RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah gejolak ekonomi global yang belum stabil, kinerja keuangan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN moncer. Bank pelat merah ini mengantongi laba bersih konsolidasi sebesar Rp 2,40 triliun di semester I-2026.
Laba itu tumbuh 40,8 persen (year on year/yoy) dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,70 triliun.
Tak hanya itu, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/ NPL) gross BTN juga berada di level 2,99 persen, membaik dibandingkan posisi Juni 2025 sebesar 3,3 persen.
Pada periode yang sama, rasio Loan at Risk (LAR) turun dari 20,2 persen pada Juni 2025 menjadi 18,6 persen pada Juni 2026.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, pertumbuhan positif laba tersebut menunjukkan strategi transformasi BTN yang selaras dengan arah transformasi Danantara Indonesia, telah berjalan sesuai target.
Ditegaskannya, BTN tidak hanya terus memperkuat posisinya sebagai pemimpin pembiayaan perumahan nasional. Tetapi juga membangun ekosistem layanan keuangan yang terintegrasi guna mendukung program prioritas Pemerintah.
“Termasuk Program 3 Juta Rumah, sekaligus memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat,” tutur Nixon dalam konferensi pers paparan kinerja semester I-2026 di Jakarta, Kamis (16/7/2026) sore.
Pencapaian ini merupakan hasil dari transformasi selama satu dekade yang secara konsisten dilakukan.
“Kami optimistis, hingga akhir tahun nanti, kinerja BTN tetap on track melanjutkan catatan positif di paruh pertama tahun ini,” ujarnya.
Hingga semester I-2026, BTN mencatatkan penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi sebesar Rp 418,11 triliun, meningkat 11,2 persen yoy dari Rp 376,11 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan di sektor kredit perumahan sebesar 4,8 persen yoy dari 317,77 triliun menjadi Rp 332,88 triliun per Juni 2026. Dan lonjakan kredit nonperumahan sebesar 46,1 persen yoy dari Rp 58,34 triliun pada Juni 2025 menjadi Rp 85,22 triliun di Juni 2026.
Baca juga : Presiden China Tolak AI Didominasi Satu Negara
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi masih menjadi mesin pendorong kredit perumahan, dengan kenaikan sebesar 8,1 persen yoy dari Rp 182,17 triliun, menjadi Rp 196,96 triliun per Juni 2026.
Selain itu, Kredit Program Perumahan (KPP) yang disalurkan BTN juga tercatat mencapai Rp 4,1 triliun per Juni 2026, sejak dirilis pada akhir Oktober 2025.
Sejalan dengan ekspansi pembiayaan, total aset konsolidasi BTN meningkat dari Rp 484,96 triliun menjadi Rp 545,16 triliun per semester I-2026, atau tumbuh 12,4 persen yoy.
“Pertumbuhan ini mencerminkan semakin kuatnya kapasitas perseroan dalam mendukung pembiayaan sektor perumahan nasional, sekaligus memperluas bisnis pada ekosistem terkait,” ujarnya.
Terkait dana Saldo Anggaran Lebih (SAL), Nixon menjelaskan, BTN juga telah bersiap untuk penarikan berkala yang dijadwalkan Pemerintah. Saat ini posisi total saldo dana SAL yang ditempatkan di emiten berkode saham BBTN ini mencapai Rp 38 triliun.
“Dari awalnya BTN terima Rp 25 triliun. Ada beberapa tahapan, sempat dikembalikan juga. Terakhir posisinya di Rp 38 triliun,” tuturnya.
Nixon menyebut, dana yang terima digunakan seluruhnya untuk penyaluran kredit, sesuai arahan awal yang diterima dari Pemerintah, bahwa penempatan dana SAL ditujukan sebagai penopang pertumbuhan kredit.
Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun BTN juga mencapai Rp 433,00 triliun per semester I-2026, atau tumbuh 6,6 persen yoy dari Rp 406,38 triliun di periode yang sama tahun lalu.
Nixon mengatakan, BTN juga terus memperkuat struktur dana murah sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Untuk itu, BTN telah menggelar berbagai inisiatif. Seperti akuisisi dana ritel, peningkatan transaksi digital, penguatan payroll, hingga perluasan kerja sama dengan Pemerintah Daerah dan institusi. Berbagai inisiatif tersebut berhasil menjaga cost of fund berada di kisaran 3,01 persen.
