Dark/Light Mode

ReforMiner: Selat Hormuz Bukan Jalur Utama Impor Energi RI

Kamis, 12 Maret 2026 09:57 WIB
Selat Hormuz. (Foto: Wikipedia)
Selat Hormuz. (Foto: Wikipedia)

RM.id  Rakyat Merdeka - Lembaga riset energi ReforMiner menilai jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz bukan merupakan rute utama impor energi Indonesia, sehingga potensi gangguan pasokan minyak dan bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik di Timur Tengah masih dapat dikelola.

Direktur Eksekutif ReforMiner Komaidi Notonegoro mengatakan porsi impor minyak dan BBM Indonesia yang melewati Selat Hormuz relatif kecil dibandingkan total impor nasional.

“Porsi impor minyak mentah Indonesia yang melalui Selat Hormuz sekitar 18,13 persen, sedangkan impor BBM sekitar 14,23 persen. Artinya sebagian besar impor energi Indonesia tidak melalui jalur tersebut,” kata Komaidi dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Baca juga : Kapal Pertamina Tertahan Di Selat Hormuz, Bahlil: Sedang Cari Jalur Alternatif

Dengan komposisi tersebut, sekitar 81,87 persen impor minyak mentah dan 85,77 persen impor BBM Indonesia berasal dari jalur distribusi lain di luar Selat Hormuz. Kondisi ini dinilai membuat risiko gangguan pasokan energi nasional relatif terbatas meskipun terjadi konflik di kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, ReforMiner menilai pemerintah tetap perlu mengantisipasi kemungkinan gangguan distribusi dengan menyiapkan alternatif sumber pasokan energi.

Komaidi menjelaskan seluruh impor minyak mentah Indonesia yang melewati Selat Hormuz saat ini berasal dari Arab Saudi. Sementara impor BBM yang menggunakan jalur tersebut berasal dari sejumlah negara di kawasan Teluk, antara lain Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain.

Baca juga : Selat Hormuz Ditutup, Apa Dampaknya ke RI?

Sebagai langkah mitigasi, terdapat dua opsi yang dapat ditempuh Indonesia. Pertama, mengganti sumber impor energi dari negara lain di luar kawasan Timur Tengah. Kedua, tetap mengimpor dari negara yang sama namun mengubah rute distribusi agar tidak melewati Selat Hormuz.

Selain itu, Indonesia juga dapat mengalihkan sumber impor minyak mentah ke wilayah yang memiliki kapasitas produksi dan cadangan minyak yang lebih besar dibandingkan kebutuhan domestiknya. Beberapa wilayah yang berpotensi menjadi alternatif pasokan antara lain kawasan Amerika Utara, Amerika Tengah dan Selatan, negara-negara Commonwealth of Independent States (CIS), serta Afrika.

ReforMiner menilai diversifikasi sumber dan jalur impor energi menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.