BREAKING NEWS
 

Bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan Jaga Kinerja Astra di Semester I 2026

Reporter & Editor :
OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Selasa, 4 Agustus 2026 19:49 WIB
Foto: Astra.

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Astra International Tbk (Astra) mencatat pertumbuhan pada dua bisnis utamanya sepanjang semester I 2026. Laba bersih bisnis otomotif meningkat 9 persen menjadi Rp 5,9 triliun, sedangkan laba bisnis jasa keuangan tumbuh 6 persen menjadi Rp 4,6 triliun.

Kinerja positif kedua sektor tersebut menjadi penopang Astra di tengah tekanan yang dialami bisnis solusi pertambangan dan alat berat.

Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Rudy mengatakan, pertumbuhan bisnis otomotif dan jasa keuangan menunjukkan daya tahan Grup Astra dalam menghadapi dinamika dunia usaha.

“Pada semester pertama 2026, Grup mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan. Namun, penurunan kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat mengakibatkan penurunan laba bersih Grup secara keseluruhan,” ujar Rudy dalam keterangan tertulis, Kamis (30/7/2026).

Secara konsolidasian, Astra membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 157,9 triliun pada semester I 2026, turun 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 162,9 triliun.

Laba bersih tanpa memperhitungkan non-recurring items mencapai Rp 14,9 triliun, turun 7 persen dari Rp 16 triliun. Setelah memperhitungkan pos nonberulang sebesar Rp 2,4 triliun, laba bersih Grup Astra tercatat Rp 12,5 triliun.

Pos nonberulang tersebut terutama berasal dari penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas serta penurunan nilai (impairment).

Laporan keuangan yang berakhir pada 30 Juni 2026 tersebut belum diaudit dan disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.

Otomotif Jadi Motor Pertumbuhan

Pertumbuhan bisnis otomotif Astra ditopang oleh kenaikan penjualan mobil baru serta kontribusi kuat dari divisi komponen.

Baca juga : Pendapatan Bluebird Naik 11,3 Persen pada Semester I 2026

Penjualan mobil nasional sepanjang semester I 2026 meningkat 16 persen menjadi 437 ribu unit. Sementara itu, penjualan mobil Grup Astra tumbuh 10 persen dengan pangsa pasar tetap sebesar 51 persen.

Toyota dan Daihatsu juga mempertahankan posisi sebagai merek mobil terlaris pertama dan kedua di Indonesia.

Di pasar roda dua, penjualan sepeda motor nasional naik 1 persen menjadi 3,1 juta unit. Penjualan sepeda motor Honda juga meningkat 1 persen dengan pangsa pasar mencapai 77 persen.

Kontribusi laba bersih divisi komponen melonjak 23 persen menjadi Rp 921 miliar, didukung peningkatan kontribusi dari seluruh segmen usaha.

Pada divisi mobilitas, penjualan mobil bekas Grup Astra meningkat 4 persen menjadi 15.700 unit, sementara jumlah kendaraan dalam kontrak bertambah 13 persen menjadi 29.200 unit.

Pembiayaan Baru Tembus Rp 61,8 Triliun

Bisnis jasa keuangan Astra juga mencatatkan pertumbuhan dengan laba bersih sebesar Rp 4,6 triliun, naik 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Nilai pembiayaan baru dari divisi pembiayaan konsumen meningkat 10 persen menjadi Rp 61,8 triliun, didorong oleh pembiayaan otomotif dan multi-cycle.

Divisi pembiayaan sepeda motor memberikan kontribusi laba bersih sebesar Rp 2,4 triliun, naik 4 persen. Sementara itu, kontribusi laba bersih perusahaan pembiayaan mobil meningkat 6 persen menjadi Rp 1,2 triliun.

Adsense

Nilai pembiayaan baru alat berat naik 1 persen menjadi Rp 8,1 triliun, dengan kontribusi laba bersih meningkat 11 persen menjadi Rp 130 miliar.

Baca juga : Semester I 2026, PNM Perkuat Pemberdayaan 12,4 Juta Perempuan Pengusaha Ultra Mikro

Perusahaan asuransi Grup Astra turut membukukan kenaikan laba bersih 7 persen menjadi Rp 906 miliar, didorong pertumbuhan pendapatan operasional dan investasi.

Agribisnis dan Properti Tumbuh

Segmen lain yang mencerminkan Wider Businesses Astra juga menunjukkan pertumbuhan positif. Tanpa memperhitungkan non-recurring items, laba bersih segmen ini meningkat 31 persen menjadi Rp 1,6 triliun.

Pertumbuhan terutama ditopang bisnis agribisnis seiring kenaikan harga dan volume penjualan minyak kelapa sawit. Sementara itu, bisnis properti memperoleh tambahan kontribusi dari industrial warehouse platform yang baru diakuisisi.

Sebaliknya, bisnis solusi pertambangan dan alat berat membukukan laba bersih sebesar Rp 2,7 triliun sebelum non-recurring items, turun 46 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan tersebut dipengaruhi minimnya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe serta penurunan kuota produksi batu bara nasional melalui alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Tambang Emas Martabe sempat menghentikan operasional pada awal 2026, namun kembali beroperasi sejak kuartal II 2026.

Astra dan UT Siapkan Buyback Rp 10 Triliun Astra bersama PT United Tractors Tbk (UT) menyiapkan dana hingga Rp 10 triliun untuk program pembelian kembali saham (share buyback).

Astra mengalokasikan dana maksimal Rp 8 triliun untuk program buyback selama 12 bulan. Program tersebut telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 17 Juli 2026.

Sementara itu, United Tractors menyiapkan dana hingga Rp 2 triliun untuk program buyback selama tiga bulan.

Baca juga : Telkomsel Operasikan 301 Ribu BTS Hingga Semester I-2026

“Astra telah mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp 8 triliun untuk 12 bulan ke depan. Selain itu, UT juga mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp 2 triliun untuk tiga bulan ke depan,” ujar Rudy.

Sebelumnya, Astra dan United Tractors telah menyelesaikan program buyback senilai Rp 7,4 triliun sejak November 2025 hingga akhir Juni 2026.

Program tersebut merupakan bagian dari strategi alokasi modal Astra untuk meningkatkan imbal hasil jangka panjang bagi pemegang saham.

Perseroan juga menjalankan Management Share Ownership Program (MSOP) jangka panjang pada Juli 2026 guna menyelaraskan insentif manajemen dengan penciptaan nilai perusahaan dalam jangka panjang.

Astra mulai menjalankan Strategy Roadmap baru yang diumumkan pada Mei 2026 dengan fokus pada tiga bisnis inti, yakni otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat.

Peta jalan tersebut dibangun di atas empat pilar, yaitu Focus, Clarity, Discipline, dan Commitment. Astra juga memperjelas pengelolaan Wider Businesses dengan memprioritaskan bisnis yang memiliki sinergi dengan ekosistem dan kapabilitas Grup.

Strategi baru tersebut menekankan disiplin dalam alokasi modal dan investasi dengan mempertimbangkan imbal hasil bagi pemegang saham.

“Di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, kami tetap fokus menjalankan strategi korporasi yang baru. Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi, dan kekuatan neraca keuangan Astra, yang didukung alokasi modal yang disiplin dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis,” kata Rudy.

Per 30 Juni 2026, Astra mencatat nilai aset bersih per saham sebesar Rp 5.763, meningkat 1 persen. Sementara itu, ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 1 persen menjadi Rp 230,1 triliun.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense