Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Potensi Migas RI Menjanjikan di Tengah Kompleksitas Tantangan Global
Rabu, 20 Mei 2026 14:46 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) global, termasuk di Indonesia, kini menghadapi tantangan yang kian kompleks.
Di tengah tekanan penurunan produksi secara alami pada lapangan-lapangan tua, pelaku industri juga harus berhadapan dengan dinamika geopolitik global serta tuntutan transisi energi.
Kendati demikian, potensi migas di Indonesia dinilai masih sangat menjanjikan.
Kondisi tersebut mengemuka dalam sesi diskusi Global Executive Talk bertajuk "The End of Easy Energy: The New Reality of Oil and Gas" pada gelaran Hari Ulang Tahun ke-50 IPA Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026 di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza mengungkapkan, sedikitnya ada tiga strategi utama untuk menghadapi tantangan industri saat ini, yaitu penguatan kemitraan, kolaborasi dengan pemerintah, hingga pengembangan teknologi.
"Kita punya kemitraan yang kuat, misalnya bersama PETRONAS. Kolaborasi dengan pemerintah juga dapat memberikan tambahan fiskal dan permudah perizinan serta turunkan risiko usaha dengan penggunaan teknologi," kata Oki.
Tekanan Investasi Global
Situasi geopolitik global saat ini turut memberikan tekanan besar terhadap industri energi. Ketegangan di sejumlah kawasan penghasil minyak dunia memicu fluktuasi harga energi dan meningkatkan ketidakpastian investasi.
Baca juga : ANTAM Jaga Fundamental Bisnis di Tengah Tekanan Pasar Global
Akibatnya, perusahaan migas dituntut lebih adaptif demi menjaga keberlanjutan bisnis.
President and Group CEO PETRONAS Tengku Muhammad Taufik memaparkan, berdasarkan data yang diperoleh, investasi hulu minyak global pada tahun 2025 diperkirakan turun sekitar 6 persen.
Padahal, total investasi hulu migas dunia pada tahun tersebut mencapai sekitar 570 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
"Menariknya, sekitar 40 persen dari total investasi itu digunakan khusus untuk menekan laju penurunan produksi di lapangan migas yang sudah beroperasi," ujar Tengku.
Tantangan ini juga diakui oleh Executive Vice President Finance & Administration KUFPEC Abdullah F. Al-Osaimi.
Menurut dia, industri migas saat ini membutuhkan modal yang sangat besar serta penguasaan teknologi baru.
Terlebih, dinamika geopolitik sejak akhir April lalu telah mengubah lanskap industri minyak dan gas secara signifikan.
Baca juga : Prabowo Ajak ASEAN Percepat Jaringan Energi Di Tengah Krisis Global
"Tantangan saat ini bukan lagi soal ketersediaan hidrokarbon yang mudah diperoleh, melainkan akses terhadap cadangan dengan risiko rendah dan kompleksitas rendah yang kini semakin sulit ditemukan," ungkap Abdullah.
Ia menambahkan, tantangan tersebut kian bertambah dengan adanya transisi energi, tuntutan Environmental, Social, and Governance (ESG), serta kebijakan domestik di sejumlah negara yang memengaruhi cara berinvestasi di sektor hulu migas.
Optimisme di Pasar Domestik
Di tengah beratnya tantangan global, Indonesia dipandang masih memiliki daya tarik besar, terutama di kawasan laut dalam dan wilayah timur yang belum sepenuhnya tereksplorasi.
Pemanfaatan teknologi seperti enhanced oil recovery (EOR), digitalisasi operasi, hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai dioptimalkan untuk menahan laju penurunan produksi di lapangan eksisting.
Direktur dan CEO Medco Energi Roberto Lorato menilai, tata kelola industri migas di tanah air terus menunjukkan perubahan ke arah yang lebih positif dalam beberapa tahun terakhir.
"Indonesia menyadari potensi masih sangat besar, untuk itu eksplorasi harus dilakukan perlu ada pengembangan jangka panjang. Serta pendekatan yang lebih fleksibel," ujar Roberto.
Optimisme serupa disampaikan oleh CEO Mubadala Energy Mansoor Muhamed Al Hamed.
Baca juga : Tumbuh 5,61 Persen, Ekonomi RI Tetap Kuat di Tengah Tantangan
Setelah 15 tahun beroperasi di Indonesia, Mubadala mencatatkan hasil positif melalui sejumlah temuan cadangan gas berskala besar di blok Andaman. Temuan ini diharapkan dapat menyokong target produksi yang ditetapkan pemerintah.
"Kami sangat antusias dengan penemuan yang kami dapatkan di Tangkulo, juga di Andaman. Dan yang terbaru adalah Southwest Andaman sekitar dua bulan lalu. Ketika nantinya mulai berproduksi, hal ini akan menjadikan kami salah satu produsen terbesar di Indonesia," jelas Mansoor.
Dengan potensi sumber daya yang masih melimpah serta dukungan kebijakan fiskal dan regulasi yang tepat, sektor hulu migas diyakini akan tetap memegang peranan krusial dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Indonesia masih memiliki peluang besar untuk memperkuat kembali posisinya sebagai salah satu produsen energi utama di kawasan regional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya