliani.
Namun, ia mengingatkan, penempatan dana jumbo itu harus dibarengi kebijakan lain dari kementerian dan lembaga agar dampaknya maksimal.
Baca juga : Tamsil Linrung: Daerah Dorong Pertumbuhan 8 Persen
“Banyak keinginan Presiden Prabowo yang bagus, tapi belum terimplementasi. Bank itu follow the business. Kebijakan pemerintah harus diarahkan, investor itu mau masuknya ke mana,” ujarnya, menutup.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.