RM.id Rakyat Merdeka - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengapresiasi langkah Pemerintah mengeluarkan sejumlah paket ekonomi untuk menjaga kinerja dunia usaha. Stimulus ekonomi yang diluncurkan Pemerintah, sangat membantu pelaku usaha dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Pengakuan itu disampaikan Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani. Menurut Shinta, ketidakpastian global masih menjadi faktor risiko utama yang memengaruhi kinerja ekspor, investasi, dan sentimen pelaku usaha. Shinta mengapresiasi berbagai paket kebijakan ekonomi yang dirilis di tengah tantangan global, mulai dari kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump hingga konflik geopolitik di berbagai kawasan.
“Artinya pertumbuhan tahun ini sangat bergantung pada efektivitas transmisi kebijakan fiskal, moneter, dan reformasi struktural,” kata Shinta kepada Rakyat Merdeka, Minggu (15/2/2026).
Meski mengapresiasi stimulus Pemerintah, para pelaku usaha mengingatkan masalah biaya logistik yang masih belum kompetitif. Shinta menyebut hal ini sebagai bagian dari beban ekonomi biaya tinggi atau high cost economy.
Baca juga : Mudahkan Pegawai Mudik Lebaran, Pramono Siapkan WFA & Format Jaga Layanan
Pihaknya siap bekerja sama dengan Pemerintah menghadapi tekanan global. Namun, kerja sama ini memerlukan komitmen kuat untuk penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan di lapangan.
Bos Sintesa Group ini menceritakan, dalam pertemuan Apindo dengan Presiden Prabowo Subianto beberapa waktu lalu, Presiden menyatakan sangat memahami persoalan birokrasi. Implementasi di lapangan seringkali dianggap tidak sejalan dengan semangat penyederhanaan aturan dan prosedural.
Untuk meningkatkan daya saing nasional, Shinta menegaskan bahwa Pemerintah tidak boleh hanya bertumpu pada perjanjian perdagangan. Pembenahan struktural di dalam negeri, seperti penguraian hambatan (debottlenecking), deregulasi, serta efisiensi biaya produksi, menjadi kunci agar produk Indonesia mampu bersaing.
Optimisme Pertumbuhan
Baca juga : Murka Dikalahkan Inter Milan, Nyonya Tua Desak Ketua Wasit Mundur
Sebelumnya, dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (13/2/2026), Prabowo menegaskan komitmennya untuk mempermudah jalur ekspor. Pemerintah berencana membuka pelabuhan serta lapangan terbang untuk memfasilitasi ekspor langsung.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan bahwa peningkatan ekspor menjadi pilar utama menuju target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Sepanjang tahun 2025, ekspor komoditas nonmigas tercatat tumbuh 7,66 persen.
Dua komoditas andalan, yakni kelapa sawit (CPO) dan turunannya serta besi baja, mencatatkan performa impresif. Sektor industri pengolahan juga berkontribusi besar dengan pertumbuhan mencapai 14,47 persen.
“Ekspor kita, khususnya komoditas nonmigas, merupakan pilar penting mendorong pertumbuhan ekonomi. Bahkan ekspor ke Amerika mampu tumbuh lebih dari 16 persen, di tengah dinamika kebijakan tarif dari Presiden Trump,” terang Airlangga. DIR
Baca juga : Sikat Yastremska, Janice Tjen Mulai Langkah Manis
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Senin, 16 Februari 2026 dengan judul "Membantu Hadapi Ketidakpastian Global, Pebisnis Acungi Jempol Kebijakan Paket Ekonomi"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.