RM.id Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah pada awal perdagangan Senin melemah 0,12 persen atau 32 poin menjadi Rp 17.790 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (18/9/2026) sebesar Rp 17.758 per dolar AS.
Pergerakan mata uang kawasan Asia terhadap dolar AS bervariasi. Yen Jepang menguat 0,10 persen, won Korea Selatan naik 0,22 persen, ringgit Malaysia menguat 0,14 persen, dan baht Thailand naik 0,15 persen.
Sementara itu, indeks dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama menguat 0,05 persen ke level 99,97.
Baca juga : Rupiah Menguat Ke Rp17.729, Harga Minyak Jadi Sentimen
Di sisi lain, rupiah menguat terhadap poundsterling Inggris sebesar 0,27 persen ke level Rp 23.796. Terhadap euro, rupiah stagnan di level Rp 19.835, sedangkan terhadap dolar Australia menguat 0,42 persen menjadi Rp 12.662.
Analis pasar uang Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah terjadi seiring dengan kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury).
“Kenaikan yield tersebut dipengaruhi prospek suku bunga Bank Sentral AS atau The Fed yang lebih tinggi,” katanya, Senin.
Baca juga : Rupiah Makin Loyo, Dibuka Rp 17.763 Per Dolar AS
Menurut dia, perkembangan tersebut turut menjadi perhatian Bank Indonesia (BI), terutama menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu pekan ini.
“Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah naiknya imbal hasil obligasi AS oleh prospek kenaikan suku bunga The Fed yang memberikan tekanan pada BI menjelang RDG BI,” ujarnya.
Lukman memproyeksikan rupiah pada perdagangan Senin bergerak dalam rentang Rp 17.700 hingga Rp 17.850 per dolar AS.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.