BREAKING NEWS
 

Investasi Sejak Muda Dinilai Jadi Kunci Raih Kebebasan Finansial

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Kamis, 9 Juli 2026 08:24 WIB
Foto: Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Kalangan praktisi pasar modal mendorong generasi muda untuk mulai berinvestasi sejak dini guna mempercepat tercapainya kebebasan finansial sekaligus melindungi nilai aset dari dampak inflasi yang terus menggerus daya beli masyarakat.

Pesan tersebut mengemuka dalam diskusi Literasi Keuangan Mahasiswa bertajuk "Menangkap Peluang Investasi Saham, Kripto, dan Komoditas" yang diselenggarakan Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Nagekeo (Himapen) di Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Praktisi pasar modal global, Vier Abdul Jamal, mengatakan waktu merupakan aset paling berharga dalam investasi. Semakin awal seseorang memulai investasi, semakin besar peluang memperoleh hasil optimal melalui pertumbuhan nilai aset dalam jangka panjang.

"Semakin dini seseorang mulai berinvestasi, makin besar efek pertumbuhan yang bisa didapat di masa depan," kata Vier.

Menurut dia, investasi sejak usia muda memberikan sejumlah manfaat, mulai dari mempercepat pencapaian kebebasan finansial, memaksimalkan pertumbuhan keuntungan melalui efek compounding, hingga membentuk pola pikir jangka panjang yang lebih disiplin dalam mengelola keuangan.

Baca juga : Restorasi Candi Prambanan, Prabowo: Kisah Ramayana Jadi Saksi Kedekatan RI-India

Ia menjelaskan, investasi juga menjadi instrumen penting untuk melawan inflasi. Pasalnya, nilai uang akan terus menurun setiap tahun apabila hanya disimpan tanpa diinvestasikan.

Selain itu, memulai investasi sejak muda juga memberi ruang bagi seseorang untuk belajar dari kesalahan dengan risiko yang relatif lebih kecil dibandingkan ketika baru berinvestasi pada usia yang lebih matang.

"Kesalahan kecil hari ini bisa menjadi pengalaman berharga untuk masa depan," ujarnya.

Vier menilai budaya investasi di Indonesia masih tertinggal dibandingkan Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa. Di negara-negara tersebut, investasi telah menjadi bagian dari kebutuhan hidup sehingga masyarakat terbiasa berinvestasi sejak usia 20-an dengan orientasi jangka panjang.

Adsense

Sebaliknya, di Indonesia, masyarakat masih cenderung mengandalkan tabungan dan deposito. Banyak investor juga masih berorientasi mencari keuntungan cepat sehingga mudah panik ketika pasar mengalami koreksi.

Baca juga : Inflasi Gerus Daya Beli, Anak Muda Diminta Mulai Investasi

"Di Indonesia, penurunan kecil sering memicu kepanikan. Banyak investor baru menjual saat harga turun dan membeli saat harga naik," katanya.

Menurut dia, investasi bukanlah cara menjadi kaya dalam semalam, melainkan upaya membangun kebebasan finansial secara bertahap melalui konsistensi dan strategi jangka panjang.

Dalam kesempatan yang sama, Komisaris PT Aldicitra Sekuritas sekaligus asesor profesi pasar modal, B. Hari Mantoro, mengatakan budaya menabung saja tidak lagi cukup untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah inflasi.

Ia mencontohkan harga mobil Toyota Kijang Super Chassis yang pada 1991 dijual sekitar Rp24,5 juta, sedangkan model penerusnya, Innova Zenix, pada 2026 telah mencapai sekitar Rp438 juta atau meningkat hampir 18 kali lipat.

"Oleh sebab itu, untuk mempertahankan daya beli, generasi muda diimbau segera beralih dari budaya menabung (saving) ke budaya berinvestasi (investing)," ujar Hari.

Baca juga : Bellingham Buka Jalan, Kane Kunci Kemenangan

Hari menambahkan, investasi pada perusahaan dengan fundamental yang kuat terbukti mampu menghasilkan imbal hasil yang jauh melampaui inflasi. Ia mencontohkan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) maupun PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang mencatatkan kenaikan signifikan sejak penawaran umum perdana.

Sementara itu, Presiden Direktur Pintu, Andy Putra, mengajak mahasiswa mulai berinvestasi melalui instrumen legal, termasuk saham dan aset kripto, dibanding terjebak praktik judi online.

Menurut dia, aset kripto kini telah memiliki kepastian regulasi setelah berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Di sisi lain, minat generasi muda terhadap aset digital juga terus meningkat.

"Lebih baik tempatkan dana pada instrumen investasi legal daripada terjebak judi online," kata Andy.

Diskusi tersebut turut menghadirkan Direktur Utama PT Smartin Advisor System (SAS) Odang Supriatna dan dimoderatori wartawan senior Edo Rusyanto. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari sejumlah korporasi, termasuk PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan PT ITSEC Asia Tbk, sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi keuangan masyarakat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense