Dark/Light Mode

Geopolitik Indonesia: Gerakan Non Blok Bebas Aktif Untuk Menegakkan Perdamaian Dunia

Rabu, 25 Maret 2026 07:38 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejarah geopolitik Indonesia, adalah narasi panjang ­tentang bagaimana sebuah ­bangsa merumuskan posisi strategisnya di tengah dinamika kekuatan global yang terus berubah. Sejak awal kemerdekaan, Indonesia tidak hanya berupaya memper­ta­han­­­­kan kedaulatan, tetapi juga menegaskan peran aktif dalam menciptakan tatanan dunia yang lebih adil dan damai.

Dalam lintasan sejarah tersebut, pengalaman Indonesia da­lam Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung, keterlibatan da­lam Perserikatan Bangsa-Bangsa, hubungan dengan Amerika ­Serikat, serta partisipasi dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP), men­jadi fondasi penting dalam membaca arah geopolitik Indonesia —baik di masa lalu, masa kini, maupun masa depan.

Baca juga : Gerindra Ingatkan Masyarakat, Lebaran Momentum Menjaga Persatuan

Pada masa awal kemerdekaan, dunia berada dalam ketegangan Perang Dingin yang membelah kekuatan global ke dalam dua kutub besar. Dalam situasi itu, Indonesia menghadapi dilema klasik: mengikuti salah satu blok atau mengambil jalan sendiri. Pilihan Indonesia untuk tidak berpihak secara ideologis bukan­lah sikap netral yang pasif, melainkan keputusan strategis yang berakar pada semangat kemerdekaan.

Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, menjadi tonggak penting yang menegaskan posisi tersebut. Di forum ini, Indonesia bersama negara-negara Asia dan Afrika membangun solidaritas global yang melampaui kepentingan sempit dan menolak dominasi kekuatan besar. Se­mangat Bandung kemudian menemukan artikulasinya dalam berbagai bentuk diplomasi internasional, termasuk keterlibatan Indonesia dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP).

Baca juga : One Way dan Contraflow Efektif, Pemudik Rasakan Perjalanan Lebih Lancar

Keikutsertaan Indonesia dalam BoP bukan sekadar formalitas organisasi, tetapi merupakan perwujudan nyata dari komitmen untuk mempromosikan perdamaian dunia tanpa harus terikat pada kepentingan salah satu blok kekuatan. Indonesia memahami bahwa perdamaian tidak dapat dicapai jika dunia terus terjebak dalam logika ­rivalitas dan ­dominasi. Dengan tidak berpihak pada salah satu blok, Indonesia justru memperoleh ­legitimasi untuk berperan ­sebagai mediator dan penjembatan kepentingan. Dalam konteks ini, prinsip politik luar negeri bebas aktif bukan hanya slogan, tetapi strategi yang memungkinkan Indonesia untuk tetap relevan di tengah dinamika internasional yang kompleks.

Memasuki era kontemporer, lanskap geopolitik dunia ­mengalami transformasi signifikan. Dunia hari ini berdiri di persimpangan krisis yang saling berkelindan. Perang antara Rusia dan Ukraina terus mengguncang stabilitas energi dan pangan global, memperlihatkan betapa rapuhnya ketahanan dunia terhadap konflik bersenjata. Di Timur Tengah, eskalasi antara Iran dan poros Israel–Amerika Serikat memperbesar risiko konflik yang lebih luas, terutama karena kawasan ini merupakan simpul utama distribusi energi dunia. Setiap percikan konflik di wilayah tersebut bukan hanya persoalan regional, melainkan ancaman sistemik yang dapat mengguncang harga minyak dan stabilitas ekonomi internasional.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.