BREAKING NEWS
 

Koperasi Didorong Naik Kelas, Perkuat Ekonomi Daerah

Reporter & Editor :
BAMBANG TRISMAWAN
Rabu, 12 Agustus 2026 16:08 WIB

RM.id  Rakyat Merdeka - Koperasi didorong tidak hanya bertambah dari sisi jumlah dan anggota, tetapi juga meningkatkan skala usaha agar mampu masuk lebih jauh dalam rantai nilai ekonomi nasional. Dengan begitu, koperasi dapat bersanding dan membangun kemitraan dengan BUMN maupun perusahaan besar.

Pengamat sosial Paulus Martono Lubis mengatakan, penguatan koperasi membutuhkan peningkatan kapasitas usaha secara menyeluruh. Mulai dari penguasaan teknologi, peningkatan kualitas produk, perbaikan manajemen, hingga perluasan akses pembiayaan dan pasar.

“Koperasi harus naik kelas. Bukan hanya mengejar jumlah, tetapi bagaimana meningkatkan skala usaha, menguasai teknologi, memperbaiki kualitas, membuka akses pasar, dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada anggota,” kata Paulus dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).

Menurut Paulus, momentum penguatan tersebut dapat diwujudkan melalui rencana kerja sama Indonesia-Jepang yang dibahas Menteri Koperasi Ferry Juliantono bersama Kedutaan Besar Jepang pada 10 Agustus 2026.

Kerja sama itu antara lain membahas pengembangan furikake yang dikaitkan dengan perbaikan gizi, pemanfaatan produksi lokal, transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan koperasi.

Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut komunikasi dengan Chief Cabinet Secretary Jepang Minoru Kihara. Dalam komunikasi itu, Kihara mengarahkan agar penyelarasan kerja sama dilakukan melalui Kedutaan Besar Jepang di Jakarta. Jepang dalam pertemuan tersebut diwakili Chargé d’Affaires ad interim untuk Indonesia Mitsuru Myochin.

Baca juga : Menkop: Hilirisasi Kelapa Sawit Berbasis Koperasi Perkuat Daya Tawar Petani

Paulus menilai pengembangan furikake dapat menjadi contoh konkret penerjemahan kerja sama internasional menjadi peningkatan kapasitas ekonomi di dalam negeri.

“Kerja sama Indonesia-Jepang jangan berhenti pada transfer pengetahuan atau menghasilkan satu produk. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi itu dikuasai di dalam negeri, bahan baku lokal mendapat nilai tambah, dan koperasi serta anggotanya memperoleh manfaat ekonomi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, bahan baku furikake dapat berasal dari produksi lokal. Koperasi kemudian dapat mengambil peran dalam pengumpulan dan pengolahan bahan baku tersebut.

Di sisi lain, teknologi, standar kualitas, sumber daya manusia, dan manajemen dapat diperkuat melalui kerja sama dengan pihak Jepang.

Pengembangan tersebut, lanjut Paulus, dapat dilakukan melalui sejumlah Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang dipilih sebagai lokasi percontohan.

Adsense

“Pilot project harus menjadi tempat belajar, bukan sekadar menunjukkan keberhasilan program. Yang harus dilihat adalah apakah usahanya berjalan, anggota memperoleh manfaat, dan koperasi mampu bertahan ketika dukungan program berkurang,” katanya.

Baca juga : Menkop Bawa Semangat Koperasi ke Festival Lembah Baliem Wamena Papua

Paulus juga menilai penguatan koperasi perlu disertai konsolidasi produsen. Anggota koperasi jangan hanya ditempatkan sebagai pemasok bahan baku, tetapi perlu memahami keseluruhan proses usaha, mulai dari produksi, kualitas, penentuan harga, pemasaran hingga penciptaan nilai tambah.

Dia mencontohkan pengalaman Jepang melalui Zen-Noh dalam JA Group. Lembaga tersebut menjalankan fungsi pemasaran, penyediaan, pengolahan, penyimpanan, serta pemasaran hasil pertanian dan peternakan. Zen-Noh juga berperan dalam mendukung pengembangan teknologi dan manajemen.

“Indonesia tidak harus menyalin model Zen-Noh karena kondisi koperasi kita berbeda. Tetapi prinsipnya bisa dipelajari, yaitu produsen yang membangun jaringan dan skala usaha bersama akan memiliki posisi yang lebih kuat,” ujarnya.

Menurut Paulus, keberhasilan pengembangan koperasi juga tidak cukup diukur dari jumlah kegiatan, pelatihan, maupun produk yang dihasilkan.

“Ukurannya harus terlihat dari peningkatan kapasitas koperasi, penguasaan teknologi, pemanfaatan bahan baku lokal, nilai tambah yang tinggal di daerah, peningkatan pendapatan anggota, dan kemampuan membuka pasar baru,” kata Paulus.

Dia menambahkan, koperasi, BUMN, perusahaan besar, dan pemerintah memiliki peran yang dapat saling melengkapi.

Baca juga : Meneguhkan Kedaulatan Ekonomi Bangsa Melalui Pengusaha Nasional

“Koperasi tidak harus berhadapan dengan BUMN atau perusahaan besar. Justru harus dibangun kerja sama dan pembagian peran yang saling menguatkan. Koperasi memiliki basis anggota dan kedekatan dengan sumber produksi lokal, sementara perusahaan besar memiliki kekuatan teknologi, investasi, distribusi, dan pasar,” jelasnya.

Karena itu, Paulus mendorong tindak lanjut kerja sama Indonesia-Jepang diarahkan pada program yang konkret dan terukur. Tahapannya dapat mencakup pemilihan KDMP sebagai lokasi percontohan, transfer teknologi, pengembangan SDM, penerapan standar kualitas, skema pembiayaan, hingga evaluasi.

“Tujuannya bukan sekadar menghasilkan satu produk baru, tetapi membangun kemampuan produksi, memperkuat koperasi, menciptakan pasar bagi bahan baku lokal, dan memastikan nilai tambah lebih banyak dinikmati masyarakat di daerah,” katanya.

Paulus menilai koperasi dapat disebut benar-benar naik kelas apabila mampu menguasai teknologi, membangun skala usaha, meningkatkan kualitas, membuka pasar, serta mengambil bagian lebih besar dalam rantai nilai ekonomi nasional.

“Di situlah koperasi tidak hanya menjadi sokoguru perekonomian rakyat dalam rumusan kebijakan, tetapi benar-benar menjadi kekuatan ekonomi yang diperhitungkan dan mampu bersanding dengan BUMN maupun perusahaan besar,” pungkas Paulus.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense