BREAKING NEWS
 

Peneliti RI-Australia Uji Board Game Iklim Untuk Anak SD Di NTT

Reporter : FAJAR EL PRADIANTO
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Rabu, 27 Mei 2026 10:55 WIB
Ahli Manajemen Risiko Bencana PREDIKT Yusra Tebe memaparkan uji coba board game perubahan iklim untuk siswa SD di Jakarta, Selasa (26/5/2026). Dok. PREDIKT

RM.id  Rakyat Merdeka - Edukasi perubahan iklim untuk anak sekolah mulai dikembangkan dengan cara yang lebih sederhana dan menyenangkan. Peneliti dari Indonesia dan Australia kini menguji permainan board game atau permainan papan sebagai media belajar perubahan iklim bagi anak-anak sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pengembangan media belajar tersebut menjadi bagian dari riset kolaboratif yang melibatkan peserta didik, guru, peneliti, hingga komunitas pendidikan dari Indonesia dan Australia. Temuan riset itu dibahas dalam diskusi bertajuk Shaping Climate Resilience Policy Through Inclusive Research di Lounge Katadata, Jakarta, Selasa (26/5/2026).

Ahli Manajemen, Risiko Bencana dari PREDIKT Yusra Tebe mengatakan, pemahaman mengenai perubahan iklim di kalangan peserta didik masih tergolong rendah. Kondisi serupa, menurut dia, juga ditemukan pada sebagian guru hingga pengambil kebijakan.

Dia menjelaskan perubahan iklim sering dipahami sebagai isu yang terlalu teknis sehingga sulit diterima anak-anak usia sekolah dasar. Karena itu, pendekatan permainan dipilih agar materi lebih mudah dipahami sekaligus dekat dengan keseharian siswa.

“Perubahan iklim itu nyata dan ternyata pengetahuan peserta didik serta guru masih cukup rendah,” jelasnya.

Menurut Yusra, Indonesia sebenarnya sudah memiliki panduan pendidikan perubahan iklim dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Namun implementasinya belum berjalan merata di semua sekolah.

Karena itu, PREDIKT bersama mitra dari Australia mencoba menghadirkan pendekatan pembelajaran yang lebih aplikatif melalui board game. Menariknya, permainan tersebut tidak disusun sepihak oleh peneliti, tetapi dikembangkan bersama anak-anak di NTT serta siswa Sekolah Harkaway di Victoria, Australia.

“Board game dipilih supaya anak-anak dan guru bisa belajar perubahan iklim dengan cara yang menyenangkan,” katanya.

Yusra mengatakan anak-anak dipilih sebagai fokus utama karena mereka dinilai menjadi penentu arah masa depan terkait isu lingkungan dan perubahan iklim.

Baca juga : Sekolah Rakyat Di Blora Selamatkan Anak Dari Pernikahan Dini

Menurut dia, orang dewasa sering terjebak kesibukan sehari-hari sehingga kesadaran perubahan iklim tidak selalu bertahan lama. Sementara anak-anak memiliki peluang lebih besar membawa perubahan perilaku di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

“Anak-anak nantinya akan menjadi penentu arah masa depan keluarga, desa, sampai negara,” tuturnya.

Senior Specialist Perlindungan Anak dan Advokasi ChildFund Reny Rebeka Haning menilai anak-anak harus ditempatkan sebagai pusat pembahasan perubahan iklim karena mereka menjadi kelompok yang paling terdampak.

Dia mencontohkan kondisi di NTT, ketika perubahan cuaca memengaruhi hasil tangkapan nelayan sehingga berdampak pada ekonomi keluarga. Dalam beberapa kasus, tekanan ekonomi juga memicu meningkatnya kerentanan anak di rumah.

Selain itu, Reny menyebut cuaca panas ekstrem pernah membuat sejumlah sekolah di NTT terpaksa meliburkan kegiatan belajar. Kondisi tersebut secara langsung mengganggu hak pendidikan anak-anak.

“Anak-anak disabilitas punya kerentanan ganda dalam menghadapi dampak perubahan iklim,” ujarnya.

Reny menjelaskan uji coba board game di Sekolah Luar Biasa (SLB) justru menunjukkan anak-anak disabilitas mampu menjelaskan pengalaman mereka terkait perubahan iklim secara terbuka.

Adsense

Menurut dia, pengalaman tersebut penting dijadikan bagian dari literasi perubahan iklim agar kebijakan pendidikan lebih inklusif.

Dia juga mengingatkan hasil penelitian tidak boleh berhenti sebagai dokumen akademik semata. Harus ada panduan praktis dan pelatihan guru agar metode pembelajaran benar-benar bisa diterapkan di sekolah.

Baca juga : Dubes Australia Rod Brazier Gali Potensi Kerja Sama Di Palembang

“Kalau tidak dirancang aplikatif, riset hanya akan menjadi paper yang bagus untuk dibaca,” katanya.

Dari Australia, Kepala Sekolah Dasar Harkaway Victoria Leigh Johnson mengatakan tantangan pemahaman perubahan iklim ternyata tidak jauh berbeda antara siswa di Indonesia dan Australia.

Dia bahkan menilai pendekatan Indonesia dalam melibatkan siswa melalui kolaborasi lintas negara menjadi langkah yang cukup maju.

“Tantangan siswa di Indonesia dan Australia ternyata hampir sama dalam memahami perubahan iklim,” ujarnya melalui video conference.

Leigh mengatakan kolaborasi tersebut membuat siswa memahami bahwa persoalan perubahan iklim tidak hanya terjadi di lingkungan mereka sendiri, tetapi menjadi tantangan global yang dihadapi bersama.

Menurut dia, pengalaman saling bertukar cerita antar siswa dari Kupang, Yogyakarta, dan Australia menjadi proses belajar yang penting bagi anak-anak.

“Anak-anak akhirnya memahami bahwa mereka tidak sendirian menghadapi persoalan ini,” katanya.

Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) Prof. Dr. Yudi Darma mengatakan riset pendidikan dan perubahan iklim harus benar-benar berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat.

Menurut dia, selama ini masih banyak penelitian kampus yang belum menyentuh persoalan riil di lapangan. Karena itu, Kemendikti Saintek mulai mendorong riset yang lebih aplikatif melalui sejumlah program baru.

Baca juga : Geopolitik Indonesia: Gerakan Non Blok Bebas Aktif Untuk Menegakkan Perdamaian Dunia

“Kami ingin anak-anak sejak dini terbiasa melihat masalah dan memikirkan solusinya,” ungkapnya.

Sementara itu, Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Ledia Hanifa Amaliah menilai pendidikan perubahan iklim membutuhkan konsistensi kebijakan jangka panjang.

Dia mengatakan pendidikan perubahan iklim tidak cukup diajarkan di tingkat sekolah dasar saja, tetapi harus berlanjut hingga jenjang berikutnya dengan dukungan guru dan infrastruktur sekolah yang memadai.

“Pendidikan perubahan iklim harus konsisten dan didukung kesiapan guru di sekolah,” ujarnya.

Ledia juga menyoroti pentingnya standar bangunan sekolah yang sesuai dengan kondisi iklim di masing-masing daerah. Menurut dia, sekolah di wilayah panas, rawan petir, atau banjir rob membutuhkan pendekatan infrastruktur yang berbeda.

“Tidak bisa semua daerah diperlakukan sama karena tantangan iklimnya berbeda-beda,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense