RM.id Rakyat Merdeka - Perkembangan Danantara dalam dua tahun terakhir menunjukkan hasil menggembirakan. Penataan dan konsolidasi yang dilakukan membuat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) makin sehat, produktif dan berdampak nyata terhadap perekonomian nasional. Danantara pun siap jadi lokomotif baru pertumbuhan ekonomi.
Hal tersebut disampaikan Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria dalam acara Executive Breakfast Meeting “Dua Tahun Danantara” yang digelar di The Tribrata Hotel, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Acara tersebut digelar Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran (Fikom Unpad). Hadir dalam acara Dekan Fikom Unpad Nindi Aristi dan Ketua Ikatan Alumni Fikom Unpad Hendri Satrio dan sejumlah pemimpin media nasional.
Dony mengatakan, melalui Danantara, BUMN dapat berjalan dengan mekanisme korporasi yang terjalin satu sama lain.
Sehingga deviden dari BUMN yang sehat bisa digunakan untuk memperkuat BUMN lain yang membutuhkan. Di samping itu, deviden tersebut juga bisa digunakan untuk investasi.
Sebelum ada Danantara, mekanisme yang tersedia hanya melalui Penyertaan Modal Negara (PMN).
Baca juga : Kemarau, Sampah & Rumput Kering Mudah Tersambar Api
Namun, pemberian modal lebih banyak disesuaikan dengan kemampuan fiskal. Bukan pendekatan korporasi. Seperti business plan, return on investment (ROI), dan kebutuhan perusahaan.
Presiden Prabowo Subianto membangun Danantara dengan tujuan untuk mengonsolidasikan BUMN, memperbaiki tata kelola BUMN menjadi lebih terintegrasi dan profesional. Juga penting, Danantara bisa menjadi mesin pertumbuhan baru di luar fiskal Pemerintah.
Dony menjelaskan, ada dua mesin pertumbuhan ekonomi. Yakni fiskal dan nonfiskal melalui Sovereign Wealth Fund (SWF). Mesin fiskal bersumber dari penerimaan negara. Pajak maupun nonpajak. Sementara mesin nonfiskal dijalankan melalui SWF untuk mendorong investasi.
Sejumlah negara sudah memiliki SWF. Contohnya, Singapura dengan Temasek, dan Malaysia dengan Khazanah. Di Qatar ada Qatar Investment Authority, dan China dengan China Investment Corporation.
Kata Dony, Indonesia membutuhkan mesin pertumbuhan baru karena ruang fiskal pemerintah sangat terbatas. Karena itu, Danantara dibangun sebagai State-Owned Enterprise-based Sovereign Wealth Fund. Dengan konsolidasi yang dilakukan, Dony menargetkan dividen BUMN dapat mencapai Rp 160 triliun per tahun. Dengan skema leverage 10 kali, dividen tersebut secara teoritis dapat menopang kapasitas investasi hingga Rp 1.600 triliun. Kapasitas investasi bisa semakin besar jika dikombinasikan dengan skema project financing.
“Jika skema ini dijalankan dengan benar, Indonesia punya kapasitas investasi yang sangat kuat tanpa perlu selalu bergantung pada investor luar negeri,” katanya.
Baca juga : Portugal Tajam Tanpa Ronaldo
Dony menjelaskan berbagai upaya yang dilakukan Danantara. Misalnya melakukan penyederhanaan BUMN melalui strategi streamlining. Dari 1.074 perusahaan akan dipangkas menjadi sekitar 200-250 perusahaan yang lebih sehat dan kuat.
Penyederhanaan dilakukan melalui empat langkah. Yakni likuidasi perusahaan yang sudah tidak layak, divestasi usaha noninti, konsolidasi atau merger perusahaan sejenis, serta restrukturisasi perusahaan yang masih memiliki prospek.
Kata Dony, hasil penyederhanaan BUMN tersebut sudah memperlihatkan hasil yang menggembirakan. Di Pupuk Indonesia, perubahan model bisnis disebut mampu menekan harga pupuk sekitar 20 persen dan meningkatkan laba hampir 300 persen. “Delapan pabrik pupuk juga tengah diperbarui,” ungkap Dony.
Dia mencontohkan penataan di lingkungan Pertamina juga memperlihatkan hasil yang baik. Patra Niaga, Pertamina International Shipping (PIS), dan Kilang Pertamina Internasional (KPI) sebelumnya menjalankan sejumlah aktivitas secara terpisah. Setelah dilakukan konsolidasi, Dony menyebut keuntungan Patra Niaga meningkat sekitar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 15 triliun dalam enam bulan.
“Efisiensi tersebut, antara lain berasal dari pemangkasan rantai transaksi dan margin antar-anak usaha,” ungkapnya.
Dony menjelaskan penyederhanaan BUMN terus berjalan. Rencananya, empat perusahaan aset manajemen BUMN akan dikonsolidasikan menjadi satu. Sebanyak 23 perusahaan kawasan industri juga diarahkan menjadi satu perusahaan besar. Konsolidasi dilakukan pula terhadap perusahaan asuransi, hotel, transportasi, dan BUMN Karya.
Baca juga : Injak Usia 45 Tahun, Adrenalin Alonso Masih Menyala
Sementara di sektor gas, PGN diarahkan memperluas jaringan gas rumah tangga untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG dan menghemat devisa.
Dony mengatakan, penataan BUMN ditujukan untuk memperbaiki tata kelola dan meningkatkan keuntungan perusahaan negara. Hasilnya kemudian dapat diinvestasikan kembali untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja.
“Tujuan akhirnya adalah mengembalikan tata kelola BUMN yang sehat, memberikan return maksimal yang dapat diinvestasikan kembali untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Dony.
Selain menyederhanakan jumlah BUMN, kata Dony, Danantara juga mendorong tumbuhnya investasi. Salah satunya dengan proyek hilirisasi. Dony menyebut 21 proyek hilirisasi yang telah memasuki tahap groundbreaking. Dan diharapkan menjadi mesin pertumbuhan baru ekonomi nasional. [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.