RM.id Rakyat Merdeka - Pelabuhan Patimban, Subang, Jawa Barat, semakin memperkuat konektivitasnya dalam jaringan logistik nasional. Layanan kontainer ONE–Samudera resmi melakukan kunjungan perdana melalui kapal MV Sinar Bintan pada 10–11 Agustus 2026, sekaligus menandai bertambahnya pilihan konektivitas pelayaran dari Patimban menuju jaringan internasional.
Kapal berbendera Singapura dengan panjang keseluruhan (LOA) 147 meter dan bobot kotor (GT) 12.563 tersebut tiba dari Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang.
Setelah bersandar di Terminal Peti Kemas Patimban, kapal melanjutkan pelayaran menuju Singapura. Komisaris PT Pelabuhan Patimban Internasional (PPI) yang juga Senior Vice President Federation of International Freight Forwarders Associations (FIATA) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan, masuknya layanan ONE–Samudera tidak sekadar menambah rute pelayaran.
Kehadiran layanan tersebut mempertegas posisi Patimban sebagai simpul jaringan pelayaran multi-carrier yang menghubungkan layanan feeder domestik dengan jalur pelayaran global.
“Masuknya ONE–Samudera menunjukkan kesiapan Pelabuhan Patimban menjadi simpul bagi jaringan feeder domestik yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di Jawa dengan jalur pelayaran internasional. Kombinasi keduanya itulah yang membentuk hub-and-spoke network yang sehat,” kata Yukki.
Pada saat yang sama dengan kedatangan MV Sinar Bintan, Terminal Peti Kemas Patimban juga melayani MV MSC Independent III, kapal berbendera Portugal dengan LOA 208,9 meter dan GT 26.435. Kapal tersebut menjalani rute reguler MSC dari Singapura menuju Pasir Gudang, Malaysia.
Baca juga : Patimban Siap Jadi Gerbang Logistik dan Industri Indonesia
Kedua kapal menempati posisi tambat yang berbeda dan dilayani secara bersamaan pada 10–11 Agustus 2026. Kondisi tersebut menjadi pengalaman baru bagi operasional Pelabuhan Patimban.
“Bagi pelabuhan yang baru beroperasi seperti Patimban, melayani dua kapal yang tambat sekaligus ini adalah bukti nyata kesiapan dermaga, penjadwalan, dan keandalan operasional. Patimban siap menjadi pelabuhan masa depan yang bukan lagi sekadar melayani jumlah kapal yang datang, melainkan seberapa mulus aktivitas operasionalnya melayani beberapa kapal dan beberapa jenis layanan sekaligus,” ujar Yukki.
Menurut Yukki, Pelabuhan Patimban juga mulai menangkap captive cargo dari basis industrinya sendiri, bukan hanya mengandalkan transshipment kapal-kapal besar yang melintas.
“Volume bongkar muat peti kemas juga akan tumbuh seiring waktu, tapi arah komoditasnya sudah menunjukkan Patimban bekerja menjadi gerbang ekspor bagi kawasan industri di Jawa Barat dan tentunya akan terus mendukung berkembangnya kawasan industri di sekitarnya,” tegasnya.
PT PPI mencatat, jumlah kendaraan yang melalui Pelabuhan Patimban dalam periode 2021–2026 telah mencapai lebih dari 1,2 juta unit.
Angka tersebut menunjukkan rata-rata lebih dari 200.000 unit kendaraan per tahun, dari total kapasitas Terminal Kendaraan yang saat ini mencapai 250.000 unit per tahun.
Baca juga : Usung Konsep Kota Industri, Suryacipta Dukung Subang Jadi Smartpolitan
Selain itu, aktivitas kunjungan kapal (vessel call) di Pelabuhan Patimban juga mengalami peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 10 persen per tahun sejak 2024. Hingga pertengahan 2026, frekuensi kapal yang bersandar telah mencapai hampir 300 kapal per tahun.
Kepala Kantor KSOP Kelas II Patimban, Mohd Arief Agustian, mengatakan bertambahnya layanan pelayaran menjadi perkembangan signifikan bagi Pelabuhan Patimban sebagai bagian dari rantai pasok logistik nasional yang terhubung dengan jaringan pelayaran kawasan Asia-Pasifik.
“Masuknya layanan ONE-Samudera menjadi perkembangan positif Pelabuhan Patimban. Kami juga ingin mendorong lebih banyak kapal yang bersandar, serta memberikan pilihan layanan serta konektivitas yang dimanfaatkan oleh pelaku usaha pengguna jasa. Bersandarnya ONE-Samudera menjadi milestone penting bahwa aktivitas terminal mulai tumbuh bersamaan dengan tersedianya infrastruktur yang melayani Pelabuhan Patimban,” ujar Arief.
Perkuat Skema KPBU
Yukki mengatakan perkembangan tersebut tidak terlepas dari peran PT PPI sebagai badan usaha kepelabuhanan yang mengoperasikan Terminal Peti Kemas Patimban melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).
Dalam operasionalnya, PPI bekerja bersama PT Patimban Global Gateway Terminal (PGT) sebagai operator Terminal Peti Kemas serta PT Patimban International Car Terminal (PICT) sebagai operator Terminal Kendaraan.
Baca juga : HIPMI Jabar Dukung Operasional Penuh Pelabuhan Patimban
Dalam kerangka KPBU, keberhasilan operator tercermin dari kesiapan fasilitas dan peralatan operasional serta kemampuan menghasilkan trafik dan pendapatan yang berkelanjutan bagi negara maupun mitra usaha.
Menurut Yukki, diversifikasi layanan pelayaran melalui kehadiran ONE–Samudera serta kesiapan menangani beberapa kapal secara bersamaan menjadi bukti awal bahwa skema kolaborasi pemerintah dan swasta di Pelabuhan Patimban mulai menghasilkan kinerja operasional.
Perkembangan tersebut sekaligus memperkuat dasar keberlanjutan investasi peralatan bongkar muat, termasuk Ship-to-Shore Crane dan Electric Rubber-Tyred Gantry yang ditargetkan rampung pada akhir 2026.
Selain itu, pembangunan infrastruktur penunjang berupa Jalan Tol Akses Patimban juga ditargetkan selesai pada 2027.
“Kolaborasi KPBU antara pemerintah dan badan usaha kepelabuhanan seperti PPI serta PGT dan PICT adalah fondasi yang memungkinkan semua ini terjadi. Setiap kapal baru yang masuk, setiap TEUs yang bertambah, menjadi bukti bahwa model kemitraan ini efektif. Ini adalah modal penting bagi Indonesia untuk terus mereplikasi skema serupa di pelabuhan-pelabuhan strategis lainnya,” pungkas Yukki.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.