Dark/Light Mode

Pancasila Dan Literasi: Dua Pilar Indonesia Menghadapi Ketidakpastian Global

Senin, 8 Juni 2026 07:56 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Dunia sedang me­masuki fase yang penuh ketidakpastian. Konflik geopolitik di berbagai kawasan, persaingan ekonomi antarnegara, disrupsi teknologi kecerdasan buatan, perubahan iklim, hingga perang ­informasi yang berlangsung di ruang ­digital –telah menciptakan ­tantangan baru bagi setiap bangsa. Tidak ada negara yang benar-benar kebal terhadap perubahan ini.

Bahkan, negara-negara maju sekalipun harus terus ber­adaptasi agar tidak tertinggal dalam kompetisi global yang semakin ketat. Dalam situasi seperti ini, Indonesia membutuhkan fondasi yang kuat agar mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah arus perubahan dunia. Fondasi tersebut adalah ideologi yang kokoh, dan literasi yang maju.

Bagi Indonesia, ideologi itu adalah Pancasila. Sejak awal kemerdekaan, Pancasila telah menjadi titik temu berbagai perbedaan yang ada di Nusantara. Di tengah keberagaman suku, agama, bahasa, budaya, dan kepentingan politik, Panca­sila hadir sebagai perekat yang ­menyatukan bangsa. Ia bukan sekadar dasar negara yang tercantum dalam konstitusi, melainkan pandangan hidup yang memberikan arah bagi per­jalanan Indonesia.

Tambahan pula tantangan zaman saat ini berbeda dengan masa ketika Indonesia pertama kali merdeka. Ancaman terhadap bangsa tidak lagi selalu datang dalam bentuk penjajahan fisik atau agresi militer. ­Ancaman ­justru hadir melalui ruang ­digital, infiltrasi budaya, penyebaran hoaks, radikalisme, polarisasi sosial, hingga berbagai bentuk manipulasi informasi yang dapat memengaruhi cara berpikir masyarakat. Dalam era media ­sosial, seseorang dapat ­menerima ribuan informasi setiap hari tanpa memiliki cukup waktu untuk memverifikasi kebenarannya. Akibatnya, masyarakat menjadi rentan terhadap disinformasi yang dapat memecah persatuan bangsa.

Baca juga : Pancasila Di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global

Di sinilah pentingnya literasi. Literasi tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai kemampuan membaca dan menulis. Literasi modern mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, menganalisis fakta, membedakan antara opini dan data, serta mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang benar. Literasi adalah kemampuan yang memungkinkan seseorang tidak mudah terjebak dalam propaganda, manipulasi, atau informasi palsu yang beredar di ruang publik.

Dengan begitu hubungan ­antara Pancasila dan ­literasi ­sesungguhnya sangat erat. Panca­sila memberikan arah moral dan tujuan kehidupan berbangsa, sementara literasi memberikan kemampuan ­untuk mewujudkan tujuan tersebut. Tanpa ideologi yang kuat, ­literasi dapat kehilangan orientasi dan hanya menjadi alat ­teknis tanpa arah. Sebaliknya, tanpa ­literasi yang memadai, nilai-nilai Panca­sila hanya akan menjadi slogan yang sulit di­wujudkan dalam kehidupan nyata. Ke­duanya ­saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan.

Dalam konteks pembangunan nasional, literasi juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing bangsa. Dunia saat ini sedang bergerak menuju ekonomi berbasis pengetahuan. Kekuatan suatu negara tidak lagi hanya ditentukan oleh luas wilayah atau kekayaan sumber daya alamnya, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusianya. Negara-negara yang mampu menghasilkan inovasi, teknologi, dan ilmu pengetahuan akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam percaturan global.

Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan utama dunia pada pertengahan abad ke-21. Bonus demografi yang dimiliki saat ini merupakan modal strategis yang sangat berharga. Jutaan generasi muda Indonesia akan memasuki usia produktif dalam beberapa dekade mendatang. Namun ­peluang tersebut hanya akan menjadi keuntungan apabila didukung oleh kualitas pendidikan dan budaya literasi yang kuat. Tanpa literasi yang memadai, bonus demografi dapat berubah menjadi tan­tangan yang justru memperlambat ­pembangunan nasional.

Baca juga : Idul Adha Dan Memperingati Lahirnya Pancasila Di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global

Literasi juga merupakan bagian penting dari ketahanan nasional. Dalam konsep ­keamanan modern, perang tidak selalu dilakukan dengan senjata. ­Banyak negara kini menggunakan perang informasi untuk me­mengaruhi opini publik negara lain. Informasi yang menyesatkan dapat digunakan untuk menciptakan ketidakpercayaan terhadap institusi negara, memperuncing konflik sosial, bahkan melemahkan persatuan nasional. Oleh karena itu, masyarakat yang ­memiliki tingkat literasi tinggi akan menjadi benteng pertama dalam menghadapi berbagai ancaman nonmiliter tersebut.

Pada saat yang sama, Panca­sila berfungsi sebagai kompas moral yang menjaga arah perjalanan bangsa. Kemajuan teknologi dan ekonomi sering kali membawa konsekuensi sosial yang kompleks. Kecerdasan buatan, digitalisasi, dan otomatisasi memang membuka banyak peluang, tetapi juga dapat menimbulkan kesenjangan baru apabila tidak dikelola ­dengan bijaksana. Maka Pancasila memberikan kerangka etis agar kemajuan tidak ­mengorbankan kemanusiaan, keadilan, dan persatuan.

Dengan kata lain, Panca­sila memastikan bahwa pem­bangunan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kesejahteraan yang berkeadilan. Karena itu, membangun Indonesia masa depan tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur fisik. Jalan raya, pelabuhan, kawasan industri, dan teknologi modern memang penting, tetapi pembangunan manusia jauh lebih menentukan.

Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki gedung tinggi dan teknologi canggih. Melainkan pula sebagai bangsa yang memiliki warga negara yang berkarakter, ber­pengetahuan, dan mampu berpikir kritis. Di sinilah peran pendidikan dan literasi menjadi sangat strategis. Dari itu generasi muda Indonesia harus dipersiapkan memiliki keberanian untuk berpikir, kemampuan untuk belajar sepanjang hayat, dan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.

Baca juga : Hut Ke 61 Lemhannas RI: Membumikan Falsafah Pancasila Dalam Sistem Pendidikan Dan Kajian Di Lemhannas Ri

Masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas manusianya. Maka Pancasila dan ­literasi merupakan dua pilar yang harus berjalan beriringan dalam membangun kualitas tersebut. Pancasila memberikan arah dan tujuan, sementara ­literasi menyediakan kemampuan untuk mencapainya. Ketika nilai-nilai Pancasila hidup dalam diri masyarakat yang literat, ­lahirlah manusia Indonesia yang tidak hanya cerdas secara inte­lektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial.

Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Pemerhati ­Geopolitik, dan Geostrategi, serta ­Manajemen Pemerintahan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.