BREAKING NEWS
 

Bencana Sumatera Ganggu Sektor Industri

Pemerintah Bakal Percepat Pemulihan IKM Terdampak

Reporter : DIDI RUSTANDI
Editor : FAZRY
Senin, 5 Januari 2026 06:30 WIB
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, penguatan langkah pemulihan menjadi agenda utama rapat perdana Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada awal 2026. Foto: Dok. Kemenperin

RM.id  Rakyat Merdeka - Bencana alam di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara berdampak pada aktivitas industri dan perekonomian nasional. Sebab itu, Pemerintah akan melakukan beberapa langkah untuk mempercepat pemulihan industri yang terdampak di tiga provinsi tersebut.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, penguatan langkah pemulihan menjadi agenda utama rapat perdana Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada awal 2026. Khususnya bagi Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang terdampak bencana di wilayah Sumatera dan Aceh.

Agus menuturkan, rapat tersebut menjadi langkah awal untuk memastikan pemulihan sektor industri berjalan cepat, terkoordinasi dan berkelanjutan pascabencana yang terjadi pada akhir 2025.

Baca juga : OJK Gandeng PPATK Telusuri Transaksi DSI

Bencana alam, kata Agus, tidak hanya berdampak pada masyarakat dan infrastruktur, tetapi juga mengganggu aktivitas industri, khususnya IKM.

Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), di Sumatera Utara terdapat 3.520 industri kecil, 115 industri menengah dan 490 industri besar. Di Sumatera Barat tercatat 3.464 industri kecil, 17 industri menengah dan 78 industri besar. Sedangkan di Aceh terdapat 1.954 industri kecil, 7 industri menengah dan 46 industri besar.

“Dari hasil laporan yang kami himpun hingga 30 Desember 2025, dampak paling besar pada sektor IKM terjadi di Aceh dengan 1.647 industri terdampak. Diikuti Sumatera Barat sebanyak 367 industri dan Sumatera Utara sebanyak 52 industri,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (4/1/2025).

Baca juga : Perayaan Di Jakarta Digelar Sederhana, Sampah Malam Tahun Baru Menurun Drastis

Menurutnya, dampak bencana tidak hanya berasal dari kerusakan fisik fasilitas produksi. Namun juga gangguan sistemik pada rantai pasok dan logistik.

Terputusnya akses jalan dan jembatan, terganggunya distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM), serta ketidakstabilan pasokan listrik dan air, membuat banyak industri harus menghentikan sementara produksi atau beroperasi jauh di bawah kapasitas normal.

Bagi industri manufaktur yang bersifat just-in-time dan padat logistik, gangguan pasokan bahan baku selama beberapa hari saja sudah cukup untuk menghentikan lini produksi dan menimbulkan kehilangan output yang tidak kecil.

Adsense

Baca juga : Arsenal Lebih Hebat Dari ‘The Invincibles’

Dengan pendekatan kebijakan berbasis pangsa nilai tambah, dampak banjir di Sumatera dan Aceh diperkirakan menahan nilai tambah manufaktur nasional pada kisaran Rp 11 triliun–Rp 15 triliun.

Nilai tersebut merupakan nilai tambah yang hilang atau tertunda sementara, bukan kerusakan permanen terhadap kapasitas industri nasional. Dalam jangka pendek, dampak tersebut dirasakan terutama pada subsektor yang sangat bergantung pada kelancaran distribusi regional, seperti agroindustri, makanan dan minuman, kimia dasar, serta industri berbasis komoditas.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense