RM.id Rakyat Merdeka - Lampu di ruangan Ciputra Artpreneur, Lotte Mall, Jakarta, Rabu (1/4/2026) malam, perlahan meredup. Keheningan segera menyergap saat layar lebar mulai memantulkan fragmen-fragmen visual yang menangkap denyut nadi industri ekstraktif di pelosok Nusantara.
Di sana, wajah pertambangan tidak lagi sekadar soal alat berat dan galian tanah, melainkan sebuah narasi panjang tentang manusia, teknologi, dan dedikasi.
Sajian visual bertajuk The MINDJourney : For Indonesia and the World ini menjadi pernyataan sikap dari Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID).
Film seri dokumenter yang merangkum 13 episode ini ibarat sebuah kado Lebaran bagi publik; sebuah upaya untuk menjawab skeptisisme melalui rekaman perjalanan otentik selama 53 hari, sepanjang 11.272 jam. Dan perjalanan jarak 19.000 kilometer yang melelahkan namun bermakna.
Kamera bergerak dinamis, membawa penonton melintasi tanah Jawa Barat, menyeberangi Sumatera, hingga menyentuh ujung timur di Papua.
Setiap jengkal langkah itu merekam kontras yang luar biasa: dari ketinggian puncak tambang hingga kedalaman 450 meter di bawah permukaan laut.
Urutan cerita sengaja disusun, agar setiap anggota holding—PT Bukit Asam (PTBA), PT Antam, PT Timah, PT Inalum, PT Vale Indonesia, hingga PT Freeport Indonesia mendapatkan panggung yang setara.
Esensi di Balik Alat Berat
Baca juga : Lestari Moerdijat Dorong Peningkatan Literasi Hadapi Tantangan Hidup Berbangsa
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, yang hadir sebelum acara nonton bareng (nobar), mengungkapkan bahwa film dokumenter ini adalah jembatan untuk menyatukan beragam budaya kerja di bawah naungan holding yang baru berusia tiga tahun tersebut.
“Melalui film ini, kami ingin menghadirkan satu media yang dapat menampilkan bagaimana seluruh anggota holding MIND ID bekerja dalam satu payung yang sama. Kami ingin membangun pemahaman bersama, baik secara internal maupun eksternal, mengenai praktik pertambangan yang dijalankan dengan prinsip good mining practice mulai dari perencanaan, operasional, hingga pascatambang,” ujarnya dalam acara Silaturahmi Grup MIND ID, Rabu (1/4/2026).
Ia menambahkan, film ini juga diharapkan dapat memberikan perspektif yang lebih berimbang terhadap industri pertambangan yang selama ini kerap mendapat stigma negatif.
"Memang kegiatan pertambangan mengubah permukaan, namun jika dijalankan dengan kaidah yang benar, pengelolaan tambang dapat memberikan manfaat besar bagi lingkungan dan masyarakat. Melalui film ini, kami ingin menunjukkan bagaimana praktik tersebut dilakukan oleh seluruh anggota holding MIND ID,” jelasnya.
Selain itu, film ini juga menyoroti pentingnya hilirisasi sebagai upaya kekayaan mineral Indonesia memberikan nilai tambah optimal di dalam negeri.
Selama ini, sebagian besar komoditas mineral masih keluar tanpa pengolahan maksimal, sehingga nilai ekonominya dapat dinikmati di luar negeri.
Misalnya, melalui rantai terintegrasi pemrosesan bauksit–alumina–aluminium yang dikembangkan Grup MIND ID, memberikan peningkatan nilai yang signifikan, dari sekitar 40 dolar AS per ton membuat bauksit mentah menjadi sekitar 400 dolar Amerika Serikat (AS) per ton alumina, hingga mencapai 2.800 dolar AS–3.000 dolar AS per ton aluminium.
Baca juga : BlueBand Ajak Keluarga Indonesia Sebarkan Kebaikan di Bulan Ramadan
Bahkan nilai tersebut dapat terus meningkat ketika aluminium diolah lebih lanjut menjadi produk industri seperti rangka baterai, badan kendaraan listrik, hingga komponen berteknologi tinggi.
Film ini tidak berbicara tentang angka produksi atau target laba yang biasanya memenuhi ruang rapat direksi.
Sebaliknya, kamera justru menyorot sisi-sisi yang selama ini luput dari pandangan mata; tentang peluh di balik alat berat dan tekad membangun fondasi industri masa depan melalui hilirisasi.
Kebenaran di Balik Lensa
Di balik estetika visualnya, ada sentuhan tangan dingin pasangan sineas Ari Sihasale dan Nia Sihasale.
Bagi mereka, proyek ini adalah misi untuk menunjukkan bahwa apa yang disaksikan penonton bukanlah drama buatan. “Apa yang disaksikan bukan setting-an, tapi real,” ujar Nia saat berbagi kesan sebelum melakukan persembahan.
Ari Sihasale yang juga produser film dokumenter tersebut mengaku, awalnya ia hanya mengenal dunia tambang dari riuh rendah media sosial yang sering kali hanya menampilkan sisi kelam.
Namun, perjalanan lebih dari 50 hari mengubah perspektifnya. Ia menemukan banyak hal baik yang dilakukan perusahaan untuk masyarakat dan lingkungan sebagai sebuah kebenaran yang harus disampaikan.
Baca juga : Teheran Ajukan Syarat Perdamaian Dalam Perang Lawan AS Dan Israel
"Kami bertemu langsung dengan masyarakat yang merasakan manfaat nyata, mulai dari kesehatan hingga pengembangan UMKM. Sisi kemanusiaan dari pertambangan inilah yang diketahui masyarakat,” tutur Ari.
Kehadiran para pengisi acara ( cast ) di malam hari Ciputra Artpreneur itu semakin menghidupkan suasana.
Mereka berbagi cerita tentang tantangan lapangan yang sering kali tak terpotret dalam laporan tahunan.
Malam itu menjadi pengingat bahwa di balik esensi raksasa bernama MIND ID, ada manusia-manusia yang tengah menawarkan perjalanan panjang untuk kemandirian industri nasional. Indonesia telah memulai perjalanannya.
Dari lubang tambang ke panggung dunia, film dokumenter ini menjadi saksi bahwa membangun masa depan membutuhkan lebih dari sekadar mesin; ia membutuhkan dedikasi yang tak henti-hentinya untuk memastikan setiap butir mineral yang digali adalah demi kemaslahatan bangsa.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.