BREAKING NEWS
 

Visual Media Trap: Jeratan Visual yang Mengancam di Era Digitalisasi Media

Writer : Muhammad Faisal Saihitua
Editor : UJANG SUNDA
Rabu, 24 Juni 2026 20:53 WIB
Visual media trap (Gambar: Dok. Pribadi)

Dari mata jatuh ke hati. Pepatah klasik ini, meski mungkin kurang familiar bagi generasi Z maupun Alpha yang lekat dengan perangkat teknologi, namun tetap relevan. Memandang memang proses menyerap informasi yang sangat efektif. Visualisasi menarik mampu memikat siapa pun yang melihatnya. Memori manusia cenderung lebih menangkap visualisasi yang menarik dibandingkan teks panjang, meski teks tersebut berasal dari perangkat digital.

Fenomena ini diperkuat oleh Allan Paivio melalui teori dual-coding (1973). Paivio menjelaskan bahwa gambar diproses melalui dua saluran kognitif yakni verbal dan imajinal, sehingga lebih mudah diingat dan diakses daripada kata-kata semata. Penelitian Paivio dan Csapo (1973) dalam Cognitive Psychology menunjukkan superioritas gambar dalam free recall, yang menjadi dasar picture superiority effect. Temuan ini konsisten hingga studi terkini yang menegaskan keunggulan visual dalam memori jangka pendek dan panjang.

Saya menyebut fenomena ini sebagai ‘Visual Media Trap’. Seseorang sangat mudah terkelabui oleh pemberitaan berbasis video pendek ketimbang mencari sumber informasi komprehensif. Di tengah gempuran teknologi digital, media publik memiliki varian sumber berita yang beragam. Namun, di situasi yang cenderung tidak stabil, analisis sumber pemberitaan komprehensif menjadi kebutuhan mendesak.

Tantangan Bisnis Media

Baca juga : Seminar FH UPH-Komdigi Bedah Pergeseran Paradigma Hukum di Era Digital

Tantangan ‘Visual Media Trap’ ini tengah dialami media pemberitaan saat ini, sadar atau tidak. Meningkatkan bounce rate dan jumlah pengunjung (visitor) dalam media berita digital adalah keniscayaan untuk menjaga dan meningkatkan bisnis media. Menarik minat pembaca bukan pekerjaan mudah. Persaingan antar media berita nasional saja sudah sangat signifikan.

Menurut data Dewan Pers, hingga tahun 2026, tercatat sebanyak 1.261 media telah terverifikasi secara administratif dan faktual. Media siber mendominasi dengan 952 platform, diikuti media cetak (250), televisi (48), dan radio (11). Dari jumlah tersebut, media harus menghadapi gempuran media sosial yang masif dalam menyajikan framing pemberitaan secara real-time dan aktual.

Penelitian Reuters Institute Digital News Report dan survei Indikator Politik Indonesia (2026) menunjukkan bahwa meski kepercayaan terhadap media arus utama masih lebih tinggi dibanding media sosial, trennya menurun. Survei Indikator menyebut publik masih lebih percaya media mainstream, tetapi media sosial unggul dalam kecepatan dan aksesibilitas, sehingga sering menjadi sumber utama generasi muda. Studi lain dari AJI dan berbagai lembaga menegaskan bahwa kepercayaan terhadap media sosial cenderung lebih rendah karena maraknya misinformasi, meski penggunaannya lebih tinggi.

Menarik minat pembaca bukan sekadar soal profit bisnis media. Ada tugas luhur yang harus dipegang insan pers, yaitu memberikan edukasi komprehensif dari setiap peristiwa. Di tengah minat baca dan literasi digital Indonesia yang masih tertinggal dibanding negara lain di kawasan ASEAN, kita sering terperangkap dalam framing pemberitaan. Data Indeks Literasi Digital ASEAN menempatkan Indonesia di posisi terendah dengan skor sekitar 62%, sementara rata-rata ASEAN mencapai 70%. Singapura berada di atas 76%, sementara negara tetangga lain seperti Malaysia dan Thailand juga lebih unggul.

Baca juga : Skor Kaca Mata Inggris Vs Ghana, Persaingan Grup L Memanas

Meski Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) naik menjadi 44,53 pada 2025, tantangan literasi kritis tetap besar, terutama di kalangan generasi muda yang sangat akrab dengan teknologi tetapi rentan terhadap konten viral tanpa verifikasi.

Antara Dua Narasi

Ada dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari tujuan media pemberitaan. Pertama, target profit dan nilai ekonomi yang signifikan. Kedua, literasi digital komprehensif bagi publik pembaca, terutama generasi muda yang kritis terhadap fakta dan data, serta sangat akrab dengan teknologi.

Pada akhirnya, bisnis media bukan hanya narasi profit dalam ekosistem digital, melainkan narasi luhur tentang kecerdasan dan nalar anak bangsa dalam melihat peristiwa. Seperti yang dikatakan Aristoteles, “It is the mark of an educated mind to be able to entertain a thought without accepting it” (Tanda dari pikiran yang terdidik adalah kemampuan untuk mempertimbangkan suatu pemikiran tanpa langsung menerimanya). Kutipan ini, yang sering dikaitkan dengan etika dan epistemologi Aristoteles dalam karya-karyanya seperti Nicomachean Ethics, menekankan pentingnya berpikir kritis dan tidak terjebak pada kesan pertama, termasuk visual yang memikat.

Baca juga : Perumda TKR Segera Pasang Jaringan Air Bersih di Cluster Catalina Gading Serpong

Di era saat algoritma media sosial mendorong konten visual sensasional, insan pers harus menjadi benteng terakhir literasi. Media memiliki tanggung jawab ganda yakni, bertahan secara ekonomi sambil menjaga integritas jurnalistik. Visual memang kuat, tetapi tanpa konteks dan analisis mendalam, bisa menjadi jebakan yang merusak nalar publik.

Untuk mengatasi ‘Visual Media Trap’, media harus berinovasi. Menggabungkan kekuatan visual dengan narasi mendalam, verifikasi fakta yang transparan, dan edukasi literasi digital. Kolaborasi antar media, pemerintah, dan komunitas sipil diperlukan untuk meningkatkan kesadaran publik. Generasi Z dan Alpha bukan hanya menjadi target audiens semata, melainkan mitra yang perlu dibekali alat berpikir kritis agar tidak hanya mengonsumsi, tapi juga memahami dan mencipta informasi berkualitas.

Sebagai media nasional, kita diajak kembali ke esensi pers. Bukan sekadar menyajikan berita, tapi menerangi kebenaran. Dari mata memang jatuh ke hati, tetapi hati yang cerdas akan selalu mencari cahaya akal sehat di balik setiap visual yang memikat. Hanya dengan demikian, bangsa ini dapat maju sebagai masyarakat yang tidak hanya terhubung secara digital, tetapi juga terdidik secara utuh dan menyeluruh.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense