BREAKING NEWS
 

Penjualan Mobil Babak Belur, Industri Otomotif Masih Butuh Insentif

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Senin, 22 Desember 2025 09:45 WIB
Pameran Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW). (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejumlah pabrikan otomotif menilai insentif fiskal masih diperlukan untuk memulihkan penjualan mobil yang belum pulih. Dengan adanya insentif, penjualan mobil bisa meningkat pada 2026.

Marketing Director PT Toyota-Astra Motor (TAM) Jap Ernando Demily mengatakan, pengalaman penerapan insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) pada 2021 menjadi contoh nyata bagaimana stimulus kebijakan mampu mendongkrak pasar. Pada saat itu, penjualan kendaraan tercatat meningkat hingga 66,8 persen dibanding 2020, atau periode awal pemulihan pasca pandemi COVID-19.

“Secara historis, insentif fiskal menjadi salah satu kebijakan krusial untuk menstimulasi pertumbuhan pasar. Berkaca pada kondisi saat ini, market masih belum mengalami pertumbuhan positif sepanjang tahun. Rasanya intervensi stakeholder masih sangat dibutuhkan untuk mendorong produksi dalam negeri, dengan tujuan membangun industri otomotif secara komprehensif dari hulu ke hilir,” kata Ernando.

Baca juga : Menko Airlangga: Hilirisasi Dan Industrialisasi Kunci Indonesia Naik Kelas

Ia menambahkan arah kebijakan yang berlaku saat ini, khususnya insentif kendaraan elektrifikasi, perlu dievaluasi tidak hanya dari aspek penjualan, tetapi juga kontribusinya dalam memperkuat struktur industri. Keseimbangan antara peningkatan permintaan dan keberlanjutan sektor otomotif menjadi salah satu faktor penting.

Pandangan serupa disampaikan Marketing Director PT Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy. Ia menilai insentif berpotensi membantu konsumen dalam menentukan pembelian, terlebih pada situasi pasar yang lesu. Meski demikian, ia menilai berbagai faktor makroekonomi masih menjadi penentu utama capaian penjualan nasional.

Adsense

“Honda melihat insentif sebagai salah satu faktor yang dapat mendorong permintaan dan mempermudah keputusan pembelian kendaraan. Namun pencapaian volume hingga satu juta unit perlu dikaji lebih lanjut karena dipengaruhi kondisi ekonomi dan daya beli,” ujar Billy.

Baca juga : Jelang Tutup Tahun, Industri Asuransi Jiwa Alami Pertumbuhan dan Penguatan

Billy menambahkan pelaku industri tetap berharap arah kebijakan pemerintah dapat mendukung pertumbuhan yang adil bagi seluruh teknologi kendaraan, baik konvensional maupun elektrifikasi. Menurutnya, kebijakan insentif perlu berorientasi jangka panjang serta mendukung penguatan ekosistem industri nasional.

Tidak hanya pabrikan Jepang, produsen otomotif asal China seperti Jetour turut menilai insentif yang langsung menyentuh konsumen akan memberikan dampak cepat bagi pasar. Menurut Marketing Director PT Jetour Sales Indonesia Moch Ranggy Radiansyah, kondisi daya beli masyarakat yang masih berhati-hati menjadikan stimulus penting sebagai pemicu peningkatan penjualan.

“Ya, pasti kalau insentif yang impact-nya direct ke konsumen, itu akan ada impact ke penjualan secara langsung. Tapi secara general Jetour mendukung gerakan pemerintah terutama yang terkait industri,” ujar Ranggy.

Baca juga : Penjualan Mobil Babak Belur, Industri Otomotif Butuh Insentif

Terkait wacana mobil nasional, Jetour menilai diskusi tersebut masih terus berkembang dan dipantau pelaku industri. Menurut Ranggy, pihaknya masih memonitor kebijakan terkait sekaligus melakukan pembahasan internal.

“Soal mobil nasional ya itu masih dalam ongoing discussion sebetulnya dari sisi pemerintah juga. Jadi kita masih terus monitor, baik itu impact-nya maupun movement-nya,” katanya.

Pelaku industri berharap stimulus kebijakan mampu menjaga momentum sektor otomotif agar tetap bertahan, sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru pada 2026. Pemerintah dinilai memiliki peran strategis untuk memastikan agar insentif dapat menyeimbangkan keberlanjutan industri, kebutuhan konsumen, serta target kebijakan jangka panjang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense