RM.id Rakyat Merdeka - Ikatan Ahli Perpipaan Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAPMIGAS) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pembangunan sektor energi nasional.
Hal itu dilakukan melalui penyelenggaraan Luncheon Talk & Policy Brief Launching bertajuk Roadmap Akselerasi Peran Gas Bumi sebagai Energi Transisi Guna Kedaulatan Energi Indonesia.
Kegiatan yang digelar di Jakarta pada Rabu (24/6/2026) itu menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran gas bumi sebagai tulang punggung transisi energi nasional yang berkelanjutan, kompetitif, dan berdaya saing tinggi.
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional dan komitmen terhadap transisi energi, gas bumi dinilai memiliki posisi strategis sebagai energi transisi yang mampu menjembatani kebutuhan ketahanan energi sekaligus mendukung pengurangan emisi.
Namun, pengembangan sektor gas bumi masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur, ketidakseimbangan antara lokasi pasokan dan permintaan, hingga perlunya harmonisasi kebijakan serta kepastian investasi.
Sebagai respons atas tantangan tersebut, IAPMIGAS bersama para pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, industri, akademisi, dan asosiasi melakukan serangkaian diskusi serta kajian mendalam yang menghasilkan policy brief berisi rekomendasi strategis untuk mempercepat pengembangan sektor gas bumi nasional.
Ketua IAPMIGAS Rosa Permata Sari mengatakan, penyusunan policy brief tersebut merupakan kontribusi nyata organisasi dalam mendukung agenda pembangunan energi nasional.
“Gas bumi memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendukung proses transisi energi Indonesia. Melalui policy brief ini, IAPMIGAS berupaya menghadirkan rekomendasi yang konstruktif dan implementatif untuk mempercepat pengembangan infrastruktur, memperkuat tata kelola, serta meningkatkan daya saing sektor gas bumi nasional,” ujar Rosa.
Baca juga : Cek Endra Dukung Percepatan Eksplorasi Wilayah Kerja Migas Baru
Acara tersebut dihadiri sekitar 100 peserta yang berasal dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, BPH Migas, SKK Migas, DPR RI, BUMN energi, perusahaan migas nasional, penyedia jasa industri, asosiasi profesi, hingga lembaga kajian energi.
Dalam policy brief yang diluncurkan, IAPMIGAS menyoroti lima isu strategis yang dinilai menjadi kunci percepatan pengembangan gas bumi nasional.
Pertama, percepatan integrasi infrastruktur gas bumi nasional melalui penyelesaian proyek-proyek strategis, termasuk pembangunan jaringan pipa transmisi dan sistem distribusi yang terintegrasi untuk menghubungkan sumber pasokan dengan pusat permintaan energi.
Kedua, optimalisasi rantai nilai gas bumi melalui sinkronisasi sisi pasokan dan permintaan agar pemanfaatan infrastruktur menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.
Pengembangan infrastruktur LNG, fasilitas regasifikasi, dan penguatan jaringan distribusi menjadi bagian penting dalam strategi tersebut.
Ketiga, percepatan program substitusi LPG melalui pembangunan jaringan gas rumah tangga dan pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) guna mengurangi ketergantungan impor LPG sekaligus menekan beban subsidi negara.
Keempat, penguatan aspek standardisasi, keselamatan, dan keandalan teknis infrastruktur gas bumi melalui penerapan standar yang konsisten, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penguatan sistem keselamatan.
Kelima, harmonisasi regulasi dan peningkatan kepastian investasi untuk menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif melalui penyederhanaan perizinan, kepastian tarif, dan sinkronisasi kebijakan lintas sektor.
Baca juga : Dukung Kesehatan Mulut & Gigi, usmile Luncurkan Pasta Gigi Strength White
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan, pemerintah saat ini mempercepat pemanfaatan gas bumi melalui pembangunan jaringan pipa transmisi yang menghubungkan Pulau Jawa dari ujung timur hingga barat setelah rampungnya proyek Cisem 1 dan Cisem 2.
Selain itu, pemerintah juga mengembangkan jaringan pipa Sumatera yang membentang dari Aceh hingga wilayah selatan pulau tersebut.
Menurut Laode, jaringan pipa transmisi tersebut nantinya akan terhubung dengan pipa distribusi menuju sejumlah kota seperti Semarang, Solo, Yogyakarta, Bandung, dan Cirebon.
Pemerintah juga memperkuat pembangunan jaringan gas rumah tangga untuk memperluas pemanfaatan gas bumi dan mengurangi ketergantungan terhadap LPG.
Ia mengakui, pembangunan infrastruktur migas membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat tahun karena mencakup tahapan rekayasa, pengadaan, konstruksi, hingga pembangunan fasilitas produksi.
Meski demikian, pemerintah terus mempercepat sejumlah proyek strategis, termasuk pengembangan lapangan gas yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2029 untuk menambah pasokan gas nasional dalam jumlah besar.
Direktur Bureau Veritas sekaligus Kepala Dewan Pengawas IAPMIGAS, Didie Tedjosumirat, menekankan bahwa peningkatan kepercayaan investor terhadap sektor gas bumi sangat bergantung pada tata kelola yang kredibel serta jaminan keandalan infrastruktur yang dikembangkan.
Menurutnya, kepercayaan investor hanya dapat dibangun melalui pengawasan menyeluruh sejak tahap perencanaan, pembangunan, hingga operasi untuk memastikan penerapan standar keselamatan, kualitas, dan praktik terbaik dunia.
Baca juga : Jaga Terumbu Karang, Surveyor Indonesia Luncurkan Program Pesisir Berdaya Lestari
“Keberadaan lembaga independen menjadi penting untuk memverifikasi bahwa seluruh tahapan proyek telah menggunakan teknologi terbaik serta memenuhi standar internasional sehingga mampu memberikan keyakinan kepada investor,” ujarnya.
Direktur Utama PT Pertamina Gas, Indra P. Sembiring menegaskan bahwa gas bumi memiliki peran strategis sebagai energi transisi karena mampu menjembatani peralihan dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan dengan biaya yang relatif ekonomis dan emisi yang lebih rendah.
Menurutnya, Indonesia memiliki cadangan gas yang cukup besar. Namun tantangan utama saat ini adalah menghubungkan sumber pasokan dengan konsumen melalui pembangunan infrastruktur yang memadai.
“Masyarakat sebenarnya sudah memahami manfaat penggunaan gas, terlihat dari tingginya penggunaan LPG dan meningkatnya minat terhadap jaringan gas rumah tangga. Tantangan utamanya adalah pemerataan infrastruktur distribusi,” kata Indra.
Ia menambahkan, penguatan ketahanan energi nasional membutuhkan keselarasan pandangan antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan konsumen agar pengembangan regulasi, pasokan, serta infrastruktur dapat berjalan seimbang.
Melalui peluncuran policy brief ini, IAPMIGAS berharap pengembangan sektor gas bumi dapat berlangsung lebih cepat dan terintegrasi sehingga mampu menjadi fondasi penting dalam mewujudkan kedaulatan energi Indonesia, sekaligus mendukung target transisi energi nasional yang berkelanjutan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.