RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah menyiapkan gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif gas minyak cair atau Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk mengurangi ketergantungan impor energi. Langkah ini juga untuk menekan beban subsidi yang membengkak di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, subsidi LPG meningkat dari Rp 87 triliun menjadi hampir Rp 100 triliun.
“Ini terjadi ketika rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) naik dari 70 dolar AS (Rp 1,2 juta) menjadi 90 dolar AS hingga 100 dolar AS (Rp 1,8 juta) per barel,” ujar Bahlil dalam peresmian Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026).
Menurut Bahlil, kenaikan beban subsidi tersebut tidak terlepas dari ketidakpastian geopolitik. Termasuk konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran, perang Rusia-Ukraina, serta meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Kondisi itu memicu ketidakpastian pasokan energi global dan mendorong berbagai negara memperkuat ketahanan energi domestik.
“Hampir semua dunia sekarang berpikir bagaimana bisa mengamankan sektor energi mereka dari dalam negeri masing-masing. Ini tantangan kita,” kata Ketua Umum Partai Golkar itu.
Baca juga : Ribuan Gen Z India Goyang Kursi Modi
Menurut Bahlil, teknologi CNG bukan hal baru di Indonesia karena telah digunakan oleh sejumlah restoran dan hotel. Selain memanfaatkan sumber gas yang tersedia di dalam negeri, CNG memiliki keunggulan dari sisi harga.
“Harganya lebih murah 30 persen sampai 40 persen dan memakai gas jenis C1, C2. Itu melimpah di negara kita,” ucapnya.
Meski demikian, penerapan CNG secara lebih luas masih memerlukan persiapan. Terutama untuk penggunaan tabung berkapasitas tiga kilogram yang banyak digunakan rumah tangga.
Saat ini, Pemerintah masih menguji penggunaan tabung tersebut. Sedangkan tabung berkapasitas 12 kilogram telah digunakan.
“Ini strategi bagaimana kita melahirkan substitusi impor,” imbuhnya.
Bahlil mengatakan, pengembangan CNG diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap anggaran negara ketika harga energi global meningkat. Meski penerapannya membutuhkan kesiapan infrastruktur, standar keselamatan, sistem distribusi, serta kemudahan akses bagi masyarakat agar dapat menjadi pilihan energi yang terjangkau.
Baca juga : Ummi Quary, Dilarang Ibunda Lakoni Adegan Syur
Di kesempatan terpisah, Bahlil meninjau penyediaan listrik di Desa Muara Baru, Cilamaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026).
Dia menjelaskan, wilayah tersebut sebelumnya telah memiliki akses listrik. Namun, tegangan yang diterima masyarakat masih rendah, sehingga pasokan listrik belum optimal.
Untuk mengatasi persoalan itu, Pemerintah memperkuat infrastruktur melalui penambahan transformator dan pemasangan tiang listrik.
Selain meningkatkan kualitas pasokan listrik, Pemerintah juga membantu rumah tangga yang belum memiliki sambungan listrik sendiri.
Menurut Bahlil, sebagian warga selama ini terpaksa menyambungkan aliran listrik dari rumah tetangga karena keterbatasan biaya pemasangan sambungan listrik.
“Karena itu, program BPBL (Bantuan Pasang Baru Listrik) diberikan untuk membantu masyarakat memperoleh sambungan listrik mandiri. BPBL adalah bantuan pasang langsung. Sementara kalau listrik desa, itu desa yang sama sekali belum ada listrik,” jelas Bahlil.
Baca juga : Dirut PLN Diganti, Listrik Jangan Blackout Lagi
Bahlil menambahkan, persoalan akses listrik tidak hanya terjadi di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T). Tetapi juga masih ditemukan di sejumlah wilayah di Pulau Jawa.
Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendataan yang lebih menyeluruh agar Pemerintah dapat menentukan wilayah dan rumah tangga yang membutuhkan intervensi. NOV
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Sabtu, 17 Oktober 2026 dengan judul "Kurangi Ketergantungan Impor Subsidi LPG Membengkak, Pemerintah Siapkan CNG"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.