RM.id Rakyat Merdeka - Peneliti agribisnis, Dian Novita Susanto resmi meraih gelar Doktor Sains Agribisnis IPB University setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Inflasi Relatif Harga Beras, Proses Politik, dan Tata Kelola Rantai Nilai Beras di Indonesia: Pendekatan New Institutional Economics".
Penelitian yang dilakukan sepanjang 2023-2025 ini menghasilkan temuan penting. Di mana, beras bukan komoditas penyumbang utama inflasi nasional, berlawanan dengan persepsi publik selama ini. Berdasarkan analisis data deret waktu 2017-2023, inflasi lebih banyak dipengaruhi oleh komoditas seperti minyak goreng, daging sapi, cabai, dan bawang putih.
Sementara, stabilitas harga beras relatif lebih terjaga akibat intervensi pemerintah. Temuan tersebut diperkuat melalui kajian kelembagaan pada rantai nilai beras di Kabupaten Karawang dan Indramayu.
Baca juga : Tingkatkan Tata Kelola Informasi, Ditjenpas Resmikan Media Center PASOPATI
“Persoalan beras tidak hanya soal ekonomi dan harga, tetapi merupakan hasil interaksi antara kelembagaan, politik, dan relasi kekuasaan dalam rantai nilai,” kata Dian dalam sidang promosi doktoralnya seperti dikutip pada Selasa (9/12/2025).
Dian juga menemukan temuan kunci penelitian yang menyebutkan sejumlah poin bahwa beras bukan komoditas penyumbang utama inflasi nasional. Yakni fluktuasi harga beras tidak memiliki pengaruh dominan terhadap inflasi nasional. Struktur rantai nilai beras masih timpang, dengan petani berada pada posisi tawar terlemah karena dominasi tengkulak dan minimnya kontrak formal.
Skor kelembagaan rantai nilai di Karawang dan Indramayu tercatat sangat rendah, yaitu 1,27–1,36 dari skala 3, yang menunjukkan lemahnya governance dan tingginya biaya transaksi. Kebijakan stabilisasi beras di Indonesia lebih sering menjadi instrumen politik untuk menjaga legitimasi, bukan murni untuk efisiensi ekonomi.
Baca juga : Tito Minta Kepala Daerah Siaga Dan Petakan Zona Rawan Bencana
"Biaya transaksi terbesar berasal dari biaya informasi (66,67 persen), menandakan lemahnya transparansi pasar," tambah Dian.
Adapun penelitian ini mengintegrasikan dua pendekatan yang jarang disatukan dalam studi pangan di Indonesia. Pertama, analisis ekonometrik inflasi nasional dan pendekatan New Institutional Economics (NIE) untuk menilai tata kelola dan relasi antar aktor. Kombinasi ini memberikan gambaran komprehensif mengenai bagaimana kebijakan, kelembagaan, dan struktur pasar membentuk dinamika harga beras dan stabilitas pangan nasional.
Dian mengusulkan reformasi kelembagaan pangan nasional melalui empat poin. Pertama, redefinisi kebijakan stabilisasi berbasis komoditas substitusi. Kedua, penguatan koordinasi antar lembaga melalui sistem satu data. Ketiga, transformasi kelembagaan petani dan skema kemitraan berkelanjutan. Keempat, penguatan institusi informal menuju formalisasi bertahap dan adaptif.
Baca juga : Kemenhut Dorong Penguatan Tata Kelola Kemitraan Antara PBPHH dengan Masyarakat
Diketahui, penguji doktor kali ini ialah Prof. Saptana, Prof. Harianto. Sedangkan, pembimbing disertasi yakniDr. Suharno, Prof. Rita Nurmalina, dan Prof. Nunung Nuryartono.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.