RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat ekosistem industri perkapalan nasional sebagai bagian dari strategi industrialisasi untuk mentransformasi sistem logistik nasional, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan daya saing industri manufaktur Indonesia.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan penguatan industri galangan kapal menjadi langkah strategis seiring kembalinya sektor industri pengolahan sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pada 2025, pertumbuhan industri pengolahan mencapai 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen. Ini menunjukkan sektor industri kembali menjadi penarik utama perekonomian nasional,” kata Agus dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Pemberdayaan Angkutan Laut dan Galangan Kapal Nasional di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Menperin menjelaskan kontribusi industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025 tercatat sebesar 19,07 persen atau setara Rp4.541,52 triliun. Capaian tersebut menegaskan peran sektor manufaktur sebagai kontributor dominan perekonomian nasional sekaligus fondasi transformasi sistem logistik berbasis industri.
Baca juga : Menperin: Audit BPK 2025 Momentum Perkuat Akuntabilitas
Menurut Agus, penguatan industri galangan kapal bukan lagi sekadar opsi kebijakan, melainkan keharusan strategis karena memiliki keterkaitan ke belakang dan ke depan (backward and forward linkages) yang luas terhadap berbagai subsektor ekonomi.
“Industri galangan kapal memiliki dampak berganda karena melibatkan rantai pasok bahan baku, komponen, teknologi, pembiayaan, sumber daya manusia, hingga jasa logistik. Pengembangannya menjadi kebutuhan strategis bagi struktur industri nasional,” ujarnya.
Dalam transformasi sistem logistik nasional, sektor angkutan laut dinilai menjadi tulang punggung distribusi antarwilayah Indonesia. Peningkatan aktivitas logistik membutuhkan penguatan armada kapal nasional yang sejalan dengan kapasitas industri galangan kapal dalam negeri.
Saat ini, Indonesia memiliki sekitar 342 galangan kapal yang tersebar di 29 provinsi, didukung puluhan ribu tenaga kerja serta fasilitas produksi yang mampu membangun berbagai jenis kapal hingga kapasitas besar.
Baca juga : Sergio Castel Bakal Jadi Andalan Persib Buat Cetak Gol
Menperin menegaskan ekosistem industri perkapalan mencakup integrasi rantai pasok bahan baku dan komponen, kesiapan teknologi dan peralatan produksi, regulasi yang kondusif, kompetensi sumber daya manusia, skema pendanaan, serta infrastruktur logistik yang efisien.
Meski memiliki kapasitas yang memadai, industri perkapalan nasional masih menghadapi tantangan struktural, terutama tingginya ketergantungan impor bahan baku dan komponen kapal serta rendahnya permintaan pembangunan kapal baru.
“Pada aspek Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), ketergantungan impor masih menjadi tantangan utama. Implementasi kebijakan TKDN sesuai Perpres Nomor 46 Tahun 2025 dan Permenperin Nomor 35 Tahun 2025 diharapkan dapat menumbuhkan industri komponen kapal nasional,” jelas Agus.
Ia menambahkan, persoalan utama industri galangan kapal bukan keterbatasan fasilitas, melainkan minimnya order pembangunan kapal yang berkelanjutan sehingga tingkat utilisasi masih rendah.
Baca juga : Presiden Prabowo Bertekad Turunkan Biaya Haji Untuk Rakyat Indonesia
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah strategis, antara lain penyederhanaan perizinan, dukungan pembiayaan berbunga rendah, perluasan Penugasan Khusus Ekspor (PKE) sebagai instrumen substitusi impor, serta optimalisasi fasilitas fiskal.
Selain itu, kebijakan penetapan pelabuhan entry point bagi produk impor tertentu diharapkan mampu meningkatkan kebutuhan armada kapal nasional, memperkuat asas cabotage, serta memberikan efek berganda bagi pertumbuhan industri galangan kapal dan industri pendukungnya.
Menperin juga menyebut program prioritas pembangunan 975 unit kapal sebagai peluang besar bagi industri galangan kapal nasional, mengingat kapasitas produksi dalam negeri mencapai sekitar 1.242 unit kapal per tahun.
“Saya meyakini industri maritim nasional memiliki potensi besar menjadi tulang punggung sistem logistik dan konektivitas Indonesia. Dengan sinergi kebijakan dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, industri perkapalan nasional dapat tumbuh lebih kuat dan berdaya saing,” kata Agus.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.