RM.id Rakyat Merdeka - Limbah kelapa sawit yang selama ini menjadi persoalan lingkungan berpeluang diubah menjadi sumber energi bernilai ekonomi tinggi.
Dengan potensi palm oil mill effluent (POME) mencapai sekitar 125 juta ton per tahun, Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pemain utama biogas sawit dunia.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Erma Yulihastin mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar mengembangkan biogas dari POME atau limbah cair kelapa sawit.
Menurutnya, POME merupakan sumber energi strategis yang dapat diolah menjadi listrik, panas, maupun bahan bakar.
Potensi tersebut ditopang luas perkebunan kelapa sawit nasional yang mencapai sekitar 16,8 juta hektare dengan produksi tandan buah segar (TBS) sekitar 250 juta ton per tahun.
Dari setiap satu ton TBS, dapat dihasilkan sekitar 0,5 ton POME. Dengan demikian, Indonesia berpotensi menghasilkan sekitar 125 juta ton POME setiap tahun yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi biogas.
“POME ini mengandung bahan organik tinggi dan tersedia secara terus-menerus selama pabrik kelapa sawit beroperasi,” kata Erma di Jakarta, Senin (17/8/2026).
Baca juga : BPDP Dorong Transformasi Sawit Berkelanjutan Lewat Borneo Forum 2026
Erma menjelaskan, pengembangan biogas berbasis limbah sawit memberikan manfaat dari sisi lingkungan, ekonomi, dan sosial.
Dari perspektif lingkungan, pemanfaatan POME menjadi biogas dapat mengurangi pelepasan gas metana dari kolam limbah terbuka.
Pengolahan tersebut juga dapat menurunkan kandungan bahan organik dalam limbah, mengurangi bau, serta menekan risiko pencemaran sumber air dan tanah.
Menurutnya, pemanfaatan POME juga mendukung pengembangan energi terbarukan sekaligus mengurangi emisi karena biogas dapat menggantikan penggunaan bahan bakar berbasis fosil.
“Pemanfaatan POME menjadi biogas dapat mengendalikan emisi gas rumah kaca. Berdasarkan penelitian, fasilitas biogas mampu mengurangi emisi sekitar 1.131 ton CO₂ ekuivalen per bulan,” paparnya.
Dari sisi ekonomi dan sosial, pemanfaatan POME dapat membuka lapangan kerja dalam pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan fasilitas biogas.
Biogas juga berpotensi menekan biaya energi pabrik kelapa sawit. Setelah dimurnikan menjadi bio-compressed natural gas (bio-CNG), energi tersebut bahkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar kendaraan maupun industri lokal.
Baca juga : Mendorong Percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat
“Jadi, manfaat ekonominya bisa dirasakan perusahaan, tenaga kerja lokal, dan masyarakat sekitar selama pengelolaan melibatkan daerah secara langsung,” tegas Erma.
Selama ini, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mendorong inovasi dan pengembangan bioenergi berbasis sawit untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi fosil, memperbaiki neraca perdagangan minyak dan gas, mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), serta memitigasi pemanasan global dan perubahan iklim.
Salah satu upaya BPDP dalam mendukung inovasi teknologi dan produk biogas POME dilakukan melalui program Grant Riset Sawit (GRS).
Dukungan pendanaan tersebut diberikan secara menyeluruh, mulai dari desain, instalasi, produksi, hingga pengujian pada kendaraan.
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung menegaskan potensi energi dari biogas berbasis limbah kelapa sawit sangat besar.
Ia merinci, setiap satu ton POME dapat menghasilkan sekitar 28,8 meter kubik (m³) biogas melalui penerapan teknologi methane capture.
Dengan potensi POME sekitar 125 juta ton per tahun, Indonesia secara keseluruhan berpotensi menghasilkan sekitar 3,6 miliar m³ biogas setiap tahun.
Baca juga : Minyak Sawit Merah Dinilai Berpotensi Tingkatkan Gizi dan Ekonomi Desa
“Biogas ini dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, baik untuk memenuhi kebutuhan listrik pabrik, perumahan karyawan, kantor, maupun masyarakat di sekitar pabrik kelapa sawit. Selain itu, biogas dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gas rumah tangga,” ujarnya.
Tungkot menyatakan, diperlukan kebijakan nasional untuk mengoptimalkan pemanfaatan biogas berbasis POME di Indonesia.
Saat ini, pemanfaatan POME untuk biogas baru mencapai sekitar 15 persen dari keseluruhan potensi yang tersedia. Ia mengusulkan tiga kebijakan utama, yakni pemberlakuan perdagangan karbon berbasis sawit, khususnya POME.
Ketiga yakni, penerapan mandatori methane capture di setiap pabrik kelapa sawit dengan dukungan insentif investasi; serta penerapan mandatori pencampuran biogas dengan gas fosil untuk kebutuhan energi di Indonesia.
“Jika ketiga kebijakan tersebut dapat dilakukan di Indonesia, saya yakin semua PKS akan membangun methane capture dan hasilnya menambah ketersediaan gas, meningkatkan ketersediaan biolistrik, emisi akan berkurang, serta menambah pendapatan baru bagi pabrik kelapa sawit,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.