Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Atletico Madrid Tekuk Sevilla 3-1, Baena Borong 2 Gol
- Ini 23 Pemain Timnas U-20 Buat Kualifikasi Piala Asia 2027
- Hasil Liga Inggris: Suprs dan Liverpool Gagal Menang, Everton Imbang
- Juventus Atasi Parma, Bianconeri Tempel Napoli di Puncak Klasemen
- Ini Jurus Kementerian UMKM lahirkan 10 juta Wirausaha Baru
SUPRATMAN
Wartawan Senior
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - “Saya nggak ikut politik, Pak.” Kalimat itu meluncur dari seorang undangan di sela-sela sebuah acara pernikahan, pekan lalu. Dia sedang ngumpul di pojok ruangan bersama dua orang lainnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Diucapkan sambil tersenyum, seolah politik adalah urusan orang lain: politisi, partai, pendukung fanatik, buzzer, atau orang-orang yang gemar berdebat di medsos.
Tapi setelah berbicara tujuh-delapan menit, dia tahu pemimpin mana yang dianggap berhasil. Tahu siapa yang dianggap gagal. Tahu pejabat mana yang cerdas, pencitraan atau dekat dengan rakyat. Tahu siapa yang korup. Tahu video politik yang sedang viral.
Apakah dia memang tidak ikut politik? Atau hanya merasa tidak berpolitik.
Di situlah perubahan penting tentang politik sedang berlangsung.
Baca juga : Tertibkan Perdagangan Di Pinggir & Badan Jalan
Dulu, politik terasa seperti sesuatu yang punya tempat khusus: di media massa, debat di TV, gedung parlemen, kampanye, atau aksi demo.
Sekarang, politik menyelinap ke tempat-tempat yang jauh lebih biasa. Ke grup WhatsApp keluarga. Ke obrolan di warung. Ke video TikTok. Ke percakapan kantor atau di kafe.
Tetapi, banyak orang tetap enggan menyebut dirinya politis. Atau, sengaja membuat dirinya terlihat “tidak berpolitik” supaya tidak terjebak lawan bicara. Mengapa?
Karena politik memiliki reputasi sebagai sesuatu yang melelahkan. Berisik. Memecah pertemanan bahkan keluarga. Membuat orang mudah dicap sebagai pendukung si A atau pembenci si B, seolah tidak ada ruang untuk bersikap obyektif dan independen.
Akhirnya orang memilih mengatakan, “saya nggak ikut politik.”
Baca juga : Napoli Vs Como, Partenopei Incar Start Sempurna
Kalimat itu bisa menjadi semacam jas hujan sosial. Bisa melindungi dari perdebatan. Sama-sama nyaman.
Tetapi ada paradoks di dalamnya.
Dia boleh saja tidak datang ke kampanye. Tidak memasang gambar si calon. Tidak berdebat di medsos. Tidak mengikuti akun partai.
Namun, dia tetap punya pendapat tentang harga beras, jalan rusak, biaya sekolah anak, bansos, makan gratis, koperasi, serta pejabat yang bisa dipercaya. Semua itu adalah politik.
Mereka tidak selalu ingin menjadi partisan. Mereka lebih suka menjadi pengamat. Tidak ingin terlibat terlalu jauh, tetapi tetap ingin tahu. Tidak ingin berteriak, tetapi tetap menilai.
Baca juga : Kenang Schumacher, Ferrari Siapkan Livery Khusus Di Sirkuit Monza
Tampaknya, semakin banyak orang yang tidak ingin “ikut politik”, tetapi ingin “politik bekerja dengan baik”. Jalan diperbaiki. Harga terkendali. Biaya sekolah anak terjangkau. Pelayanan pemerintah tidak menyusahkan.
Ini menjadi tantangan baru bagi politik praktis: pemilih yang tidak merasa dirinya politis belum tentu apatis. Dia mungkin justru sedang mengembangkan bentuk politik baru yang lebih pragmatis. Lebih tenang. Lebih sulit dibaca. Dan, mungkin lebih berbahaya.
Lalu, pada hari pemilihan, dia masuk ke bilik suara. Sendirian. Tidak ada yang tahu apa yang dia pilih atau tidak dipilihnya.
Dan di sana, orang yang sejak awal berkata “saya nggak ikut politik” ternyata membuat salah satu keputusan politik paling penting dalam hidupnya. Pilihannya menentukan arah dan warna politik bangsa ini.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 dan 6, edisi Minggu, 30 Agustus 2026 dengan judul "“Saya Nggak Ikut Politik”"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya