Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Gangguan irama jantung atau aritmia masih sering dipandang sepele oleh masyarakat. Padahal, kondisi ini dapat memicu berbagai komplikasi serius, mulai dari stroke hingga gagal jantung, bahkan kematian jantung mendadak.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2022 mencatat penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian terbesar di dunia dengan estimasi 19,8 juta kematian. Salah satu bentuk gangguan jantung yang cukup umum adalah Atrial Fibrillation (AF), yaitu jenis aritmia yang paling sering terjadi secara global.
Baca juga : PLN Nyalakan Serentak 1.400 Pelanggan Jakarta, Pastikan Ramadan Terang
Secara global, jumlah kasus Atrial Fibrillation (AF) diperkirakan mencapai 59–60 juta kasus pada 2019 dan terus meningkat. Jika tidak terdeteksi dan ditangani dengan baik, AF dapat meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat, risiko gagal jantung lima kali, risiko serangan jantung dua kali, serta risiko sudden cardiac death hingga 2,5 kali.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI Dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan penyakit jantung menjadi tantangan besar kesehatan global maupun nasional.
CEK EKG Gratis, Kampanye Lets Check The Beat menyediakan deteksi dini risiko aritmia melalui EKG Screening setiap Kamis dan Jumat jam 10.00 – 12.0 WIB dan Sabtu di jam 09.00 – 11.00 WIB di Siloam Hospitals TB Simatupang. Gratis! [Foto: Dok]
Baca juga : PW HIMA Persis DKI Jakarta Audiensi dengan Pramono Anung di Balai Kota
“Penyakit jantung merupakan salah satu pembunuh nomor satu di dunia dan di Indonesia. Karena itu, pengendaliannya menjadi prioritas dalam kebijakan transformasi kesehatan, terutama melalui penguatan upaya promotif dan preventif,” ujarnya.
Menurut Nadia, sekitar sepertiga pasien Atrial Fibrillation (AF) tidak menunjukkan gejala sehingga banyak kasus baru terdeteksi setelah terjadi komplikasi seperti stroke atau gagal jantung. Karena itu, skrining dan deteksi dini menjadi sangat penting.
Baca juga : Bank Jakarta Gandeng Jakmania Wujudkan Inklusi Keuangan
Pemerintah, lanjutnya, telah memperkuat berbagai upaya pencegahan, antara lain melalui kampanye gaya hidup sehat CERDIK, program Cek Kesehatan Gratis (CKG), serta penyediaan alat EKG di puskesmas untuk mendukung diagnosis dini penyakit jantung.
Data program CKG menunjukkan hingga Desember 2025 terdapat 2,4 juta peserta usia di atas 40 tahun dengan hipertensi atau diabetes yang telah menjalani pemeriksaan EKG.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya