RM.id Rakyat Merdeka - Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) Riyanto menilai penurunan pasar otomotif nasional dalam hampir satu dekade terakhir dipicu melemahnya daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah.
Riyanto mengatakan, pasar otomotif Indonesia cenderung stagnan dalam hampir 10 tahun terakhir dan bahkan menunjukkan tren penurunan pascapandemi Covid-19. Kondisi tersebut erat kaitannya dengan harga mobil yang meningkat, sementara pertumbuhan pendapatan masyarakat tidak mengalami kenaikan signifikan.
“Intinya sebenarnya satu, daya beli. Harga mobil lebih tinggi dibandingkan pendapatan masyarakat secara umum. Pertumbuhan ekonomi kita hanya sekitar 5 persen, kadang kurang, kadang sedikit di atas 5 persen, sehingga pendapatan per kapita tidak naik sebesar periode dasawarsa sebelumnya,” kata Riyanto.
Baca juga : Mengenal John Herdman, Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ia menjelaskan, tekanan paling tajam terjadi pada kelompok kelas menengah yang jumlahnya terus menyusut. Pada 2019, kelompok menengah diperkirakan berada di kisaran 57 juta jiwa, namun pada 2024 jumlahnya turun sekitar 9–10 juta orang, sehingga tersisa sekitar 47 juta jiwa.
Menurut Riyanto, kelompok ini selama ini menjadi penopang utama pasar otomotif karena memiliki kecenderungan mengganti kendaraan dalam periode tiga hingga lima tahun. Namun, akibat tekanan ekonomi, siklus pergantian kendaraan kini menjadi lebih panjang.
Selain itu, terdapat pula kelompok calon pembeli pertama (first buyer) yang sebenarnya memiliki kemampuan membeli mobil, tetapi menunda pembelian atau beralih ke pasar mobil bekas. Pergeseran tersebut turut berkontribusi terhadap penurunan penjualan mobil baru.
Baca juga : Diungkap Jaksa Di Persidangan, Penukar Valas Rp 68 M Orang Dekat Nurhadi
“Kalau dibandingkan dengan 2013, penurunan pasar mobil baru sekitar 30 persen. Sementara itu, pasar otomotif secara keseluruhan masih tumbuh jika memasukkan penjualan mobil bekas hingga 2024,” ujarnya.
Riyanto menambahkan, kelompok masyarakat yang tidak menikmati pertumbuhan ekonomi dalam lima tahun terakhir, yakni periode 2019–2024, merupakan kelompok menengah yang paling terdampak. Dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen, kelompok ini tidak memperoleh porsi pertumbuhan yang cukup sehingga mengalami penyusutan.
“Kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab utama melemahnya pasar otomotif nasional,” kata Riyanto.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.