Sebelumnya
Ia memastikan, pemerintah terus memperkuat koordinasi kebijakan melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dengan dukungan DPR, Purbaya optimistis sinergi kebijakan dapat mendorong seluruh mesin ekonomi bergerak lebih cepat.
Sementara itu, Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun meminta BI dan pemerintah segera merespons pelemahan rupiah agar tidak menggerus kepercayaan pasar. Menurutnya, Komisi XI telah meminta KSSK bergerak aktif merespons tekanan nilai tukar.
“Kami meminta kepada Gubernur Bank Indonesia, termasuk seluruh stakeholders, untuk melakukan upaya-upaya yang sungguh-sungguh,” ujar Misbakhun di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Baca juga : Prabowo Bertemu PM Starmer, Hubungan RI-Inggris Makin Erat
Ia menilai tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi domestik karena indikator fundamental masih terjaga. Pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan cadangan devisa (cadev) berada pada level yang solid.
Meski demikian, Misbakhun menekankan sentimen pasar menjadi faktor krusial yang harus segera direspons oleh otoritas. DPR mendorong adanya langkah nyata untuk meredam volatilitas dan memulihkan kepercayaan pelaku pasar.
Terkait langkah konkret, Misbakhun menilai intervensi moneter tetap diperlukan sepanjang dilakukan secara profesional. “Penggunaan cadangan devisa yang terukur untuk intervensi adalah hal yang lumrah dalam kebijakan moneter,” katanya.
Baca juga : Diumumkan KPK, Bupati Pati Jadi Tersangka
Dari kalangan analis, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menyatakan, pelemahan rupiah erat kaitannya dengan potensi tekanan fiskal sepanjang 2026. Menurutnya, defisit APBN berpotensi melebar hingga 3 persen.
Proyeksi defisit yang meningkat tersebut mengindikasikan pemerintah kemungkinan kembali mengandalkan penerbitan surat utang untuk menutup kebutuhan pembiayaan, di tengah penerimaan perpajakan yang belum optimal.
Liza juga menyoroti anomali di pasar keuangan. Meski rupiah menjadi mata uang terlemah di kawasan Asia, IHSG justru terus mencetak rekor baru. Fenomena ini didorong oleh kuatnya arus dana asing yang tercatat sekitar Rp 6,6 triliun masuk ke pasar saham dan instrumen SRBI dalam dua hari terakhir.
Baca juga : Wakil Bupati Gugat Bupati Rp 25,5 Miliar
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menambahkan, penguatan IHSG belakangan ini tidak semata ditopang saham-saham konglomerasi yang sepanjang tahun lalu menjadi penggerak utama indeks.
“Jika diperhatikan, kinerja IHSG saat ini tidak hanya didorong saham-saham konglomerasi. Dalam beberapa waktu terakhir juga terdapat inflow yang cukup baik ke sektor perbankan sebagai weighting terbesar IHSG,” ujar Michael.
Ia menjelaskan, aliran dana tersebut tercermin dari pergerakan saham perbankan besar yang mulai stabil. “Empat bank besar ini tidak mencetak new low lagi,” katanya. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.