Menurut Nixon, penguatan struktur pendanaan tersebut menjadi salah satu prioritas utama perseroan pada tahun ini.
Baca juga : Pemprov DKI Perlu Perluas Bansos Pangan Bersubsidi
Pihaknya tidak hanya mengejar pertumbuhan kredit. Namun, dia memastikan pertumbuhan tersebut didukung struktur pendanaan yang semakin kuat, sehingga mampu menjaga profitabilitas dan keberlanjutan bisnis perseroan dalam jangka panjang.
Sejalan dengan penguatan struktur pendanaan, supper apps Bale by BTN telah digunakan lebih dari 4,3 juta pengguna.
Peningkatan pengguna tersebut didukung lebih dari 344 ribu merchant, lebih dari 14 ribu developer, dan 59 Pemerintah Daerah.
Secara transaksi, jumlah dan nominal transaksi menggunakan Bale by BTN tumbuh masing-masing sebesar 41,6 persen yoy dan 55,3 persen yoy per Juni 2026.
Per semester I-2026, perseroan juga menekan Cost of Credit (CoC) menjadi 0,7 persen dari 2,0 persen di semester I-2025.
“Perbaikan kualitas aset tersebut mencerminkan keberhasilan BTN dalam menerapkan prinsip kehati-hatian, memperkuat manajemen risiko, serta meningkatkan kualitas portofolio pembiayaan,” ujarnya.
Nixon melanjutkan, saat ini transformasi yang dijalankan perseroan bukan hanya bertujuan memperbesar bisnis. Tetapi juga membangun fondasi pertumbuhan yang sehat, efisien, dan berkelanjutan.
“Dengan kualitas aset yang semakin baik, struktur pendanaan yang semakin kuat, serta ekosistem digital yang terus berkembang, BTN optimis mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” katanya.
Di kesempatan yang sama, Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo menambahkan, penurunan CoC terutama didorong oleh membaiknya kualitas portofolio kredit BTN.
Menurutnya, hal itu tercermin dari flow rate kredit yang lebih terkendali, perbaikan proses underwriting, hingga efektivitas strategi collection dan recovery yang terus diperkuat.
“BTN juga semakin selektif dalam pertumbuhan kredit baru, sehingga risiko pembentukan kredit bermasalah baru dapat dimitigasi lebih awal,” katanya.
Baca juga : El Toro Jaga Tradisi Pemain Inter Di Final
Akuisisi Bank SMBC Nixon menuturkan, sebagai bagian dari strategi beyond mortgage dan memperkuat pertumbuhan anorganik, BTN telah menyelesaikan akuisisi tahap pertama portofolio kredit pensiun PT Bank SMBC Indonesia Tbk dengan nilai transaksi sekitar Rp 12,6 triliun.
“Akuisisi tersebut memperkuat komposisi portofolio kredit nonperumahan BTN, sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru dengan profil imbal hasil yang lebih tinggi dan risiko yang tetap terjaga,” ungkapnya.
Seluruh portofolio yang diakuisisi merupakan kredit berkualitas (performing loan), sehingga mendukung perbaikan kualitas aset perseroan dan memberikan kontribusi positif terhadap profitabilitas.
Dia menekankan, strategi beyond mortgage tidak berarti meninggalkan bisnis inti pembiayaan perumahan, tetapi melengkapinya, sehingga nasabah BTN bisa mengakses kredit dari masa produktif hingga masa pensiun.
“Langkah ini juga akan meningkatkan daya tahan bisnis BTN dalam jangka panjang,” ujar Nixon.
BTN juga akan melanjutkan akuisisi tahap kedua pada kuartal III-2026 senilai sekitar Rp 7,34 triliun, sehingga secara keseluruhan perseroan akan mengelola sekitar 344,6 ribu rekening kredit pensiun.
Nixon menjelaskan, melalui strategi pertumbuhan anorganik tersebut, BTN menargetkan porsi kredit non-perumahan meningkat secara bertahap hingga sekitar 30 persen dari total portofolio kredit dalam lima tahun ke depan.
“Sehingga struktur bisnis perseroan menjadi semakin seimbang, resilien, dan mampu menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan,” pungkasnya. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.