RM.id Rakyat Merdeka - Sejumlah pihak mendesak PT Agrinas Pangan Nusantara membatalkan rencana impor 105.000 mobil pick up dari India untuk operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Alasannya, industri otomotif dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) Putu Juli Ardika menerangkan, kapasitas produksi kendaraan pick up anggota GAIKINDO mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun. Saat itu, jumlah tersebut belum terserap optimal.
"Anggota GAIKINDO dan juga industri-industri pendukung komponen otomotif mempunyai kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tentu diperlukan waktu memadai agar jumlah dan kriterianya dapat dipenuhi," ujar Putu Juli, dalam keterangan resminya, Sabtu (21/2/2026).
Ketua Umum Asosiasi Perkumpulan Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif (PIKKO Indonesia) Rosalina Faried ikut berbicara. Dia menyebut, langkah impor pick up dari India bakal membuat goyah keberlangsungan ekosistem industri otomotif nasional.
Dia pun memastikan, kemampuan industri dan komponen otomotif dalam negeri sudah sangat mumpuni memenuhi kebutuhan. Anggota PIKKO dan UMKM telah berpengalaman dan siap menjadi pemasok pabrikan kendaraan dalam negeri, khususnya kendaraan desa.
Karena itu, Faried meminta, Pemerintah membatalkan atau membatasi kendaraan yang diimpor dari India. “Beri kesempatan produsen lokal menjadi pemasok kebutuhan kendaraan operasional KDKMP. Karena akan meningkatkan kemandirian industri lokal, memperluas lapangan kerja, meningkatkan pendapatan pajak negara,” ucapnya.
Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman Yustinus H Gunawan menyuarakan hal yang sama. Dia meminta Pemerintah memikirkan ulang rencana impor 105.000 unit pick up dari India dalam bentuk kendaraan utuh. “Tolong pertimbangkan struktur dan kapasitas industri komponen domestik,” ucapnya.
Baca juga : Sertifikasi Halal Berlaku untuk Semua Makanan dari Amerika
Dia menerangkan, salah satu sektor yang berpotensi terdampak dari impor itu adalah industri kaca pengaman untuk kendaraan bermotor dan industri kaca lembaran sebagai pemasok bahan baku utama.
"Kebijakan impor kendaraan bentuk utuh itu akan mengurangi sekitar 10 persen permintaan kaca pengaman. Jadi, tolong kebijakan impor lebih selektif," katanya.
Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Indonesia ikut mengimbau agar Pemerintah membatalkan rencana impor ini. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri Saleh Husin menerangkan, impor mobil dalam bentuk utuh berpotensi menekan industri otomotif dalam negeri, serta tidak sejalan dengan agenda industrialisasi yang didorong Presiden Prabowo Subianto.
Saleh Husin mengatakan, Kadin telah menerima pandangan dari pelaku industri otomotif dan asosiasi mengenai rencana impor itu. "Setelah menerima pandangan dari pelaku industri otomotif dan asosiasi kami mengimbau batalkan rencana impor 105.000 unit kendaraan niaga ini," kata Saleh, dalam keterangan resminya, Minggu (22/2/2026).
Saleh lalu mengaitkan rencana impor itu dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Menurutnya, target itu hanya dapat dicapai jika industri dalam negeri bertumbuh dan mampu menciptakan nilai tambah. Industri otomotif punya efek berganda besar karena keterkaitan hulu dan hilir yang luas.
Impor kendaraan utuh, sambungnya, berdampak langsung terhadap industri perakitan dan industri komponen otomotif sebagai bagian dari backward linkage yang menopang produksi kendaraan bermotor di dalam negeri. "Jika pasar didominasi kendaraan impor dalam bentuk utuh, industri komponen nasional ikut tertekan dan agenda hilirisasi serta industrialisasi dapat melemah," papar Saleh.
Desakan juga muncul dari Senayan. Wakil Ketua Komisi VI DPR Nurdin Halid menyebut, kebijakan impor dengan nilai anggaran sangat besar tidak boleh diputuskan semata-mata atas dasar efisiensi harga. Kebijakan harus dihitung secara komprehensif dan dipertimbangkan dampaknya terhadap industri nasional, tenaga kerja, dan struktur ekonomi dalam negeri.
