Dark/Light Mode

Tempuh Perjalanan 16 Jam, Relawan Muda Bawa Bantuan Untuk Korban Karhutla Kalbar

Sabtu, 10 Oktober 2026 07:24 WIB
Penyerahan Simbolis yang diberikan langsung oleh Gamma Thohir (pemegang papan donasi sebelah kiri), Zagy Berian (pemegang papan donasi sebelah kanan), Mahasiswa Universitas Tanjung Pura melalui Zoom. Foto: Desabumi/SRE Indonesia
Penyerahan Simbolis yang diberikan langsung oleh Gamma Thohir (pemegang papan donasi sebelah kiri), Zagy Berian (pemegang papan donasi sebelah kanan), Mahasiswa Universitas Tanjung Pura melalui Zoom. Foto: Desabumi/SRE Indonesia

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejumlah relawan muda siap menempuh perjalanan sekitar 16 jam melalui jalur darat dan laut untuk menyalurkan bantuan senilai Rp 100 juta kepada masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Melalui kolaborasi Desabumi, Society of Renewable Energy (SRE) Indonesia, para relawan, dan donatur, bantuan tersebut dijadwalkan disalurkan pada 10–13 Oktober 2026.

Kegiatan kemanusiaan itu diawali dengan seremoni pelepasan relawan dan penyaluran bantuan secara hibrida pada Jumat (9/10/2026), yang menghubungkan peserta di Titik Temu Agora, Jakarta, dengan relawan, petugas pemadam kebakaran, mahasiswa, dan masyarakat terdampak di Kalimantan Barat melalui Zoom. Aksi tersebut berlangsung ketika Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat masih memperpanjang status tanggap darurat karhutla hingga 18 Oktober 2026 akibat kebakaran di sejumlah wilayah dan potensi kabut asap.

Bantuan akan didistribusikan ke Pulau Datok, Kabupaten Kayong Utara, serta Desa Ulak Medang, Kabupaten Ketapang, dengan melibatkan relawan Desabumi dan Komunitas SRE Tanjungpura. Perjalanan dari Pontianak menuju lokasi membutuhkan persiapan fisik, koordinasi logistik, dan pengaturan transportasi untuk menghadapi tantangan geografis serta keterbatasan infrastruktur.

Baca juga : Peduli Korban Karhutla Kalbar, Gamma Thohir Kerahkan Bantuan Dan Relawan Muda

Paket bantuan mencakup sembako dan kebutuhan dasar masyarakat, logistik, serta transportasi untuk mendukung distribusi. Para relawan juga menyiapkan kegiatan sosial dan hiburan sederhana guna memberikan dukungan moral kepada warga yang menghadapi dampak kebakaran.

Dalam dialog sebelum keberangkatan, petugas pemadam kebakaran menjelaskan bahwa karakteristik lahan gambut menjadi salah satu tantangan utama penanganan karhutla. Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan muncul kembali di lokasi berbeda, sehingga pemantauan, patroli rutin, dan deteksi dini diperlukan untuk mengantisipasi kebakaran berulang.

Dampak asap turut dirasakan mahasiswa Universitas Tanjungpura, Astika Dwi Wulandari. Ia menceritakan bahwa asap mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari, bahkan sulit dihindari ketika berada di dalam ruangan; karena itu, ia mengapresiasi kebijakan kampus yang memberikan kesempatan pembelajaran jarak jauh untuk melindungi mahasiswa.

Baca juga : Karhutla Kembali Membara, Malaysia Ngomel-ngomel

Pendiri Desabumi, Gamma A. Thohir, mengatakan pengalaman warga dan petugas di lapangan memperlihatkan pentingnya solidaritas lintas daerah. Ia mengibaratkan masyarakat sebagai satu tubuh yang setiap bagiannya saling membutuhkan ketika menghadapi kesulitan.

“Ketika saudara-saudara kita di Kalimantan Barat mengalami kesulitan, kita yang berada di Jakarta ataupun daerah lain harus ikut peduli. Kita ini satu keluarga besar, satu bangsa,” ujar Gamma.

Pendiri SRE Indonesia, Zagy Berian, menekankan bahwa kepedulian harus disertai pengelolaan bantuan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia mengingatkan bahwa dana dan dukungan yang dihimpun dari masyarakat membawa kepercayaan yang harus dijaga sejak persiapan hingga bantuan diterima warga.

Baca juga : Hotspot Karhutla Naik, Kemenhut Perkuat Operasi Pemadaman

“Ada banyak doa dan harapan yang dititipkan masyarakat kepada teman-teman relawan. Karena itu, tugas kita bukan hanya memastikan bantuan sampai, tetapi juga menjaga kepercayaan tersebut dengan penuh tanggung jawab,” kata Zagy. Ia berharap bantuan tersebut dapat memenuhi kebutuhan dasar warga sekaligus memberi keyakinan bahwa mereka tidak menghadapi situasi sulit sendirian.

Ketua Tim Relawan, Tiara, mahasiswa tingkat akhir Universitas Tanjungpura, mengatakan tim telah mempersiapkan kegiatan kemanusiaan selama empat hari, termasuk kesiapan fisik, komunikasi dengan masyarakat, dan kegiatan untuk membangkitkan semangat warga. Aksi ini diharapkan tidak hanya meringankan kebutuhan mendesak, tetapi juga memperkuat kepedulian generasi muda terhadap masyarakat terdampak bencana.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.