BREAKING NEWS
 

Indonesia Punya Potensi Besar

Pelaku Hulu Migas Tetap Optimis Meski Hadapi Tantangan Kompleks

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Rabu, 20 Mei 2026 20:04 WIB
Global Executive Talk bertema The End of Easy Energy: The New Reality of Oil and Gas, pada IPA Convex 2026, di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (20/5/2026). (Foto: Dok. IPA)

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) tengah menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Meski demikian, para pelaku hulu migas di Tanah Air tetap optimis. Salah satunya, karena sektor hulu migas Indonesia masih menjanjikan dan punya potensi besar.

Tantangan sektor hulu migas datang dari dua “penjuru” sekaligus. Pertama, dari sisi produksi yang mengalami penurunan secara alami dari lapangan-lapangan tua. Kedua, dinamika geopolitik global yang memengaruhi stabilitas harga energi dan investasi. 

Di balik tantangan ini, Indonesia masih memiliki potensi migas yang sangat besar untuk dikembangkan, terutama di kawasan laut dalam dan wilayah timur, yang belum sepenuhnya tereksplorasi. Sejumlah cekungan migas masih menyimpan cadangan besar yang dapat menopang ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, mengungkapkan ada tiga strategi utama untuk menghadapi tantangan yang dihadapi sektor hulu migas. Tiga strategi tersebut adalah penguatan kemitraan, menjalin kolaborasi dengan Pemerintah, dan pengembangan teknologi.

Untuk Pertamina, punya kemitraan yang kuat, misalnya bersama PETRONAS. “Kolaborasi dengan Pemerintah juga dapat memberikan tambahan fiskal dan permudah perizinan serta turunkan risiko usaha dengan penggunaan teknologi," kata Oki, pada sesi Global Executive Talk bertema The End of Easy Energy: The New Reality of Oil and Gas, pada 50th IPA Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026, di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (20/5/2026).

Dalam acara yang sama, Direktur dan CEO Medco Energi, Roberto Lorato, menyatakan bagi yang sudah berkecimpung di industri migas Indonesia selama beberapa tahun, pasti sudah merasakan adanya perubahan dalam pengelolaan ke arah lebih positif.

"Indonesia menyadari potensi masih sangat besar. Untuk itu, eksplorasi harus dilakukan dan perlu ada pengembangan jangka panjang serta pendekatan yang lebih fleksibel," ujar Roberto.

Baca juga : Potensi Migas RI Menjanjikan di Tengah Kompleksitas Tantangan Global

Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu langkah penting untuk menahan laju penurunan produksi. Perusahaan migas mulai mengembangkan penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR), digitalisasi operasi, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), hingga teknologi pengeboran yang lebih efisien guna meningkatkan produktivitas lapangan eksisting dan menekan biaya operasi.

Masih besarnya potensi cadangan migas di Tanah Air bisa terlihat juga dengan adanya beberapa temuan dalam jumlah yang cukup besar. Salah satunya di wilayah sekitar Andaman.

CEO Mubadala Energi, Mansoor Muhamed Al Hamed, mengungkapkan setelah 15 tahun beroperasi di Indonesia, pihaknya mendapatkan hasil positif di Andaman. Temuan tersebut diharapkan bisa membantu Pemerintah dalam mengejar target produksi migas.

"Kami sangat antusias dengan penemuan yang didapat di Tangkulo dan di Andaman. Yang terbaru adalah Southwest Andaman, sekitar dua bulan lalu. Saat mulai berproduksi, hal ini akan menjadikan kami salah satu produsen terbesar di Indonesia," jelas Mansoor.

Tantangan yang Dihadapi

Sementara, Executive Vice President, Finance & Administration KUFPEC, Abdullah F. Al-Osaimi, memaparkan tantangan besar yang dihadapi industri hulu migas. Yaitu membutuhkan modal sangat besar, tuntutan teknologi baru, dan harus menghadapi dinamika geopolitik.

