BREAKING NEWS
 

Gencarkan Hilirisasi Nasional

RI Ajak Investor Australia Kerja Sama Ekonomi Hijau

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : FAZRY
Jumat, 3 Juli 2026 06:30 WIB
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu (kiri) menghadiri Indonesia-Australia Business Summit (IABS) for Indonesia Updates 2026 di Sydney, Australia, Selasa (30/6/2026). Foto: Dok. BKPM

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah menawarkan peluang investasi kepada Australia di sektor hilirisasi, pangan, infrastruktur, transisi energi dan ekonomi hijau.

Pemerintah memperkuat kerja sama ekonomi dengan Australia melalui promosi peluang investasi di berbagai sektor strategis. Mulai dari hilirisasi industri, ketahanan pangan, pembangunan infrastruktur, hingga transisi energi dan ekonomi hijau.

Upaya tersebut dilakukan dalam rangkaian kunjungan kerja Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu di Sydney, Australia, pada 29–30 Juni 2026. Salah satu agenda utama kunjungan tersebut adalah menghadiri Indonesia–Australia Business Summit for Indonesia Updates (IABS) 2026.

“Acara tersebut mempertemukan Pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan dan investor kedua negara untuk memperluas kemitraan investasi,” ujar Todotua dalam keterangan resmi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kamis (2/7/2026).

Forum bertema Financing Sustainable Growth: Strengthening Food Systems, Infrastructure, and Economic Resilience between Indonesia and Australia itu menjadi ajang bagi Pemerintah untuk menegaskan besarnya peluang investasi antara Indonesia dan Australia yang didukung hubungan ekonomi saling melengkapi, serta implementasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Baca juga : RI-ASEAN Berpotensi Jadi Penyeimbang AS Dan China

“Pemerintah Indonesia terus melakukan reformasi iklim investasi melalui penyederhanaan perizinan, pemberian insentif fiskal dan nonfiskal, serta pengembangan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus,” ujar Todotua.

Dia mengajak investor Australia mengambil bagian dalam transformasi ekonomi Indonesia melalui investasi yang berorientasi pada hilirisasi, pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan, transisi energi dan ekonomi hijau.

Menurut Todotua, hilirisasi menjadi pilar utama transformasi ekonomi nasional. Pemerintah telah mengidentifikasi 28 komoditas strategis dengan potensi investasi mencapai 618 miliar dolar AS hingga 2040.

“Potensi tersebut diproyeksikan menghasilkan nilai ekspor sebesar 857 miliar dolar AS (Rp 15.400 triliun), serta menciptakan lebih dari tiga juta lapangan kerja langsung,” ungkap Todotua.

Adsense

Dalam kunjungan tersebut, Todotua juga bertemu sejumlah calon investor Australia. Bersama Pure Battery Technologies (PBT), Pemerintah membahas rencana pembangunan fasilitas precursor Cathode Active Material (pCAM) di Indonesia untuk melengkapi rantai pasok industri baterai nasional.

Baca juga : Orangtua & Anak Nikmati Suasana Taman Bendera

Sedangkan pertemuan dengan BCI Minerals difokuskan pada peluang investasi hilirisasi garam industri. Ini dilakukan untuk mendukung kebutuhan bahan baku nasional, sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Menurut Todotua, investasi PBT akan memperkuat ekosistem baterai nasional yang terus berkembang.

“Indonesia sudah memiliki fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) dan dalam waktu dekat akan memiliki manufaktur sel baterai. Mata rantai yang tersisa adalah pCAM dan katoda. Di sinilah investasi seperti Pure Battery Technologies menjadi krusial untuk melengkapi ekosistem baterai yang terintegrasi penuh,” jelasnya.

Selain mendorong investasi hilirisasi, Pemerintah juga menilai, penguatan konektivitas logistik menjadi faktor penting dalam mempererat hubungan ekonomi kedua negara. Karena itu, optimalisasi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II berpotensi memperkuat rantai pasok kawasan.

“ALKI II jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui Selat Lombok dan Selat Makassar,” imbuh Todotua.

Baca juga : Mesir Vs Australia, Kuda Hitam Kejar Mimpi

Pada 2024, koridor tersebut dilalui perdagangan bijih besi senilai 138 miliar dolar Australia, batubara 91 miliar dolar Australia dan Liquefied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair sebesar 69 miliar dolar Australia.

“Potensi tersebut menjadi peluang besar bagi Indonesia dan Australia untuk memperkuat rantai pasok, logistik, serta investasi di kawasan,” ucap Todotua.

Dalam rangkaian IABS 2026 juga dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Australian Chamber of Commerce and Industry (ACCI) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengenai kerja sama perdagangan, investasi dan pengembangan hubungan bisnis.

“Kesepakatan tersebut diharapkan semakin memperkuat kolaborasi ekonomi Indonesia dan Australia di berbagai sektor strategis,” pungkas Todotua. NOV

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Jumat, 3 Juli 2026 dengan judul "Gencarkan Hilirisasi Nasional RI Ajak Investor Australia Kerja Sama Ekonomi Hijau"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense