BREAKING NEWS
 

Ekspor-Impor Naik, Neraca Dagang RI Surplus 1,6 T

Reporter : BHAYU AJI PRIHARTANTO
Editor : UJANG SUNDA
Rabu, 3 Juni 2026 08:39 WIB
Tabel neraca perdagangan Indonesia April 2026. (Tabel Dok. BPS)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perdagangan Indonesia masih cuan. Aktivitas ekspor dan impor sama-sama naik. Sepanjang April 2026, Indonesia juga sukses membukukan surplus neraca perdagangan sebesar 89,1 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,6 triliun.

Deputi Badan Metodologi dan Informasi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini menjelaskan, nilai ekspor pada April 2026 mencapai 25,30 miliar dolar AS atau sekitar Rp 451,56 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan impor yang tercatat 25,21 miliar dolar AS atau sekitar Rp 449,5 triliun pada periode yang sama. 

“Pada April 2026, neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar 89,1 juta dolar AS. Dengan demikian neraca perdagangan telah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” ujar Pudji, dalam konferensi pers, di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Menurut Pudji, kinerja positif tersebut ditopang sektor nonmigas yang membukukan surplus 3,53 miliar dolar AS. Kontributor utamanya berasal dari komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja yang masih menunjukkan permintaan kuat di pasar internasional.

Kenaikan ekspor paling besar berasal dari komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati (HS 15) yang melonjak 66,59 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Komoditas ini menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekspor nasional.

Pertumbuhan juga terjadi pada ekspor nikel dan produk turunannya yang naik 75,52 persen, serta mesin dan peralatan mekanis yang meningkat 57,90 persen.

Untuk ekspor migas, tercatat sebesar 1,15 miliar dolar AS atau turun 1,02 persen. “Sementara nilai ekspor nonmigas tercatat naik 23,36 persen dengan nilai 24,15 miliar dolar AS,” jelas Pudji.

Baca juga : IHSG Mulai Bertenaga, Rupiah Masih Lemah

Di sisi impor, mengalami peningkatan cukup tinggi. Nilainya mencapai 25,21 miliar dolar AS atau naik 22,49 persen dibandingkan April tahun lalu. Peningkatan tersebut didorong oleh lonjakan impor migas. Nilainya mencapai 4,60 miliar dolar AS atau naik 82,52 persen secara tahunan.

"Sedangkan impor nonmigas 20,62 miliar dolar AS dan mengalami peningkatan secara tahunan sebesar 14,11 persen,” paparnya.

Kenaikan impor membuat surplus perdagangan pada April relatif tipis. Pasalnya, sektor migas masih mencatat defisit yang cukup besar, yakni mencapai 3,44 miliar dolar AS.

BPS menjelaskan, defisit migas terutama berasal dari tingginya impor minyak mentah, hasil minyak, dan gas alam. Meski demikian, secara kumulatif posisi perdagangan Indonesia sepanjang empat bulan pertama tahun ini masih terjaga positif. 

“Hingga April 2026, neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar 5,64 miliar dolar AS," pungkasnya.

Adsense

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyambut positif berlanjutnya tren surplus neraca perdagangan Indonesia. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung, capaian tersebut menunjukkan ketahanan sektor perdagangan nasional sekaligus membuktikan produk-produk Tanah Air masih mampu bersaing di pasar internasional.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kemendag Ni Made Kusuma Dewi mengatakan, surplus yang terus terjaga selama enam tahun terakhir menjadi sinyal bahwa permintaan terhadap produk ekspor Indonesia masih cukup kuat. Menurutnya, kondisi tersebut patut disyukuri mengingat banyak negara masih menghadapi tantangan perlambatan ekonomi, gangguan rantai pasok, hingga gejolak geopolitik yang memengaruhi perdagangan dunia.

Baca juga : Ekspor Satu Pintu Sawit-Batu Bara Dimulai Hari Ini, Pengusaha Manut Tapi Kasih Catatan

“Tentu kami menyambut gembira surplusnya neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut di tengah situasi global saat ini. Ini menandakan bahwa produk kita berdaya saing di pasar global,” ujarnya, kepada Rakyat Merdeka, Selasa (2/6/2026).

Meski demikian, Kemendag menekankan, capaian tersebut tidak boleh membuat Pemerintah berpuas diri. Upaya memperluas akses pasar dan memperkuat posisi produk Indonesia di pasar internasional akan terus dilakukan agar kinerja ekspor tetap terjaga. Terlebih, persaingan di pasar global semakin ketat dan sejumlah negara mulai menerapkan berbagai kebijakan perdagangan untuk melindungi industri dalam negerinya.

Karena itu, Pemerintah akan terus mendorong berbagai program yang telah dijalankan selama ini. Selain menjaga pasar domestik dari serbuan produk impor, Kemendag juga berupaya membuka peluang ekspor ke pasar-pasar baru dan mendorong lebih banyak pelaku usaha nasional menembus pasar internasional.

“Kami akan terus berupaya untuk tetap menjaga kinerja ekspor yang ada dengan terus menggencarkan program yang selama ini diusung Bapak Mendag yaitu pengamanan pasar dalam negeri, perluasan pasar ekspor, dan program dari lokal untuk global,” tandasnya.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menerangkan, surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut. Hal ini menjadi bukti ketahanan sektor eksternal Indonesia yang tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global.

Haryo mengatakan, surplus neraca perdagangan pada April 2026 memang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, kenaikan impor tersebut tidak seluruhnya mencerminkan pelemahan ekonomi. Sebab, sebagian besar peningkatan impor berasal dari bahan baku, barang modal, dan kebutuhan produksi yang digunakan untuk mendukung aktivitas ekonomi di dalam negeri.

"Perkembangan ini dapat dipandang sebagai hal yang positif karena mampu mendorong kapasitas produksi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026," ujar Haryo, kepada Rakyat Merdeka, Selasa (2/6/2026).

Baca juga : Saling Serang Lagi, Perang AS vs Iran Nggak Beres-beres

Ia menegaskan, Pemerintah terus berupaya menjaga ketahanan energi nasional guna mengurangi ketergantungan terhadap impor migas. Salah satu langkah yang ditempuh adalah meningkatkan produksi migas domestik serta mempercepat pemanfaatan energi terbarukan dan bahan bakar nabati.

Saat ini, Pemerintah tengah menyiapkan implementasi program biodiesel B50. Selain itu, pengembangan bioetanol dan bioavtur juga dilakukan secara bertahap sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi nasional.

Menurut Haryo, penerapan B50 diperkirakan mampu memberikan penghematan devisa yang signifikan melalui pengurangan impor solar. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat penggunaan sumber energi domestik sekaligus memperbaiki kinerja neraca perdagangan pada masa mendatang.

Selain itu, Pemerintah juga terus memperkuat kinerja ekspor nonmigas. Upaya itu dilakukan melalui percepatan hilirisasi industri dan peningkatan ekspor produk manufaktur bernilai tambah.

“Pemerintah terus memperkuat kinerja ekspor nonmigas melalui hilirisasi dan peningkatan ekspor manufaktur bernilai tambah agar surplus nonmigas tetap menjadi penopang utama neraca perdagangan Indonesia,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense