BREAKING NEWS
 

Moody’s Pertahankan Rating Baa2, Ekonomi Indonesia Tetap Kuat & Tahan Banting

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Kamis, 5 Februari 2026 23:49 WIB
Foto: dok. BI

RM.id  Rakyat Merdeka - Lembaga pemeringkat Moody's mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada Baa2 dan melakukan penyesuaian outlook menjadi negatif, Kamis (5/2/2026).

Dalam laporannya, Moody's menyatakan bahwa afirmasi rating Indonesia pada Baa2 mencerminkan ketahanan ekonomi yang tetap kuat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang stabil dan solid, serta didukung oleh kekuatan struktural termasuk sumber daya alam dan demografi yang menguntungkan, yang menopang prospek pertumbuhan jangka menengah.

Afirmasi rating Indonesia juga didukung oleh kredibilitas kebijakan moneter dan kehati-hatian fiskal yang terjaga, yang mendukung stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Sementara itu, revisi outlook dipengaruhi oleh pandangan Moody's terhadap risiko penurunan kepastian kebijakan, yang apabila berlanjut, dapat berimplikasi terhadap kinerja perekonomian. 

Menanggapi keputusan Moody's tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menegaskan, outlook tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia.

"Di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global, kinerja ekonomi domestik tetap solid," kata Perry dalam keterangan resmi, Kamis (5/2/2026).

Hal itu antara lain ditunjukkan oleh pertumbuhan  ekonomi pada Triwulan IV 2025 yang mencapai 5,39 persen, sehingga secara keseluruhan tahun 2025 tumbuh 5,1 persen. Inflasi tetap terjaga pada 2,92 persen, dan berada dalam kisaran sasaran.

Baca juga : JMI Sarankan Penanganan Terorisme Tetap Di Tangan Polri

"Stabilitas nilai tukar Rupiah terus diperkuat melalui komitmen kuat Bank Indonesia," ujar Perry.

Selain itu, stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah.

"Digitalisasi sistem pembayaran tetap terjaga, ditopang oleh infrastruktur yang stabil X. Struktur industri yang sehat, juga turut mendukung pertumbuhan ekonomi," papar Perry.

Moody's memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada pada kisaran 5 persen dalam jangka pendek hingga menengah, dengan ketahanan ekonomi yang terjaga.

Moody's memperkirakan, defisit fiskal tetap  berada di bawah 3 persen PDB. Sementara kebijakan moneter, dipandang akan terus mendukung stabilitas inflasi.

Adsense

Moody's juga memperkirakan, rasio utang Pemerintah terhadap PDB akan tetap akan terjaga rendah di bawah peers. Namun demikian, menurut Moody's, Indonesia masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan basis penerimaan, yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas makro dan keuangan.

Dalam hal ini, Moody's mengapresiasi upaya Pemerintah untuk mendorong penerimaan, antara lain melalui peningkatan efisiensi administrasi perpajakan dan kepabeanan. 

Baca juga : IHSG Tertekan, Airlangga Tegaskan Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat

Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah akan tetap solid dengan tren meningkat, didukung inflasi yang terkendali.

Pertumbuhan ekonomi tahun 2026 diprakirakan meningkat di kisaran  4,9-5,7 persen, ditopang kenaikan permintaan domestik yang sejalan berbagai kebijakan Pemerintah. Serta berlanjutnya dampak positif dari bauran kebijakan Bank Indonesia.

Kinerja positif tersebut diprakirakan akan terus meningkat pada 2027, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,1-5,9 perseb, serta inflasi yang akan tetap terkendali.

Ketahanan Eksternal Kuat  

Ketahanan eksternal perekonomian Indonesia juga tetap kuat di tengah gejolak global. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) terjaga sehat, ditopang oleh kinerja neraca perdagangan yang solid.

Neraca perdagangan pada Desember 2025 mencatat surplus sebesar 2,51 miliar dolar AS, didukung oleh ekspor nonmigas berbasis sumber daya alam maupun manufaktur.

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 meningkat menjadi sebesar 156,5 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

NPI pada tahun 2026 diperkirakan tetap baik, dengan defisit transaksi berjalan yang tetap rendah dalam kisaran defisit 0,9-0,1 persen PDB.

Nilai Tukar Rupiah Stabil Menguat 

Baca juga : Jelang Ramadan, MR.D.I.Y Indonesia Siap Penuhi Kebutuhan Rumah Tangga

Nilai tukar Rupiah diprakirakan akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat. Hal ini didukung imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia, serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas Rupiah.

Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang kuat, serta risiko kredit yang rendah. 

Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan​ di tengah ketidakpastian global yang meningkat. Serta bersinergi erat dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan Program Asta Cita Pemerintah.

"BI akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah untuk memperkuat komunikasi kebijakan, dalam rangka memelihara kepercayaan pasar," pungkas Perry. 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense