BREAKING NEWS
 

Capai Ekonomi 8 Persen, President Club Tekankan Sinergi Pemerintah

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Jumat, 27 Februari 2026 10:04 WIB
Foto: President Club

RM.id  Rakyat Merdeka - President Club menggelar diskusi bertema Indonesia’s Forward: Kolaborasi untuk Ketahanan Nasional di President Lounge, Menara Batavia, Jakarta. Forum ini mempertemukan kalangan akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha guna membahas strategi mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen di tengah ketidakpastian global.

Diskusi yang digelar pada 6 Januari 2026 itu menyoroti pentingnya sinergi tiga pilar dalam memperkuat ketahanan nasional sekaligus menjaga stabilitas ekonomi. Seperti diketahui, memanasnya konflik geopolitik global pada 2026 meningkatkan risiko terhadap perekonomian dunia dan berdampak pada stabilitas nasional.

Hadir sebagai pembicara utama Prof. Dr. Budi Susilo Soepandji. Narasumber lainnya antara lain Staf Khusus Menteri Pertahanan RI Dr. Kris Wijoyo Soepandji, Chief Economist Trimegah Sekuritas & Soemitro Economic Forum Fakhrul Fulvian, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Prof. Dr. Telisa Aulia Falianty, serta Executive Director President Club Prof. Dr. Chandra Setiawan. Diskusi dimoderatori Benardinus Boyke Rachmanda.

Fakhrul Fulvian menilai dunia tengah memasuki periode perubahan besar yang ditandai percepatan digitalisasi dan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Transformasi tersebut, menurutnya, membawa peluang sekaligus risiko, termasuk ancaman kebocoran data yang dapat mengganggu ketahanan nasional.

Ia menekankan pentingnya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter agar dunia usaha tetap bergerak dan ekonomi nasional mampu tumbuh menuju target 8 persen. Di tengah perubahan global, strategi penciptaan nilai tambah dan penguatan ketahanan nasional dinilai menjadi kunci.

Baca juga : Ada Kereta Ekonomi Kerakyatan, Mudik Menjadi Lebih Nyaman dan Murah

Kris Wijoyo Soepandji menegaskan bahwa target pertumbuhan 8 persen memang menantang, namun dapat dicapai melalui konsolidasi dan semangat gotong royong. Ia mengutip konsep defence supports economy dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan pembangunan sistem pertahanan untuk mendukung kemandirian pangan, energi, dan air.

“Eksistensi negara seperti dua sisi koin: kedaulatan dan kesejahteraan. Keduanya tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.

Hilirisasi Dan UMKM Jadi Game Changer

Prof. Telisa Aulia Falianty menjelaskan bahwa kunci pertumbuhan 8 persen terletak pada optimalisasi sumber daya alam, hilirisasi industri, dan penguatan UMKM. Menurutnya, Indonesia dapat meniru strategi Chile dalam memanfaatkan sumber daya alam untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Adsense

“Game changer kita ada di sektor mineral. Yang dibutuhkan adalah roadmap dan kelembagaan yang kuat,” katanya.

Ia menambahkan, kedaulatan nasional tidak berarti menutup diri dari investor asing. Keseimbangan kepentingan nasional dan kepercayaan investor diperlukan untuk mendorong penciptaan lapangan kerja, termasuk melalui pengembangan sektor manufaktur, farmasi, petrokimia, semikonduktor, hingga kendaraan listrik (EV).

Regulasi Pro-Pertumbuhan Dan Pemerataan Ekonomi

Baca juga : Campak di Sydney Sesudah Perth, Dihubungkan dengan Pesawat dari Jakarta

Sementara itu, Prof. Chandra Setiawan menilai pemerintah perlu merancang regulasi yang pro-pertumbuhan, stabil, dan adil bagi pelaku usaha agar tercipta level playing field. Ia juga menyoroti ketimpangan pertumbuhan ekonomi yang masih terpusat di Pulau Jawa.

Menurutnya, indeks persaingan usaha yang kuat baru terlihat di sekitar 16 provinsi, sehingga pemerataan ekonomi menjadi prasyarat penting untuk mencapai target 8 persen.

Ia juga menekankan pentingnya pelibatan akademisi sejak tahap perumusan kebijakan. “Jangan saat eksekusi baru akademisi diundang untuk pembenaran. Kampus harus menjadi mitra konstruktif pemerintah,” ujarnya.

Board of Peace

Dalam sesi tanya jawab, isu keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace turut menjadi perhatian. Menanggapi hal itu, Kris Wijoyo Soepandji mengaitkannya dengan pilihan strategis para pendiri bangsa dalam situasi sulit.

Menurutnya, kebijakan luar negeri di tengah geopolitik global memerlukan kebijaksanaan dan pertimbangan matang demi kepentingan nasional jangka panjang.

Baca juga : Menang Tipis, Bojan Hodak: Persib Kesulitan Taklukkan Persita

Menutup diskusi, Prof. Budi Susilo Soepandji berharap forum ini tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan ditindaklanjuti dalam bentuk kolaborasi nyata antara akademisi, pemerintah, dan dunia usaha.

Acara ini turut dihadiri perwakilan Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, unsur TNI-Polri, serta alumni Lemhannas.

Melalui kolaborasi tiga pilar tersebut, President Club optimistis Indonesia mampu memperkuat ketahanan nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense