Dark/Light Mode

Teheran Ajukan Syarat Perdamaian Dalam Perang Lawan AS Dan Israel

Kamis, 12 Maret 2026 22:16 WIB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Foto IRNA)
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Foto IRNA)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan sejumlah syarat untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, di tengah terus berlanjutnya serangan udara terhadap berbagai target di Negeri Mullah itu. 

“Berbicara dengan para pemimpin Rusia dan Pakistan, saya menegaskan kembali komitmen Iran untuk perdamaian di wilayah tersebut,” kata Masoud Pezeshkian dalam akun X pribadinya @drpezeshkian, Kamis (12/3/2026).

Ia mengungkapkan tiga syarat utamanya. Pertama, pengakuan terhadap hak-hak sah Iran. Kedua pembayaran ganti rugi atas kerusakan infrastruktur akibat pengeboman. Ketiga, jaminan bahwa negara tersebut tidak akan menghadapi serangan dari Amerika Serikat maupun Israel di masa mendatang.

Baca juga : Bernardo Tavares Benahi Persebaya Jelang Lawan Persita

“Satu-satunya cara untuk mengakhiri perang ini yang dipicu rezim Zionis dan AS adalah mengakui hak-hak sah Iran, pembayaran reparasi, dan jaminan internasional yang tegas terhadap agresi di masa depan,” ujarnya

Pezeshkian membagikan unggahan tersebut setelah melakukan percakapan telepon secara terpisah dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif

Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memasuki hari ke-12. Konflik tersebut diawali serangan udara di Teheran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Baca juga : Kementan Terus Stabilkan Harga Cabe Dan Bawang Merah Jelang Lebaran

Konflik di Timur Tengah semakin tajam. Iran membalas serangan Amerika Serikat dan Israel dengan meluncurkan rudal ke pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk serta wilayah Tel Aviv.

Dampak perang itu pun memicu lonjakan harga minyak dunia, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz. Selat sempit yang berada di antara Iran dan Oman itu merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak global.

Minyak mentah jenis Brent bahkan menembus angka di atas 100 dolar AS per barel. Jika gangguan berlanjut, harga energi dunia diperkirakan masih akan bergejolak dan berpotensi mendorong ketidakpastian ekonomi global

Baca juga : Teleponan 1 Jam, Putin Desak Trump Akhiri Perang Iran

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.