Baca juga : Tembus 50 Ribu/Kg, Giliran Ayam yang Harganya Naik
Politisi senior Partai Golkar ini mengakui, penguatan koperasi desa memang agenda strategis untuk memperpendek rantai distribusi dan memperkuat ekonomi rakyat. “Namun, jangan sampai koperasi diperkuat, tetapi industri otomotif nasional justru kehilangan momentum,” ujar Nurdin, dalam keteranganya, Minggu (22/2/2026).
Nurdin mengingatkan, kebijakan ini harus sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945, yang menegaskan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dalam konteks ini, belanja negara seharusnya menjadi instrumen untuk memperkuat kapasitas produksi nasional, meningkatkan nilai tambah dalam negeri, serta menciptakan lapangan kerja.
Dia pun berjanji, Komisi VI DPR akan mengawal kebijakan ini secara ketat. “Koperasi adalah soko guru ekonomi nasional. Tetapi penguatannya tidak boleh bertentangan dengan semangat Pasal 33. Setiap rupiah belanja negara harus memastikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat dan memperkuat fondasi ekonomi bangsa,” imbuhnya.
Sebelumnya, PT Agrinas Pangan Nusantara mengungkap rencana impor 105.000 unit mobil pick up 4x4 dari India. Nilainya mencapai Rp 24,66 triliun.
Pick up yang bakal diimpor tersebut rinciannya 35.000 unit Scorpio dari merk Mahindra & Mahindra dan 70.000 unit dari Tata Motors. Tata Motors memasok 35.000 pick up Yodha dan 35.000 pick up Ultra T.7 Light Truck.
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota mengatakan, keputusan impor itu didasarkan pada pertimbangan harga. Menurut dia, harga pick up 4x4 yang tersedia di pasar Indonesia relatif tinggi.
"Produk-produk yang ada, dari mana pun yang menyuplai pasar Indonesia, untuk tipe 4x4 harganya sangat mahal," ujarnya, di Jakarta, Jumat (20/ 2/2026).
Baca juga : BGN Soal Mitra SPPG: “Kita Tidak Melihat Latar Belakang Partainya”
Selain faktor harga, ia menyebut industri otomotif nasional belum mampu memenuhi kebutuhan 70.000 unit pick up 4x4 dalam kurun waktu yang ditetapkan Agrinas. Jika dipaksakan kepada produsen dalam negeri, dikhawatirkan dapat mengganggu distribusi komoditas lainnya.
Saat ini, sebanyak 200 unit pick up Mahindra telah tiba di Indonesia. Hingga akhir bulan ini, ditargetkan jumlahnya mencapai 1.000 unit. "Tahun ini kami upayakan seluruhnya terealisasi, baik Mahindra maupun Tata," katanya.
Menanggapi rencana ini, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang mengingatkan, industri otomotif nasional punya kemampuan produksi pick up yang besar. Kapasitas produksinya mencapai 1 juta unit per tahun.
Agus memberi contoh produsen pick up PT Astra Daihatsu Motor, PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Indonesia, PT Suzuki Indomobil Motor, PT SGMW Motor Indonesia, dan PT Sokonindo Automobile.
"Dengan kapasitas tersebut, industri kendaraan pick up nasional mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus memperkuat daya saing industri otomotif Indonesia di tingkat global," ujar Agus.
Kata Agus, penguatan produksi pick up dalam negeri punya dampak ekonomi signifikan. Sebagai ilustrasi, pengadaan pick-up (4x2) 70.000 unit dari dalam negeri memberikan dampak positif ekonomi (backward linkage) sebesar kurang lebih Rp 27 triliun.
Agus juga memastikan, standar dan kualitas kendaraan pick-up produksi dalam negeri sangat kompetitif dibandingkan produk impor. Selama ini, produk lokal telah mampu memenuhi kebutuhan operasional di berbagai wilayah Indonesia dengan kondisi infrastruktur jalan yang sangat beragam.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.