Dark/Light Mode

Dampak Kebijakan Ekonomi Mulai Terasa

Daya Beli Membaik, Likuiditas Longgar

Minggu, 15 Februari 2026 07:50 WIB
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Foto: Rizki Syahputra/RM)
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Foto: Rizki Syahputra/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Upaya pemerintah dalam mendorong perekonomian mulai menunjukkan hasil positif. Sejumlah kebijakan ekonomi yang diterapkan dinilai mampu memperbaiki daya beli masyarakat. 

“Pada tahun ini, dampak kebijakan ekonomi mulai terasa. Daya beli membaik, likuiditas longgar, dan aktivitas usaha meningkat,” ujar Chief Economist Macro Strategist & Debt Research Division Head PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Helmy Kristanto, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (14/2/2026). 

Dengan kondisi tersebut, ia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisa ran 5,1–5,3 persen. Proyeksi ini juga mengacu pada Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia yang naik ke level 127 poin, tertinggi dalam satu tahun terakhir. 

Dari sisi perbankan, uang beredar dalam arti luas (M2) tercatat tumbuh 9,6 persen dan penyaluran kredit mulai ekspansif. Hal ini menandakan aktivitas ekonomi domestik semakin bergerak. 

Sementara itu, dari sisi instrument investasi, pelonggaran suku bunga global dinilai membuka peluang arus modal masuk ke negara emerging markets seperti Indonesia. Stabilitas ekonomi domestik yang terjaga, inflasi terkendali, serta konsumsi yang kuat menjadi faktor pendukung. 

Dalam kondisi tersebut, Helmy menilai instrumen obligasi perlu dicermati sebagai penyeimbang portofolio investasi. Kombinasi saham dan instrumen pendapatan tetap (fixed income) dinilai menjadi strategi untuk menjaga stabilitas hasil investasi. 

Baca juga : Soal Kabar Ditunjuk Jadi Wantimpres, Jokowi Pilih Di Solo Saja

“Biasanya kondisi seperti ini diikuti penguatan pasar modal. Investor yang disiplin memiliki peluang besar untuk menangkap pertumbuhan tersebut,” kata Helmy. 

Sementara, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pemerintah berhasil menjaga momentum pemulihan ekonomi melalui penguatan likuiditas. Peningkatan likuiditas menjadi kunci agar roda ekonomi terus bergerak setelah sempat mengalami perlambatan. 

Purbaya menjelaskan, otoritas fiskal memastikan jumlah uang beredar (base money) kembali naik ke level yang memadai untuk membiayai pertumbuhan ekonomi. Dampaknya, aktivitas konsumsi masyarakat mulai meningkat. 

“Momentum yang terjadi ini bukan kita ciptakan sendiri, tetapi hasil kerja bersama seluruh pihak dalam perekonomian,” kata Purbaya dalam Indonesia Economic Outlook di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026). 

Ia juga menepis pandangan sejumlah pengamat luar negeri yang meragukan kemampuan Indonesia memperbaiki ekonomi akibat lemahnya daya beli masyarakat. “Saya buktikan bahwa dengan kebijakan yang tepat, daya beli bisa didorong naik,” tegas mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tersebut. 

Ke depan, Purbaya meminta masyarakat tidak khawatir terhadap prospek ekonomi nasional. Pemerintah, katanya, memahami cara menjaga pertumbuhan sekaligus mengendalikan stabilitas harga. 

Baca juga : Kirim Kapal Induk Ke Timur Tengah, Trump Gertak Iran

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meyakini ekonomi Indonesia pada 2026 dapat tumbuh hingga 5,6 persen. Angka ini lebih tinggi dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 5,4 persen. 

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan mendorong kinerja empat sektor prioritas, yakni pertanian, manufaktur, digital, dan energi. Keempat sektor ini dinilai menjadi motor penggerak utama ekonomi 2026. 

Selain sektor prioritas, pertumbuhan ekonomi juga ditopang implementasi sejumlah program strategis pemerintah yang memiliki efek berganda (multiplier effect). Airlangga menyebut sedikitnya tiga program utama yang akan digencarkan, yakni program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP), serta pembangunan tiga juta rumah. 

“Program ini diharapkan menjadi sumber pertumbuhan yang menyerap tenaga kerja, mengakselerasi produktivitas, serta menjadi penggerak pembiayaan non-APBN,” ujarnya dalam Indonesia Economic Outlook di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026). 

Ia menambahkan, Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 8 persen dalam lima tahun mendatang. Untuk mewujudkan target tersebut, reformasi struktural jangka menengah dan panjang dinilai sangat penting. 

Langkah yang diperlukan antara lain menggerakkan mesin pertumbuhan ekonomi secara bersamaan, mulai dari percepatan belanja pemerintah untuk menjaga permintaan hingga perbaikan iklim usaha guna mendorong ekspansi dunia usaha. Mesin produksi, baik melalui belanja pemerintah, investasi pelaku usaha, maupun Danantara, harus bergerak harmonis. 

Baca juga : Nurul Fatta: Tujuannya Hanya Untuk Posisi Strategis Dan Loyalis

“Didukung kebijakan yang terprediksi serta sistem keuangan, baik perbankan maupun pasar keuangan, yang semakin dalam,” kata Airlangga. 

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia. Ia menilai berbagai kebijakan pemerintah telah memberikan dampak terhadap kinerja makroekonomi. 

“Kita bangkit bersama. Indonesia bukan saja raksasa yang tertidur, tetapi harus bangkit menjadi raksasa yang mampu berdiri dan membangun kehidupan lebih baik bagi rakyatnya,” tutupnya. [UMM/MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.