RM.id Rakyat Merdeka - Pinjaman Dalam Jaringan (Pindar) kian menjadi alternatif pendanaan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Hingga semester I-2026, pembiayaan Pindar ke sektor UMKM mencapai Rp 35,12 triliun, tumbuh 23,25 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Nilai tersebut setara 33,41 persen dari total pembiayaan Pindar yang mencapai Rp 105,14 triliun per Juni 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agusman mengatakan, pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin pentingnya peran Pindar dalam memperluas akses pendanaan UMKM.
“Industri Pindar memiliki posisi yang semakin penting dalam menyediakan alternatif pendanaan bagi UMKM,” ucap Agusman dalam keterangan resmi yang dikutip, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, penguatan pembiayaan UMKM melalui industri Pindar sejalan dengan kebijakan OJK untuk memperluas akses pembiayaan yang semakin luas dan berkualitas, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Namun, pertumbuhan pembiayaan tersebut perlu diikuti dengan penguatan kualitas industri. Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Entjik S Djafar mengatakan, Pindar tidak cukup hanya tumbuh agresif, tetapi juga harus sehat, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
Baca juga : “Saya Nggak Ikut Politik”
“Masa depan industri ini membutuhkan kolaborasi yang lebih erat dari stakeholders. Seperti Pemerintah, investor, perbankan, ekosistem pendukung, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya,” tegasnya.
Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menilai, Pindar memiliki kontribusi besar terhadap pembiayaan UMKM dan sejalan dengan berbagai program Pemerintah dalam mengembangkan sektor tersebut.
“Industri Pindar harus diberikan ruang yang cukup untuk terus tumbuh dari sisi regulasi, pondasi hukum, serta ekosistem yang mendukung,” katanya.
Di sisi lain, kualitas pembiayaan masih menjadi perhatian. Tingkat wanprestasi atau kredit macet 90 hari (TWP90) industri Pindar tercatat 4,26 persen per Juni 2026.
Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai kondisi tersebut belum menutup peluang pertumbuhan industri. Menurutnya, outstanding pembiayaan Pindar masih berpotensi tumbuh tinggi hingga akhir 2026, terutama karena kebutuhan pendanaan yang belum sepenuhnya terpenuhi.
“Karena memang masih ada credit gap dan permintaan yang tinggi terhadap layanan fintech lending. Termasuk dari segmen UMKM,” ucapnya kepada Rakyat Merdeka.
Baca juga : Tertibkan Perdagangan Di Pinggir & Badan Jalan
Meski begitu, Heru mengingatkan pertumbuhan harus dibarengi perbaikan kualitas kredit. Tingginya kredit macet di sejumlah platform, menurutnya, menunjukkan penyaluran pinjaman belum sepenuhnya diimbangi manajemen risiko yang kuat.
Perlambatan ekonomi, daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, hingga praktik pemberian pinjaman yang terlalu agresif turut mempengaruhi kondisi tersebut.
Risiko gagal bayar juga masih cukup tinggi, terutama pada segmen pinjaman konsumtif tanpa agunan dan peminjam dengan profil risiko menengah ke bawah.
“Kondisi ini menunjukkan model bisnis yang terlalu berorientasi pada pertumbuhan cepat dapat meningkatkan potensi moral hazard, jika tidak diiringi pengawasan ketat,” warning-nya.
Karena itu, Heru mendorong penguatan pengawasan regulator, peningkatan manajemen risiko, serta pemanfaatan teknologi dalam proses penyaluran pinjaman.
“OJK kini semakin aktif memperketat pengawasan, memperkuat aturan manajemen risiko, serta mendorong konsolidasi industri agar hanya platform yang sehat yang bertahan,” katanya.
Baca juga : Napoli Vs Como, Partenopei Incar Start Sempurna
Teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), alternative credit scoring, dan integrasi data dengan ekosistem digital juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan akurasi penilaian kredit.
Heru menilai, Pindar yang berfokus pada pembiayaan produktif UMKM serta memiliki tata kelola yang baik berpotensi tumbuh sehat dan berkelanjutan.
“Berbeda jika dibandingkan dengan model pinjaman konsumtif, yang berisiko tinggi,” tukas Heru. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.