RM.id Rakyat Merdeka - Data Bada Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Desember 2025 di wilayah yang tedampak bencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) mencatatkan inflasi. Namun, di Januari 2026, ketiga wilayah itu mengalami deflasi.
Pada Desember 2025, di Aceh terjadi inflasi 3,6 persen, Sumut 1,6 persen, dan Sumbar 1,48 persen. Angka inflasi Aceh pada akhir 2025 ini menjadi yang tertinggi dibandingkan eluruh kota di Indonesia.
Di Januari 2026, laju inflasi yang tinggi di masing-masih provinsi tersebut berbalik menjadi deflasi. Aceh mencatat deflasi -0,15 persen, Sumut deflasi -0,75 persen, dan Sumbar deflasi -1,15 persen.
Baca juga : OJK & Pemerintah Kebut Reformasi Pasar Modal
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasari mengatakan, penyebab terjadinya deflasi di ketiga wilayah tersebut dikarenakan harga-harga komoditas sudah menurun pascabencana di akhir November 2025.
"Ini juga menjadi bukti bahwa upaya Pemerintah untuk mempercepat pemulihan, mulai dari pembukaan akses jalan dan sarana infrastruktur dasar lainnya sudah membuahkan hasil," kata Amalia, dalam keterangan, Rabu (4/2/2026).
Amalia kemudian merinci berbagai jenis komoditas yang harnya sudah turun di wilayah yang terdampak bencana teresbut. Untuk Aceh, komoditas penyumbang deflasi paling tinggi adalah telur ayam ras, cabe merah, beras, bahan bakar rumah tangga, dan minyak goreng.
Baca juga : Kebutuhan Air Bersih di Sumbar Terus Dipasok, Pembuatan Sumur Bor Diperbanyak
Untuk Sumut, komoditas yang harganya sudah turun dan menyumbang deflasi di antaranya cabe merah, cabe rawit, kelapa, bawang merah, dan bayam. Sedangkan di Sumbar, penyumbang deflasi paling tinggi yaitu cabe merah, tarif air minum PAM, bawang merah, tarif angkutan antarkota, dan cabe hijau.
"Jadi Secara umum, komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar di ketiga wilayah tersebut. Ini menandakan wilayah yang terdampak bencana perlahan mulai pulih Kembali," tegas Kepala BPS.
Ekonomi RI Catat Deflasi di Januari 2026
Pada Januari 2026, secara bulanan, Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,15 persen. Deflasi ini terjadi akibat penurunan IHK dari 109,92 pada Desember 2025 menjadi 109,75. Penurunan harga secara umum tersebut mencerminkan melemahnya tekanan harga pada awal tahun.
Baca juga : Berguinho Siap Kerja Keras Pertahankan Puncak Klasemen
BPS mencatat, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi bulanan terbesar dengan penurunan sebesar 1,03 persen dan andil deflasi mencapai -0,30 persen.
Komoditas utama yang mendorong deflasi pada kelompok ini adalah cabe merah dengan andil deflasi 0,16 persen, diikuti cabe rawit 0,08 persen, bawang merah 0,07 persen, daging ayam ras 0,05 persen, dan telur ayam 0,03 persen. Selain itu, bensin dan tarif angkutan udara juga memberikan andil deflasi masing-masing sebesar 0,03 persen.
Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang memberikan andil inflasi pada Januari 2026. Emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,16 persen, disusul ikan segar sebesar 0,06 persen dan tomat yang memberikan andil inflasi 0,02 persen.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.