"Tantangan saat ini bukan lagi soal ketersediaan hidrokarbon yang mudah diperoleh, melainkan akses terhadap cadangan dengan risiko rendah dan kompleksitas rendah yang kini semakin sulit ditemukan," ungkap Abdullah

Adsense

Selain itu, transisi energi dan tuntutan ESG (Environmental, Social, and Governance) juga menambah tantangan. "Belum lagi kebijakan domestik di sejumlah negara yang turut memengaruhi cara investasi di sektor hulu migas," ungkap dia

Baca juga : Boy Rafli Amar Ajak Masyarakat Tetap Solid Hadapi Tekanan Global

Meski tantangan industri hulu migas semakin berat, sektor ini diyakini masih akan memegang peranan penting dalam menjaga ketahanan energi nasional. Dengan potensi sumber daya yang masih besar dan dukungan kebijakan yang tepat, Indonesia memiliki peluang untuk kembali memperkuat posisinya sebagai salah satu negara produsen energi utama di kawasan.

Penguatan Kemitraan

Dalam menghadapi tantangan ini, kemitraan antara pelaku usaha dan Pemerintah semakin penting. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan, lifting migas tidak akan berjalan optimal tanpa kolaborasi yang baik antara Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan Pemerintah.

Bahlil mengungkapkan, sudah ada berbagai upaya yang dilakukan Kementerian ESDM dalam melakukan reformasi, termasuk berbagai regulasi untuk melakukan percepatan investasi. “Saya minta kepada teman-teman SKK Migas, kalau masih ada yang lambat, tolong disampaikan,” kata Bahlil, di sela Inagurasi IPA Convex 2026, di ICE BSD, Rabu (20/5/2026).

Ia memastikan, Pemerintah siap memberikan berbagai fasilitas insentif, termasuk di bidang perpajakan, demi mendukung keberlangsungan proyek hulu migas. Namun, insentif tersebut tetap diberikan berdasarkan asas keadilan dan kelayakan proyek. “Diberikan kepada KKKS yang dianggap layak dan pantas secara feasibility study,” terang Bahlil.

Peran IPA

Indonesian Petroleum Association (IPA) siap menjembatani peningkatan kemitraan ini. President IPA, Kathy Wu, menerangkan, ada tiga fondasi utama yang harus dijaga Pemerintah dan pelaku usaha untuk memperkuat kemitraan di sektor migas.

Pertama, kepastian hukum dan penghormatan terhadap kontrak yang telah disepakati. Kathy menekankan, proyek hulu migas merupakan industri padat modal, berisiko tinggi, dan memiliki siklus panjang sehingga membutuhkan kepastian investasi.

“Ketika ketentuan fiskal dan kontrak dihormati secara konsisten, kepercayaan investor akan tumbuh, modal akan tetap masuk, dan proyek dapat berjalan maju. Hal tersebut pada akhirnya menciptakan kondisi di mana investasi mampu memberikan nilai tambah besar bagi Indonesia,” kata Kathy.

Baca juga : 4 Laga Penentu, Borneo FC Pilih Tetap Konsisten Hadapi Tekanan

Kedua, percepatan pengerjaan proyek. Kathy menerangkan, siklus proyek yang terlalu panjang menjadi salah satu risiko terbesar di industri migas. “Karena itu, seluruh pihak memiliki tantangan bersama untuk mempercepat pengembangan proyek dengan meminimalkan berbagai hambatan dan keterlambatan,” ujarnya.

Ketiga, mendorong kegiatan eksplorasi. Menurut Kathy, Indonesia masih memiliki potensi cadangan migas yang sangat besar. Namun, potensi tersebut tidak akan memberikan manfaat tanpa eksplorasi yang optimal.

“Indonesia masih memiliki potensi besar. Lebih dari 50 persen cekungan migas nasional belum dieksplorasi secara optimal,” ungkapnya.

Kathy menambahkan, Indonesia memiliki target produksi energi yang jelas dan IPA siap mendukung ambisi tersebut. Namun, untuk mewujudkannya dibutuhkan kecepatan, koordinasi, dan keselarasan di seluruh sistem.

IPA juga berkomitmen terus mendukung dan berkolaborasi dengan Pemerintah. Menurut Kathy, pengalaman selama ini menunjukkan keselarasan yang kuat antara Pemerintah dan industri mampu membuat proyek berjalan lebih lancar dan target bersama tercapai.

“IPA bersama seluruh anggotanya menyatakan siap menjadi mitra strategis Pemerintah Indonesia, siap berinvestasi, siap berkolaborasi, serta siap membantu menyediakan energi yang aman, terjangkau, dan semakin rendah karbon,” tandas Kathy.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense