Dark/Light Mode

Kajian Teosofi (6)

Derajat dan Keunggulan Manusia

Minggu, 8 Maret 2026 06:05 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Di atas alam mineral dan alam tumbuh-tumbuhan terdapat alam manusia. Secara biologis, manusia menghimpun seluruh potensi yang dimiliki oleh tiga alam di bawahnya. Karena itu manusia sering disebut sebagai binatang yang diberi kemampuan lebih (al-hayawan al-nathiq).

Keunggulan manusia tidak hanya terletak pada kesempurnaan jasmani dan beragam indera yang dimilikinya, tetapi juga karena manusia dianugerahi keistimewaan khusus yang tidak dimiliki makhluk lain, yakni roh.

Baca juga : Tingkatan-tingkatan Alam

Para filosof kadang menyebut roh sebagai akal (intellect), kadang pula sebagai jiwa rasional. Keberadaan roh dalam diri manusia—baik dari segi proses maupun substansinya—telah lama menjadi pembahasan mendalam di kalangan sufi dan filosof.

Dalam kitab-kitab tafsir sufi (tafsir isyari), roh digambarkan sebagai unsur suci (malakut/lahut) yang ada dalam diri manusia. Unsur inilah yang membuat para malaikat dan makhluk lain tunduk (taskhir), bersujud, serta mengabdi kepada manusia, kecuali iblis yang kemudian menjadi terkutuk. Keutamaan inilah yang menjadikan manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi (khalaif al-ardh).

Baca juga : Konsep Al-A’yan al-Tsabitah

Ketika manusia masih berada dalam struktur sederhana—yang baru tersusun dari unsur mineral, tumbuh-tumbuhan, dan hewani—belum ada perintah sujud dari Allah SWT kepadanya.

Perintah tersebut muncul setelah unsur suci itu “diinstal” ke dalam diri Adam, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: fasjudu li Adam fa sajadu illa Iblis. Unsur tambahan atau istilah khalqan akhar dalam Al-Qur’an (Q.S. Al-Mu’minun) menjadikan manusia sebagai makhluk istimewa.

Baca juga : Al-A’yan al-Tsabitah

Hal ini pula yang membuat manusia—menurut Seyyed Hossein Nasr—sebagai satu-satunya makhluk eksistensial, yang derajatnya dapat bersifat fluktuatif, naik turun di hadapan Allah SWT. Manusia bisa mencapai derajat paling mulia (ahsan taqwim), bahkan mampu menembus alam puncak (sidrat al-muntaha), tempat yang tidak dapat dijangkau oleh malaikat Jibril dan malaikat utama lainnya.

Namun kemampuan dan keutamaan tersebut juga bisa membuat manusia terjatuh ke lembah paling rendah (asfala safilin), terutama ketika ia menyia-nyiakan potensi yang dimilikinya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.