RM.id Rakyat Merdeka - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) bersama tiga mitra global—ExxonMobil Low Carbon Solutions Indonesia Limited, SK Innovation, dan SK Earthon—resmi memulai penjajakan pengembangan proyek penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) lintas batas (transboundary) antara Indonesia dan Korea Selatan (Korsel).
Langkah ini ditandai dengan penandatanganan kesepakatan studi bersama (Joint Study Agreement/JSA) dalam rangkaian Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026 di ICE BSD, Tangerang, Rabu (20/5/2026).
Kesepakatan ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang telah disepakati sebelumnya di Seoul, Korea Selatan, pada 1 April 2026.
Baca juga : BPJPH dan FUIN China Perkuat Kerja Sama Industri Halal
Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama PHE Awang Lazuardi, President ExxonMobil Low Carbon Solutions Indonesia Limited Egon E Van Der Hoeven, Vice President SK Innovation Jongmun Lee, dan Vice President SK Earthon Dooyun Park.
Melalui kerja sama ini, keempat perusahaan akan melaksanakan studi pendahuluan dan studi kelayakan untuk mengirimkan karbon dioksida (CO2) dari Korea Selatan ke CCS Hub Asri Basin di Indonesia untuk disimpan secara aman.
Kolaborasi juga mencakup pertukaran informasi, teknologi, serta pengembangan kerangka kerja lintas batas yang mengintegrasikan regulasi dan standar teknis.
Baca juga : Teknologi Canggih Kawal Mobilitas Jemaah Indonesia
Corporate Secretary PHE Hermansyah Y Nasroen menjelaskan, kolaborasi strategis ini menjadi tonggak penting dalam mendorong industri penangkapan karbon di dalam negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia di Asia Pasifik.
“Melalui kolaborasi strategis ini, PHE bersama mitra global berkomitmen mendukung pengembangan ekosistem CCS yang terintegrasi di Indonesia. Inisiatif ini tidak hanya menjadi bagian dari upaya dekarbonisasi, tetapi juga membuka peluang investasi baru, transfer teknologi, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pengembangan CCS di kawasan Asia Pasifik,” ujar Hermansyah dalam keterangannya, Rabu (20/5/2026).
Jika proyek ini terealisasi, PHE memproyeksikan potensi investasi akumulatif yang masuk ke Indonesia sebagai penyedia kapasitas penyimpanan dapat mencapai 600 juta dollar AS (sekitar Rp 9,6 triliun).
Baca juga : Jeni Rahmadial Fitri Nyamar Jadi Dokter, Gelar Finalis Putri Indonesia Dicopot
Selain itu, proyek penyerapan karbon ini diperkirakan mampu menyerap hingga 2.000 tenaga kerja pada fase konstruksi untuk setiap kapasitas penyimpanan satu juta ton CO2 per tahun (MTPA).
Dalam operasionalnya, PHE menyatakan bakal terus menerapkan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), termasuk komitmen antipenyuapan melalui implementasi ISO 37001:2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.