Dark/Light Mode

Banjir Bandang Nepal Tewaskan 472 Orang

Nyangkut Di Pohon Mangga, Saya Selamat

Sabtu, 29 Agustus 2026 07:30 WIB
Aliran lumpur dan material longsoran merendam kawasan permukiman hingga menyisakan kerusakan sepanjang aliran sungai di Nepal. (Foto: Navesh Chitrakar/Reuters)
Aliran lumpur dan material longsoran merendam kawasan permukiman hingga menyisakan kerusakan sepanjang aliran sungai di Nepal. (Foto: Navesh Chitrakar/Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Nepal dan wilayah Tibet, menewaskan 472 orang hingga Jumat (28/8/2026). Korban yang selamat dari dahsyatnya terjangan air, lumpur, dan puing, membagikan beragam cerita pilu dan perjuangannya melewati bencana yang seperti "kiamat" itu.

Seorang buruh asal Nepal, Bibek Kumal, berhasil selamat setelah tubuhnya tersangkut di pohon mangga.

Kumal mengaku pohon mangga itu menjadi penyelamat nyawanya saat tubuhnya terseret derasnya arus. "Seandainya tidak ada pohon mangga, saya pasti sudah hanyut dan mati," ujarnya seperti dilansir Reuters, Jumat (28/8/2026).

Saat bencana terjadi, Kumal tengah bekerja di Bidur, wilayah hilir Distrik Rasuwa, Nepal. Ia berada di dalam sebuah lubang di area pembangunan rumah ketika mendengar suara mendesis dari arah hulu.

Empat rekannya yang berada di atas lubang langsung berteriak dan memintanya segera keluar. Kumal pun bergegas naik dan berlari menyelamatkan diri, tetapi air bah datang hanya beberapa saat kemudian.

Baca juga : KPK Sita Dokumen Pemotongan Pajak

"Saya mulai berlari. Kemudian air bah menerjang dengan dahsyat, seperti gempa bumi," kata Kumal.

Arus deras yang membawa lumpur, batu, dan berbagai material menyeret tubuh Kumal. Ia tak mampu melawan derasnya aliran hingga akhirnya tubuhnya tersangkut di sebuah pohon mangga yang berada di jalur banjir.

Kumal segera berpegangan erat pada pohon tersebut sambil menunggu pertolongan. Meski berhasil selamat, ia mengalami cedera pada kaki kanan setelah dihantam air dan batu.

Ia kemudian dibawa ke Pusat Trauma Nasional di Kathmandu untuk mendapatkan perawatan. Kisah Kumal menjadi salah satu cerita selamat di tengah besarnya korban akibat bencana tersebut.

Namun, tidak semua warga memiliki keberuntungan yang sama. Keshav Prasad Baral harus menyaksikan istrinya tersapu arus ketika keduanya berusaha menyelamatkan diri dari rumah yang mulai dikepung lumpur.

Baca juga : Djoko Setijowarno: Untuk Menekan Angka Kemacetan Sangat Baik

Baral menuturkan, lumpur terus meninggi saat ia dan istrinya tengah beristirahat. Keduanya kemudian berusaha berlari menuju tempat yang lebih tinggi.

Saat menyadari istrinya terseret arus, Baral berusaha meraih tangannya. Namun, derasnya aliran air yang membawa puing membuat sang istri tak dapat diselamatkan.

Baral sendiri baru berhasil dievakuasi menggunakan helikopter sekitar empat hingga lima jam kemudian. "Istri saya masih berada di suatu tempat di bawah lumpur. Dia telah tiada," katanya.

Tragedi serupa dialami Kalpana Malla di Distrik Nuwakot. Ayah, ibu, saudara perempuan, serta anak-anak saudaranya tersapu banjir dan longsor di depan matanya. Kalpana dan putranya berhasil menyelamatkan diri setelah memanjat ke atap rumah.

"Anggota keluarga saya tersapu banjir di depan mata saya," ujar Kalpana.

Baca juga : Francine Eustacia: Kami Menolak Karena Belum Ada Kajian

Kepolisian Nepal melaporkan sedikitnya 469 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Sementara tiga korban lainnya dilaporkan tewas di wilayah Tibet, China.

Selain korban meninggal, lebih dari 1.400 orang masih dinyatakan hilang di Nepal. Otoritas China juga melaporkan 558 orang hilang di Gyirong, Tibet, termasuk 260 warga negara asing.

Distrik Rasuwa menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah. Lumpur dan puing menutup sejumlah kawasan dengan ketebalan mencapai sekitar 1,5 meter.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyampaikan duka cita dan simpati atas bencana yang melanda Nepal dan Tibet. Indonesia menyatakan solidaritas kepada Pemerintah dan masyarakat kedua negara, terutama keluarga korban dan warga yang terdampak.

"Indonesia menyampaikan duka cita dan simpati yang mendalam atas bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di wilayah Gyirong, Wilayah Otonomi Xizang, RRT, dan Distrik Rasuwa, Provinsi Bagmati, Nepal, pada 26 Agustus 2026," tulis Kemlu RI melalui akun X resminya. [FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.