RM.id Rakyat Merdeka - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai bangkit. Pada perdagangan Selasa (9/6/2026), IHSG ditutup menguat 7,57 persen. Saham-saham BUMN dan emiten konglomerat menjadi motor penggerak yang menghijaukan bursa.
Penguatan pasar terjadi seiring dengan langkah cepat DPR dan Pemerintah merespons gejolak yang sebelumnya menyeret saham-saham perbankan BUMN. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengumpulkan jajaran Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), Danantara, BPJS Ketenagakerjaan, Taspen, dan Indonesia Investment Authority (INA) dalam Rapat Koordinasi di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Hadir dalam pertemuan tersebut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria, Direktur Utama BRI Hery Gunardi, Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama Bank Mandiri Riduan, Direktur Utama Taspen Rony Hanityo Aprianto, Direktur Utama INA Oki Ramadhana, serta jajaran BPJS Ketenagakerjaan.
Agenda utama yang dibahas adalah perkembangan pasar saham, khususnya saham-saham BUMN yang dinilai memiliki fundamental kuat. Dalam pertemuan itu juga dibahas berbagai opsi untuk menjaga kepercayaan pasar, termasuk peluang melakukan pembelian kembali saham atau buyback terhadap emiten yang memiliki fundamental kuat.
“Kita berada pada kesempatan yang tepat untuk buyback saham-saham di pasar,” ujar Dasco.
Usai rapat yang berlangsung sekitar 2 jam itu, Dasco menegaskan, DPR melakukan koordinasi dan evaluasi terhadap perkembangan sektor perbankan nasional. Menurutnya, kondisi saat ini justru dapat menjadi momentum bagi investor untuk kembali melirik saham-saham bank BUMN yang dinilai memiliki prospek baik.
“Saham-saham yang pada saat ini bagus bisa dibeli kembali,” ucap Ketua Harian Partai Gerindra ini.
Baca juga : Wasit Terbaik Afrika Ditolak Masuk AS, FIFA Angkat Tangan
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menegaskan, fundamental Himbara berada dalam kondisi sangat kuat. Pertumbuhan kredit masih berada di kisaran 20 persen. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sekitar 20 hingga 30 persen. Sementara, rasio kredit bermasalah (NPL) rata-rata masih di bawah 2 persen.
“Saat ini, kinerja Himbara secara fundamental sangat bagus. Rasanya tidak perlu ada kekhawatiran, keraguan terhadap kondisi fundamental di bursa,” ucapnya.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi ikut memastikan, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski pasar keuangan global tengah menghadapi tekanan. “Alhamdulillah sebagaimana tadi sudah disampaikan bahwa betul-betul sesungguhnya fundamental ekonomi kita dari sisi perbankan sangat kuat,” ujarnya.
Bank Indonesia (BI) juga terus berupaya menarik minat investor. Dalam Rapat Dewan Gubernur yang digelar pada hari yang sama, Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.
Hal ini langsung direspons positif pasar. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia bergairah. IHSG ditutup menguat 7,57 persen ke level 5.746,65. Volume transaksi mencapai 44,32 miliar lembar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 27,3 triliun. Terdapat 708 saham menguat, 152 saham stagnan, dan 99 saham melemah.
Penguatan dipimpin saham-saham Himbara. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) paling gacor dengan melesat 10,24 persen ke Rp 4.090. Kemudian, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melompat 8,64 persen ke Rp 3.270 dan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menguat 7,72 persen ke Rp 2.790.
Dari kelompok konglomerasi, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) bangkit 6,19 persen ke Rp 5.150, saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) milik Hapsoro melonjak 24,55 persen ke harga Rp 685 per saham, dan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) milik Prajogo Pangestu menguat 8,41 persen ke level Rp 1.740 per saham.
Baca juga : Kesandung Suap Proyek, Bupati Muara Enim Jadi TSK
Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, penguatan IHSG tidak hanya didorong perbaikan sentimen pasar, tetapi juga respons positif investor terhadap kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia.
Menurut Josua, salah satu pemicu utama penguatan pasar adalah keputusan BI menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen. Kebijakan ini memberikan sinyal kuat bahwa otoritas moneter berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan yang sempat melanda pasar keuangan domestik.
“Pasar merespons positif langkah BI menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen karena kebijakan tersebut memberi sinyal tegas bahwa BI tidak membiarkan rupiah bergerak terlalu liar,” ujar Josua, kepada Rakyat Merdeka, Selasa (9/6/2026).
Ia menilai, kenaikan suku bunga turut memperkuat daya tarik aset berdenominasi rupiah, mengurangi ruang spekulasi terhadap pelemahan mata uang domestik, sekaligus memberi ruang pemulihan bagi pasar saham.
Selain faktor kebijakan moneter, Josua melihat penguatan IHSG juga dipengaruhi kondisi pasar yang sebelumnya telah mengalami koreksi cukup dalam. Kondisi tersebut mendorong investor kembali melakukan akumulasi pada saham-saham yang dinilai sudah berada pada level harga menarik.
“IHSG sebelumnya sudah turun terlalu dalam, sehingga kenaikan hari ini juga mencerminkan aksi beli kembali setelah harga banyak saham terkoreksi tajam. Dengan kata lain, sebagian kenaikan hari ini bersifat pemulihan teknis,” katanya.
Di saat yang sama, kata dia, investor domestik mulai melihat sejumlah saham memiliki valuasi yang lebih menarik setelah mengalami penurunan tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Baca juga : Golkar: Parlemen Butuh Lebih Banyak Pemimpin Perempuan
Meski demikian, Josua mengingatkan bahwa penguatan IHSG saat ini belum bisa diartikan sebagai pulihnya kepercayaan investor asing secara penuh terhadap pasar Indonesia.
Menurutnya, data aliran dana masih menunjukkan tekanan di pasar saham, sementara arus masuk dana lebih banyak mengalir ke instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Rupiah Ikut Menguat
Nilai tukar rupiah ikut menguat berbarengan dengan menghijaunya IHSG. Dalam penutupan perdagangan Selasa (9/6/2026), rupiah berada di level Rp 18.050 per dolar AS.
Posisi ini menunjukkan penguatan signifikan dibandingkan posisi pada pembukaan perdagangan yang berada di level Rp 18.170 dolar AS. Seharian kemarin, rupiah tercatat menguat 120 poin atau sebesar 0,660 persen.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.