Dark/Light Mode

Nikita Willy Didik Anak, Waspada Terjerumus Medsos

Senin, 16 Februari 2026 06:00 WIB
Nikita Willy. Foto: Instagram/nikitawillyoffi cial94
Nikita Willy. Foto: Instagram/nikitawillyoffi cial94

RM.id  Rakyat Merdeka - Nikita Willy memberikan tips bagus mendidik anak di era digital yang patut menjadi masukan untuk orangtua. Menurutnya, konten bagus tentang anak orang lain di media sosial (medsos) belum tentu tepat dijadikan bahan untuk mendidik anak sendiri.

Nikita mengungkapkan, tekanan menjadi orangtua hari ini bukan cuma soal biaya sekolah atau memilih dokter anak terbaik. Tantangan terbesar justru datang dari layar ponsel.

Setiap hari, medsos menampilkan potret anak-anak yang terlihat lebih cepat bicara, lebih aktif, lebih berani, bahkan tampak lebih pintar. Tanpa sadar, orangtua pun mulai membandingkan. Nikita menilai, fenomena ini sebagai salah satu tantangan parenting terbesar di era digital.

Baca juga : Janji Purbaya Ke Anak Muda: Ke Depan, Loker Bakal Melimpah

“Kekhawatiran itu hal yang wajar dan menurut aku itu bagus banget. Itu artinya kita peduli dengan anak kita,” jelas Nikita.

Namun yang perlu diwaspadai ketika kekhawatiran berubah menjadi tekanan karena terlalu sering membandingkan.

“Jangan pernah membandingkan anak kita dengan anak lain. Apalagi dengan standar di media sosial,” ujarnya.

Baca juga : Budget Terbesar Sepanjang Sejarah Untuk Makan Bergizi

Dalam praktiknya, membandingkan anak bisa berdampak panjang. Orangtua menjadi mudah merasa kurang. Anak pun berisiko tumbuh dengan beban ekspektasi yang tidak sesuai tahap perkembangannya.

Nikita menekankan, apa yang tampil di medsos sering kali hanya potongan momen terbaik. Publik tidak pernah benar-benar tahu proses di baliknya, apakah anak itu memang berkembang lebih cepat, atau sekadar momen yang kebetulan terekam.

“Setiap anak itu unik dan mereka memiliki journey-nya sendiri,” tegasnya.

Baca juga : Daya Beli Membaik, Likuiditas Longgar

Pernyataan itu bukan sekadar teori. Nikita merasakannya langsung setelah memiliki dua anak, Issa Xander Djokosoetono dan Nael Idrissa. Meski dibesarkan oleh orangtua yang sama, keduanya memiliki karakter dan kebiasaan berbeda.

Ada yang nyaman makan di high chair. Tetapi, ada juga yang menolak. Ada yang menyukai jenis makanan tertentu, ada yang tidak. Perbedaan itu membuatnya sadar bahwa pola asuh tidak bisa diseragamkan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.