BREAKING NEWS
 

Mitigasi Dampak Gejolak Ekonomi Global

Bank Sentral Naikkan BI Rate Menjadi 5,25 Persen

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Kamis, 4 Juni 2026 06:40 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo. (Foto: Dok. BI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuannya atau BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen. Langkah ini merupakan respons cepat Bank Sentral hadapi guncangan ekonomi global untuk membentengi ekonomi domestik, menahan laju inflasi dan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah.

Keputusan menaikkan suku bunga tersebut ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada 19-20 Mei 2026. Selain menaikkan BI Rate, BI menaikkan suku bunga Deposit Facility 50 bps menjadi 4,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 6 persen. 

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, kenaikan ini merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah (Timteng). 

Serta sebagai langkah preemptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen yang ditetapkan Pemerintah. 

“Keputusan ini sejalan dengan fokus kebijakan moneter pada stabilitas (pro-stability) untuk memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia dari dampak gejolak global,” ungkap Perry dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (20/5/2026). 

Baca juga : Airlangga Kawal Aksesi Indonesia Masuk OECD

Untuk kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran, papar Perry, tetap diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan (pro-growth). 

“Kebijakan makroprudensial longgar terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kredit atau pembiayaan ke sektor riil dengan tetap mempertahankan stabilitas sistem keuangan,” jelas Perry. 

Perry juga menegaskan, kebijakan sistem pembayaran juga terus diarahkan untuk turut mendukung kegiatan ekonomi digital dan keuangan inklusif melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan keandalan dan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran. 

Perry menjelaskan, tingginya gejolak global akibat perang di Timteng saat ini telah memperburuk kondisi dan prospek perekonomian dunia. Ditambah lagi terjadi penutupan Selat Hormuz yang mengakibatkan harga minyak dunia melambung. 

“Terganggunya produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan antarnegara juga mendorong kenaikan pada harga komoditas dunia lainnya,” katanya. 

Baca juga : Jangan Tunggu Rusak Parah, Baru Bertindak

Perkembangan ini mengakibatkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan lebih rendah menjadi sebesar 3 persen, dan tekanan inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,3 persen. 

“Respons kebijakan moneter global menjadi lebih ketat, bahkan sejumlah Bank Sentral mulai menaikkan kebijakan suku bunganya,” terang Perry. 

Suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), Fed Funds Rate (FFR) diperkirakan tidak akan turun hingga akhir 2026. Dan terdapat kemungkinan akan mengalami kenaikan pada 2027 dengan inflasi AS yang masih tinggi. 

Sementara imbal hasil (yield) United State (US) Treasury yang telah naik ke 4,66 persen (tenor 10 tahun) dan 4,11 persen (tenor 2 tahun) pada 19 Mei 2026, diperkirakan akan naik lebih tinggi didorong oleh defisit fiskal AS yang membesar. 

“Di pasar keuangan global, memburuknya kondisi global tersebut mendorong berlanjutnya pelarian modal keluar dari berbagai negara, termasuk negara Emerging Markets, ke aset yang memberikan imbal hasil tinggi dan aman (safe-haven assets) khususnya obligasi AS,” tuturnya. 

Adsense

Baca juga : Ultras Milan Serang Cardinale

Perkembangan ini juga mendorong kuatnya Indeks dolar AS, dan menimbulkan tekanan pelemahan baik terhadap mata uang negara maju (DXY) maupun mata uang negara berkembang (ADXY). 

Perry menekankan, terus memburuknya prospek perekonomian dan pasar keuangan global mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense