BREAKING NEWS
 

Kadin: Investigasi USTR Tak Ganggu Ekspor Utama Indonesia

Reporter : FAJAR EL PRADIANTO
Editor : ADITYA NUGROHO
Kamis, 19 Maret 2026 08:55 WIB
Foto: Kadin

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah bersama dunia usaha menyiapkan langkah menghadapi investigasi yang dilakukan United States Trade Representative (USTR) terhadap Indonesia, yang mencakup isu dumping dan dugaan tenaga kerja paksa.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Anindya Novyan Bakrie mengatakan persiapan matang diperlukan agar proses investigasi berjalan baik tanpa mengganggu stabilitas industri nasional.

“Untuk investigasi ini, persiapan matang harus dilakukan baik oleh pemerintah maupun dunia usaha agar seluruh prosesnya berjalan dengan baik,” ujar Anindya dalam keterangan di Jakarta, Kamis (19/3/2026).

Baca juga : ReforMiner: Selat Hormuz Bukan Jalur Utama Impor Energi RI

Ia menjelaskan, investigasi tersebut merujuk pada ketentuan Section 301 Trade Act 1974, dengan dua fokus utama yakni kelebihan kapasitas produksi yang berpotensi memicu praktik dumping serta dugaan penggunaan tenaga kerja paksa.

Menurut Anindya, langkah antisipasi penting dilakukan untuk menjaga daya saing industri nasional di tengah dinamika perdagangan global.

Adsense

“Jadi kita mesti berpikir untuk menjaga dan meningkatkan kapasitas industri pada saat ini,” katanya.

Baca juga : Pemain Tajikistan Happy Puasa Ramadan Di Indonesia

Meski demikian, ia menilai kondisi masih terkendali karena produk ekspor utama Indonesia ke Amerika Serikat tidak termasuk dalam objek investigasi.

Sejumlah komoditas unggulan seperti alas kaki, tekstil, furnitur, elektronik, hingga minyak kelapa sawit diperkirakan tidak terdampak langsung oleh kebijakan tersebut.

“Yang paling menenangkan adalah seluruh fokus ekspor utama Indonesia tidak masuk dalam subjek investigasi tersebut,” ujarnya.

Baca juga : Derajat dan Keunggulan Manusia

Selain itu, Anindya memastikan isu tenaga kerja paksa tidak ditemukan di Indonesia karena telah dilarang dalam regulasi nasional. Sementara itu, isu kelebihan kapasitas dinilai kurang relevan mengingat struktur industri nasional masih berfokus pada pemenuhan pasar domestik.

Ia menambahkan, Indonesia perlu tetap optimistis menghadapi perkembangan global serta memanfaatkan peluang pasar baru di berbagai kawasan.

“Jadi kita mesti berpikir untuk menjaga dan meningkatkan kapasitas pada saatnya,” kata Anindya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense