BREAKING NEWS
 

AGTI: Keterbatasan Product Development Bikin Merek Global Masih Impor

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : FAZRY
Kamis, 4 Desember 2025 12:36 WIB
Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI), Anne Patricia Sutanto melakukan audiensi dengan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, beserta jajaran Kementerian Keuangan di Gedung Juanda, Jakarta Pusat, Selasa (2/12/2025).

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI), Anne Patricia Sutanto, menegaskan bahwa penyederhanaan regulasi dan penguatan industri tekstil nasional menjadi kunci meningkatkan daya saing sekaligus menekan maraknya pakaian bekas impor (thrifting).

Hal ini disampaikan usai audiensi AGTI dengan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, beserta jajaran Kementerian Keuangan di Gedung Juanda, Jakarta Pusat, Selasa (2/12/2025).

Anne menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar memenuhi kebutuhan tekstil nasional dan menembus pasar global.

Namun, tantangan struktural dan standar internasional masih menghambat optimalisasi kapasitas industri.

Ia menilai pemerintah telah menunjukkan komitmen mendukung kelancaran importasi bahan baku yang belum dapat dipenuhi pasar domestik, sehingga koordinasi lintas kementerian perlu diperkuat agar pasokan tidak terhambat aturan tumpang tindih.

Baca juga : Antusiasme Tinggi Warnai Program Member Development PSSI di Merauke

“Kalau regulasinya disimplify, daya saing akan naik. Pemerintah punya kemauan untuk mendukung, tinggal penyelarasan kebijakannya,” katanya.

Menurut Anne, impor tetap dibutuhkan, terutama untuk bahan baku tertentu yang belum tersedia atau belum memenuhi standar mutu global.

Keterbatasan product development di sejumlah pabrik lokal membuat banyak merek internasional masih memilih bahan impor demi memenuhi spesifikasi teknis dan standar keberlanjutan.

“Product development kita masih kurang. Itu sebabnya beberapa brand internasional lebih memilih bahan impor,” ujarnya.

Adsense

Anne menjelaskan bahwa kemampuan industri lokal sebenarnya ada, tetapi tidak merata.

Baca juga : Kehadiran Prabowo Di KTT BRICS Momentum Bangkitnya Diplomasi Indonesia

Tantangan terbesar terletak pada pemenuhan standar Environmental, Social and Governance (ESG) yang mencakup aspek lingkungan, sosial, hingga penggunaan energi ramah lingkungan.

Banyak pabrik belum mampu memenuhi seluruh persyaratan tersebut. “Kalau standar lingkungan, izin, upah minimum, sampai energi non-pool terpenuhi, produk lokal sebenarnya bisa diterima brand internasional,” paparnya.

Dalam praktiknya, bahan kain untuk pesanan merek global masih banyak diimpor karena sebagian pabrik belum mampu menghasilkan kualitas konsisten sesuai standar internasional, terutama untuk segmen performance fabric dan sustainable textile.

“Kita bisa kompetitif, tapi produksinya belum cukup banyak dan belum cukup cepat,” tegas Anne.

Ia menambahkan bahwa kebutuhan bahan baku untuk busana muslim dan kerudung sebagian besar sudah dapat dipenuhi produsen dalam negeri.

Baca juga : API Nilai Keputusan Pemerintah Soal BMAD Sudah Tepat

Namun, jenis kain tertentu yang membutuhkan teknologi finishing khusus atau handfeel tertentu masih harus diimpor karena tidak semua pabrik memiliki fasilitas yang memadai.

“Secara kapasitas bisa, tapi spesifikasi tertentu masih harus impor,” jelasnya.

Anne menilai ketersediaan bahan baku dan penguatan industri lokal dapat mengurangi ketergantungan masyarakat pada produk thrifting.

Namun, penurunan thrifting tak hanya bergantung pada kapasitas produksi nasional, tetapi juga pada penegakan regulasi serta perubahan perilaku pasar.

“Kalau daya saing naik, supply lokal kuat, otomatis thrifting akan berkurang. Tapi tetap butuh kepastian regulasi,” ujarnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense