BREAKING NEWS
 

Penertiban Tambang Ilegal Dorong Produksi dan Kinerja TINS

Reporter & Editor :
FAZRY
Senin, 10 Agustus 2026 16:27 WIB
Ilustrasi

RM.id  Rakyat Merdeka - Penertiban Tambang Ilegal Jadi Katalis Pemulihan Kinerja TINS Penertiban tambang timah ilegal berpotensi menjadi katalis bagi PT Timah Tbk (TINS) untuk meningkatkan produksi dan memperkuat kinerja perseroan.

Aktivitas pertambangan ilegal selama ini menjadi salah satu tantangan bagi produsen resmi karena membuat sebagian pasokan timah berada di luar rantai pasok resmi.

Reuters sebelumnya melaporkan, Pemerintah Indonesia menargetkan penutupan sekitar 1.000 tambang timah ilegal di Bangka Belitung.

Presiden Prabowo Subianto memperkirakan sektor shadow atau pertambangan timah di luar sistem resmi dapat mencapai sekitar 80 persen dari total produksi timah di Bangka Belitung.

Sementara itu, Indonesian Tin Exporters Association memperkirakan hingga 12.000 ton timah dapat diekspor secara ilegal setiap tahun.

Besarnya aktivitas tambang ilegal tersebut menjadi persoalan bagi TINS. Reuters mencatat, manajemen TINS sebelumnya menyebut persaingan dengan penambang ilegal sebagai salah satu faktor yang menekan produksi.

Baca juga : Kemenhut Amankan 8 Terduga Pelaku Tambang Ilegal di Kawasan Konservasi NTB

Produksi bijih timah TINS pada semester I-2025 turun 32 persen secara tahunan menjadi 6.997 ton. Penertiban tambang ilegal kini menjadi salah satu katalis positif bagi TINS.

Ketika aktivitas ilegal ditekan, pasokan bijih yang sebelumnya berada di jalur informal berpeluang kembali masuk ke rantai pasok resmi.

Kondisi tersebut dapat membuka ruang bagi TINS untuk meningkatkan perolehan bijih, produksi, dan volume penjualan.

Hal ini menjadi dampak positif dari komitmen pemerintah melalui instruksi Presiden Prabowo untuk mengamankan cadangan strategis nasional.

Produksi TINS Melonjak Momentum pemulihan produksi TINS mulai terlihat pada semester I-2026. Produksi bijih timah mencapai 12.232 ton Sn, naik sekitar 75 persen dibandingkan dengan 6.997 ton Sn pada semester I-2025. Produksi logam timah meningkat menjadi 10.865 metrik ton.

Adsense

Sementara itu, penjualan logam timah mencapai 10.984 metrik ton, melonjak sekitar 85 persen dibandingkan dengan 5.933 metrik ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan volume produksi dan penjualan tersebut turut mendorong kinerja keuangan

Baca juga : Kasus Tambang Ilegal, Kejaksaan Agung Tetapkan Bos PT CBU Jadi Tersangka

perseroan. Pendapatan TINS mencapai Rp 10,42 triliun pada semester I-2026, naik 147 persen dari Rp 4,22 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Laba bersih bahkan melonjak sekitar 805 persen menjadi Rp 2,71 triliun dari Rp 300 miliar. Realisasi laba tersebut telah mencapai sekitar 169 persen dari target laba bersih TINS sepanjang 2026 sebesar Rp 1,61 triliun.

Kinerja perseroan juga ditopang tingginya harga timah. Harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) pada semester I-2026 mencapai 50.319 dollar AS per metrik ton, naik 56,7 persen dari 32.116 dollar AS per metrik ton pada semester I-2025.

Perbaikan fundamental tersebut turut tercermin pada kapitalisasi pasar TINS. Pada Agustus 2025, kapitalisasi pasar perseroan berada di kisaran Rp 7,6 triliun.

Sementara pada Agustus 2026, kapitalisasi pasar TINS telah mencapai sekitar Rp 28,75 triliun.

Prospek Saham Co-Founder Pasar Dana Hans Kwee menyampaikan, dengan mempertimbangkan pertumbuhan kinerja, harga timah global, dan komitmen terhadap penertiban tambang ilegal.

Baca juga : Kejagung Tetapkan Tersangka Baru Kasus Tambang Ilegal Samin Tan

Hans masih merekomendasikan Buy untuk TINS dengan target harga Rp 4.700 hingga Rp 5.000 per saham.

“Prospek TINS saat ini ditopang oleh pemulihan produksi, dan potensi normalisasi pasokan melalui penertiban tambang ilegal,” kata Hans.

Lebih lanjut, dia menilai valuasi TINS masih akan tetap menarik. Dengan price to earnings ratio (PER) sekitar 4,49 kali, valuasi TINS masih relatif murah dibandingkan pertumbuhan penjualan dan laba bersih perseroan.

“Net profit margin TINS yang mencapai sekitar 26 persen dan return on equity (ROE) sekitar 51 persen,” ujarnya.

Dari sisi industri, ia menilai prospek harga timah dunia masih positif seiring potensi kekurangan pasokan akibat meningkatnya kebutuhan industri semikonduktor dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense