BREAKING NEWS
 

Ramalan 3 Lembaga Dunia, Ekonomi RI Masih Tumbuh 5 Persen

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : SISWANTO
Selasa, 14 Juli 2026 07:30 WIB
Ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh pada 2027. (Foto: AI/Gemini)

 Sebelumnya 
"Dengan berbagai stimulus dan instrumen kebijakan yang siap dieksekusi," kata Haryo kepada Rakyat Merdeka, Senin (13/7/2026). 

Ia mengungkap empat strategi utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Pertama, menjaga daya beli masyarakat melalui pengendalian inflasi, pemberian diskon transportasi, serta pembebasan bea masuk LPG untuk industri petrokimia dan bahan baku plastik. 

Kedua, mempercepat realisasi investasi melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Satgas Debottlenecking, serta program hilirisasi yang dikolaborasikan dengan Danantara. Ketiga, memperkuat ekspor melalui diversifikasi pasar hasil diplomasi ekonomi. 

Keempat, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan pertanian. 

Baca juga : Terima Amplop, Laporkan Ke Direktorat Gratifikasi

Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 5,4 persen masih terlalu optimistis. Menurutnya, proyeksi IMF dan Bank Dunia yang berada di kisaran 5 persen serta OECD sebesar 4,7 persen menunjukkan lembaga internasional melihat tekanan ekonomi global masih cukup besar terhadap Indonesia. 

"Saya melihat angka 4,7 persen dari OECD bukan sekadar proyeksi pesimistis, tetapi merupakan pengingat bahwa ekonomi Indonesia tidak sepenuhnya kebal terhadap tekanan global," kata Yusuf. 

Ia menilai tekanan tersebut berasal dari kenaikan biaya energi, perlambatan perdagangan dunia, serta ketidakpastian investasi. Meski demikian, Yusuf memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa berada di kisaran 5 hingga 5,2 persen pada 2026. 

Menurutnya, konsumsi domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan, terutama setelah pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 dan kuartal I 2026 mampu bertahan di atas 5 persen. Namun, ia belum melihat ruang yang cukup kuat untuk mencapai target pemerintah sebesar 5,4 persen. 

Baca juga : Yahya Zaini: Kemenaker Harus Aktif Kerjasama Dan Kolaborasi

"Target tersebut membutuhkan kombinasi faktor yang sangat ideal. Mulai dari konsumsi yang tetap tinggi, investasi yang meningkat, ekspor yang membaik, hingga kondisi global yang relatif stabil," ujarnya. 

Yusuf mengingatkan ada sejumlah risiko yang harus diwaspadai. Pertama, daya beli kelas menengah yang masih menjadi tantangan karena konsumsi rumah tangga tidak hanya dipengaruhi inflasi, tetapi juga rasa aman terhadap kondisi ekonomi. 

Kedua, pelemahan perdagangan yang menunjukkan sektor eksternal belum mampu menjadi mesin pertumbuhan. Ketiga, ruang fiskal pemerintah yang semakin sempit ketika harga energi meningkat sehingga kemampuan memberikan stimulus ekonomi menjadi lebih terbatas. 

Meski begitu, Yusuf menilai masih ada sejumlah faktor yang dapat menopang pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, konsumsi domestik akan tetap menjadi fondasi utama apabila pemerintah mampu menjaga stabilitas harga energi dan kebutuhan pokok. 

Baca juga : Elly Rosita Silaban: Harus Ada Target Penyerapan Kerja

Selain itu, investasi infrastruktur tetap harus dipacu karena memiliki efek berganda terhadap aktivitas ekonomi. "Peluang dari sektor manufaktur dan perdagangan internasional juga masih terbuka, tetapi harus diikuti kebijakan yang mampu meningkatkan daya saing industri dalam negeri, bukan hanya mengandalkan permintaan eksternal," pungkasnya. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense