RM.id Rakyat Merdeka - Pengembangan energi terbarukan menjadi bagian penting dalam agenda transisi energi Indonesia, seiring dengan peningkatan kebutuhan energi bersih dan rencana pengembangan kapasitas energi terbarukan dalam skala besar. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), lebih dari 117 mini-grid Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) telah dikembangkan untuk memperluas akses energi bagi masyarakat.
Di balik perkembangan tersebut, keberlanjutan sistem energi terbarukan tidak hanya ditentukan infrastruktur yang telah terpasang. Sejumlah sistem masih menghadapi tantangan dalam operasi dan pemeliharaan, yang menunjukkan pentingnya penguatan kapasitas teknis dan kelembagaan bagi operator serta pengelola di tingkat lokal.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Society of Renewable Energy (SRE) Indonesia bersama Global Energy Alliance for People and Planet (GEAPP) menjalankan program Renewable Energy Access for the Last Mile (REAL), dengan dukungan International Renewable Energy Agency (IRENA), Ministry of Foreign Affairs of Denmark, serta Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral NTB. REAL menggabungkan pemetaan kondisi pembangkit dan pemangku kepentingan, kajian model bisnis dan studi kelayakan, pengembangan kapasitas lokal, hingga penyusunan rekomendasi rehabilitasi sistem energi terbarukan. Di NTB, program ini berfokus pada sembilan sistem energi terbarukan yang terdiri atas lima PLTMH dan empat PLTS.
Baca juga : Tempuh Perjalanan 16 Jam, Relawan Muda Bawa Bantuan Untuk Korban Karhutla Kalbar
Salah satu elemen penting dalam REAL adalah Training of Trainers (ToT) yang dirancang untuk membangun jejaring pelatih dan pendamping lokal yang dapat meneruskan pengetahuan serta mendukung operator dan pengelola energi terbarukan berbasis komunitas di NTB. Dalam rangkaian ToT, SRE Indonesia berkolaborasi dengan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Koservasi Energi (PPSDM KEBTKE), Kementerian ESDM untuk memperkuat kompetensi teknis peserta, serta dengan Research and Development for Societal Impact (RDSI), Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada untuk memperkuat kapasitas pada aspek organisasi dan manajemen komunitas.
Rangkaian pelatihan dilaksanakan melalui tiga jalur yang saling melengkapi. Pelatihan dan Sertifikasi Operasi dan Pemeliharaan PLTS dilaksanakan di Jimbaran, Bali, 28 September–2 Oktober 2026. Sementara, Pelatihan dan Sertifikasi Operasi dan Pemeliharaan PLTMH serta Community Organization & Management Training dilaksanakan di Mataram, NTB, pada 5–9 Oktober 2026.
Jalur PLTS dan PLTMH memperkuat kemampuan peserta dalam pengoperasian sistem, pemeliharaan, keselamatan kerja, troubleshooting, serta kompetensi teknis lainnya yang diperlukan untuk menjaga kinerja pembangkit. Sementara itu, jalur Community Organization & Management melengkapi kemampuan teknis tersebut melalui penguatan tata kelola, pengelolaan keuangan, pelibatan pemangku kepentingan, dan kemampuan fasilitasi masyarakat.
Baca juga : Komisi XII DPR Susun Naskah Akademik RUU Perubahan Iklim
Penguatan kapasitas teknis dan kelembagaan secara bersamaan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan sistem energi terbarukan. Menjaga pembangkit tetap beroperasi hanyalah satu bagian dari tantangan; kapasitas lokal juga diperlukan untuk membangun tata kelola yang efektif, meneruskan pengetahuan, dan memastikan sistem energi tetap mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Country Director Indonesia Global Energy Alliance for People and Planet Rizky Fauzianto menyatakan, perluasan akses energi terbarukan membutuhkan kapasitas lokal yang kuat agar sistem dapat terus beroperasi secara efektif dalam jangka panjang. Melalui program REAL, pihaknya bekerja bersama para mitra untuk memperkuat kemampuan teknis maupun manajerial yang dibutuhkan di tingkat komunitas, sekaligus membangun jejaring pelatih yang dapat terus meneruskan pengetahuan tersebut secara lokal.
“Pendekatan ini membantu memastikan sistem energi terbarukan didukung oleh keterampilan, kelembagaan, dan kepemilikan lokal yang diperlukan untuk memberikan manfaat jangka panjang,” ujar Rizky, dalam keterangan yang diterima redaksi, Minggu (11/10/2026).
Baca juga : KLH Jembatani Energi Sampah Dan Industri
Secara keseluruhan, rangkaian ToT REAL melibatkan 37 peserta, terdiri atas 12 peserta jalur PLTS, 11 peserta jalur PLTMH, dan 14 peserta jalur Community Organization & Management. Sebanyak 22 peserta berasal dari Pulau Lombok dan 15 peserta dari Pulau Sumbawa, dengan keterwakilan perempuan sekitar 32% dari keseluruhan peserta. Para peserta berasal dari beragam latar belakang, mulai dari guru SMK, dosen dan akademisi, praktisi energi terbarukan, hingga pendamping dan pengelola organisasi masyarakat.
“Harapannya, keberadaan pelatih dan pendamping lokal yang telah dibekali kompetensi teknis, manajemen, dan kemasyarakatan secara terintegrasi dapat menjadi kunci bagi keberlanjutan sistem mini-grid di Nusa Tenggara Barat,” ujar Chairperson SRE Indonesia Reiner Nathaniel.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.